Ahmad Firzan Alfarizi

Ketika Niat Mulia Berbuah Masalah: Analisis Fikih atas Praktik Khidmah Santri terhadap Sandal Asatidz

Di sebuah pondok pesantren terdapat para santri yang memiliki semangat khidmah (melayani) yang sangat tinggi kepada para ustadz. Setiap kali ada ustadz datang ke masjid dan melepaskan sandal di luar masjid, para santri dengan sigap membalik posisi sandal tersebut agar ketika ustadz pulang lebih mudah memakainya tanpa perlu membalik sandal terlebih dahulu. Sebagian santri juga ada yang memindahkan sandal ustadz ke tempat yang dianggap lebih layak, lebih rapi, atau lebih aman. Namun, setelah sandal tersebut dibalik atau dipindahkan oleh santri, terdapat beberapa sandal milik para asatidz yang kemudian hilang. Pertanyaan: Jawaban: Sub a: (Hukum Perbuatan) 1. Memindahkan sandal Dianggap ghasab karena ada unsur istila’ berupa mengangkat sandal tersebut. Namun tidak berdosa jika ada kerelaan dari pemilik sandal karna meninjau urf yang berlaku 2. Membalikkan sandal   Tidak termasuk ghasab selama tidak ada praktik mengangkat sandal. Karena hanya sekadar membalik, dan tidak berdosa. Sub b: (Kewajiban Mengganti) 1. Jika sandal diangkat/dipindahkan    Wajib mengganti jika Ternyata ustadz yang bersangkutan Tidak rela 2. Jika hanya menggeser tanpa mengangkat     Tidak wajib mengganti. Refrensi: قَوْلَهُ: وَمَحَلُّ اشْتِرَاطِ نَقْلِ الْمَنْقُولِ عِبَارَةُ الْعُبَابِ وَنَقْلُ الْمَنْقُولِ كَالْبَيْعِ وَقَضِيَّتُهَا أَنَّ مُجَرَّدَ رَفْعِ الْمَنْقُولِ الثَّقِيلِ وَإِنْ وَضَعَهُ مَكَانَهُ لَا يَكُونُ غَصْبًا بِخِلَافِ الْخَفِيفِ الَّذِي يُتَنَاوَلُ بِالْيَدِ اهـ. سم عَلَى حَجّ وَقَضِيَّتُهُ أَيْضًا أَنَّ النَّقْلَ إلَى مَوْضِعٍ يَخْتَصُّ بِهِ الْمَالِكُ لَا يَكُونُ غَصْبًا لَكِنْ مَرَّ فِي بَابِ الْمَبِيعِ قَبْلَ قَبْضِهِ أَنَّ عَدَمَ صِحَّةِ الْقَبْضِ بِذَلِكَ إنَّمَا هُوَ فِي عَدَمِ جَوَازِ التَّصَرُّفِ لَا فِي عَدَمِ الضَّمَانِ وَقِيَاسُهُ هُنَا أَنْ يَكُونَ ضَامِنًا فِي الْمَسْأَلَتَيْنِ لِحُصُولِ الِاسْتِيلَاءِ اهـ. وَيُؤْخَذُ مِنْ مَسْأَلَةِ رَفْعِ السَّجَّادَةِ أَنَّهُ لَوْ رَفَعَ طَرَفَ الْمَنْقُولِ بِيَدِهِ عَنْ الْأَرْضِ، وَلَمْ يَنْفَصِلْ لَا يَكُونُ غَاصِبًا وَلَا ضَامِنًا  و أفتى النووي بجواز الصلاة في أرض مملوكة للغير لا زرع فيها لعدم التضرر بذالك,كاتيمم بترابها إذا علم بقرينة حال أو عرف مطرد أن مالكها لا يكره ذلك , قال السمهودي:واطراد العرف بعدم الكراهة كاف في الجواز وإن كانت الأرض لنحو صبي اه مجموعة الحبيب طه (وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ وَإِلَّا فَلَا.

Ketika Niat Mulia Berbuah Masalah: Analisis Fikih atas Praktik Khidmah Santri terhadap Sandal Asatidz Read More »

The Power Of Networking

By : Nawawi (Malaysia) Networking atau lebih mesra dikenal sebagai wasilah yang berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu dari ( وَسَلَ – يَسِلُ – وَسْلاً/وَسِيْلَةً ) , yang berarti menyampaikan, menghubungkan, atau menyambungkan satu hal ke hal lainnya. Adapun dari segi istilah media, sarana, atau jalan yang digunakan seseorang hamba kepada Allah SWT guna mendapatkan keridaan-Nya atau agar doa-doanya dikabulkan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai dalil shahih,diantaranya: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣٥ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung. Ditnjau dari dalil diatas, ini menunjukkan bahawanya wasilah dan networking mempunyai esensi yang sama; dimana keduanya menolak sifat sombong dan mengutamkan silaturrahmi. Adapun yang mengbedakan diantara keduanya adalah: Diantara bukti nyata dari kedahsyatan “Networking Langit” tersebut ialah diambil dari kisah yang diceritakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat tentang tiga orang pemuda sedang melakukan perjalanan jauh (musafir) bersama-sama. Di tengah perjalanan, cuaca buruk menimpa sehingga mereka terpaksa mencari tempat berlindung untuk bermalam. Mereka menemukan gua di kaki gunung dan masuk kedalam nya. Disini Tuhan berkehendak untuk menutup mulut gua itu dengan batu raksasa yang jatuh tepat kearahnya. Suasana menjadi sangat gelap gulita dan kedap tanpa celah untuk keluar sedikit pun. Mereka berusaha menggeser batu raksaasa itu namun sekeras apa pun mereka mendorong, batu besar itu tetap bergeming mengunci mulut gua. Ketika keputusasaan hampir menghampiri karena tahu tidak ada satu pun manusia yang bisa menolong, salah satu dari mereka mengusulkan untuk berdoa langsung kepada Allah SWT, dengan menjadikan amal paling ikhlas dalam hidup mereka sebagai Wasilah (Networking Langit). Pemuda pertama maju melangkah di tengah keheningan gua yang mencekam, ia mengetuk pintu langit sembari mengisahkan tentang bakti yang luar biasa kepada ibu bapanya yang sudah lansia. Setiap hari, ia bekerja sebagai seorang pengembala dan selalu mendahulukan orang tuanya untuk meminum hasil perahannya, bahkan sebelum anak, istri, maupun budaknya sendiri tersentuh minuman tersebut. Hingga suatu hari, sebuah ujian keikhlasan datang ketika ia pulang sangat terlambat akibat mencari tempat gembalaan yang teramat jauh. Sesampainya di rumah, ia mendapati kedua orang tuannya telah tertidur pulas. Didorong rasa cinta dan hormat yang mendalam, ia enggan membngunkan mereka, namun ia juga merasa tabu untuk memberkan susu itu kepada anak-anaknya yang saat itu sedang menangis kelaparan di bawah kakinya. Tanpa mengeluh, ia memilih berdiri tegak memegang gelas susu di samping tempat tidur orang tuannya semalaman suntuk hingga fajar menyingsing demi menunggu mereka terbangun. Mengingat ketulusan ikhtiar itu, di tengah keheningan gua ia pun bersimpuh dalam doanya yang berbunyi: Ya Allah, Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan demikian demi mengharap Rida-Mu maka bukakanlah celah (gua) ini agar kami bisa melihat langit Seketika itu juga, “Networking Langit” menunjukkan keajaibannya; Batu besar yang aslinya menutup penuh mulut gua tersebut kini bergeser sedikit, meskipun celahnya masih telalu sempit bagi mereka untuk melosok keluar. Tatkala gua kembali dalam suasana keheningan, suasana mencekam itu seolah dikuasai oleh detakan jantung yang berdegup kencang. Pemuda kedua melangkah maju di hadapan dinding batu yang menjadi saksi bisu bagi seseorang yang sedang mengetuk pintu langit dengan membawa sebuah investasi takwa yang teramat berat, yakni kemenangannya melawan gejolak hawa nafsu yang membara. Di hadapan sorot cahaya yang menembus celah sempit itu, ia berbisik lirih, menyingkapkan lembaran masa lalunya yang sempat dibutakan obsesi cinta kepada sepupu perempuannya. Ketika tiba suatu masa kemiskinan dan kelaparan mendorong perempuan tersebut untuk mengemis bantuan finansial, hingga memaksanya menjadikan sosok pemuda tersebut sebagai satu-satunya jangkar keselamatannya demi menyambung nyawa. Lembaran uang 120 dinar pun disodorkan ke perempuan tersebut bukan sebagai bantuan tanpa tuntutan, melainkan sebagai alat tukar kehormatan suci sang wanita. Ketika segalanya telah siap dan celah kemungkaran terbuka lebar tanpa ada satu pun mata manusia yang melihat, tepat di titik nadir sang wanita menangis gemetar sambil membisikkan satu kalimat yang memukul hati dan perasaannya: “Takutlah kepada Allah SWT dan janganlah kamu pecahkan cincin keperawanan ini kecuali dengan cara yang sah.” Seketika itu juga, kalimat tersebut mengetuk hatinya laksana ketukan keras yang meruntuhkan ego dan badai syahwatnya. Kini rasa takut dan kehampaan yang mendalam menghantui dirinya kepada Sang Khalik. Tanpa berpikir panjang, ia lebih memilih untuk mundur, bangkit berdiri meninggalkan wanita yang paling dicintainya, dan mengikhlaskan harta ratusan dinar itu dibawa pergi olehnya tanpa menuntut imbalan apa pun. Berwasilah dengan ketakwaan yang mendorongnya ke jalan yang lurus itu, di bawah secercah cahaya ia pun menunduk khusyuk dan berdoa, seakan jiwanya sedang bertemu langsung ke hadapan Tuhannya, lalu ia berkata: “Ya Allah, bukakanlah celah gua ini jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan perbuatan tersebut murni mengharap Rida-Mu.” Hasilnya nyata; investasi takwa tersebut menggerakkan roda Spiritual Networking untuk melakukan keajaibannya menggeser batu raksasa itu untuk kedua kalinya. Meskipun mereka masih tidak bisa keluar dengan geseran kedua ini, namun geseran tersebut memberikan celah udara kepada mereka dan membawa mereka selangkah lebih dekat menuju gerbang keselamatan. Kini celah sudah terbuka, cahaya sudah terpancar menembus kegelapan gua yang pekat. Di bawah sinar yang bakal menentukan takdir mereka, pemuda ketiga pun melangkah maju ke bawah di hadapan barikade batu yang dingin untuk melengkapi misi dari jaringan spiritual yang tersisa. Ia membawa sebuah amal integritas yang sangat mulia—sebuah ikatan universal di mana kejujuran mutlak melahirkan rasa percaya tanpa batas, dan hak orang lain dijaga ketat melampaui ego kepemilikan materi, atau yang lebih dikenal sebagai “High-Trust Networking”. Kisah ini bermula ketika ia bertindak sebagai pemilik modal yang mempekerjakan beberapa buruh di tanahnya. Suatu hari, salah seorang pekerjanya pergi begitu saja sebelum sempat mengambil upah yang menjadi haknya. Di sinilah kejujuran pemuda tersebut diuji. Ia tidak memasukkan uang tersebut ke kantong sendiri sebagai keuntungan pribadinya, justru pemuda tersebut menjadikan uang tersebut sebagai sebuah reinvestasi bagi usahanya dan mengelolanya dengan jujur, karena pemuda tersebut mengetahui bahwa uang tersebut tidak pantas untuk dijadikan santapan sehari-hari. Dari modal yang sekecil itu hingga menjadikan usahanya berkembang pesat dan akhirnya menghasilkan kawanan ternak yang melimpah ruah di sebuah lembah itu. Tahun demi tahun pun berganti, dari yang kecil kini sudah membesar, mantan pekerjanya kembali dalam kondisi ekonomi yang terpuruk. Ia datang kepada

The Power Of Networking Read More »

Evolusi Produktivitas: Melampaui Mitos Kerja Keras Demi Hasil yang Berkelanjutan

By : Shidqi (Lamongan) Kebanyakan orang sedang mempertanyakan tentang penerus generasi pada tahun 2026 sampai 2050, yaitu Gen Z. pakah mereka bisa melestarikan kejayaan dunia yang sedang tidak baik baik saja ini dengan adanya brainrot dan segala penyakit modern lainnya?                 Banyak survey yang menyatakan bahwa generasi yang sedang berperan di atas muka peradaban yang sekarang sudah berumur sekitar 20 abad ini, seakan-akan tingkat produktivitas yang telah di capai oleh generasi sebelumnya merosot hingga 15% hingga 20%.  Menurut riset dan data lapangan hal ini di sebabkan oleh adanya brain rot, burnout, serta adanya penyakit penyakit modern lainnya yang di picu oleh seringnya mengkonsumsi konten konten instan sebagai adanya polusi kognitif yang dapat menyebabkan kesenjangan pola pikir. Baik, biar penulis jelaskan secara singkat mengapa penulis memakai kata “seakan-akan” di dalam pernyataan di atas.  Sebenarnya kurangnya produktivitas Gen Z di sini tidak bisa di katakana sebagai fakta sejarah yang mutlak, melainkan lebih tepatnya kitab isa katakana bahwa ini adalah fenomena pergeseran definisi produktivitas itu sendiri. Dan adanya hasil survei yang di atas adalah dampak dari pemakaian definisi lama sebagai patokan, yang mana definisi ini saya rasa sudah tidak relevan lagi dengan era yang juga bergeser, dari era industri, menjadi era informasi/digital. Untuk memperjelas saya menyebut 2 definisi ini sebagai: Presenteeism (produktivitas “hadir”) yang esensinya adalah menyegalakan visibilitas (sebagai definisi lama di era industri), dan performance-ism (produktivitas “hasil”) yang menempatkan kualitas, relevansi, dan dampak hasil kerja sebagia satu-satunya tolak ukur kesuksesan dari pekerjaan (sebagai definisi baru di era informasi/digital). Dan dengan sebab penilaian yang kurang relevan di mata generasi ini terjadilah fenomena yang di sebut dengan quiet ambition. Fenomena ini muncul sebagai respon organik dari generasi muda  dan para pekerja pada pascapandemi yang menolak budaya kerja keras berlebihan (hustle culture). Hustle culture adalah dimana seorang pekerja di paksa untuk bekerja tanpa lelah dan mengorbankan kesehatan mental juga jam istirahat demi memenuhi target kesuksesan yang semu. Oleh karenanya quiet ambition muncul tidak hanya sebagai bentuk gerakan penolakan hustle culture, tapi juga sebagai solusi serta strategi yang ampuh untuk menjadi produktivitas di era masa gini. Dengan mengutamakan kualitas dan kedalaman skill dalam bidang tertentu dan mengkesampingkan fokus pada kenaikan jabatan atau lamanya waktu dan energi yang di keluarkan. Dengan populernya trend quiet ambition, yang mengutamakan keseimbangan hidup (work-life balance) dan Kesehatan mental, mereka akan terhindar dari burnout, kualitas kerja lebih stabil dengan efisiensi yang tinggi. Tanpa adanya pamer, kerusakan mental, drama sosial ,dan lain-lain.  Quiet ambition adalah di mana Ketika seseorang tahu apa yang harus di cari ketika terlihat jelas polanya. Ketika seseorang tidak memamerkan ambisi mereka di akun media sosial dan kemudian diam-diam membangun pengaruh yang besar atas karirnya. Adam Gramt menjelaskan perbedaan tersebut dengan tepat: “Ambisi adalah Ketika aspirasi melebihi pencapaian…… dan narsisisme adalah Ketika ego melebihi pencapaian”             Maka quiet ambition bukan berarti tidak punya ambisi. Sebaiknya, ini adalah ambisi yang terkalibrasi. Gen Z tidak lagi mengartikan ambisi sebagai “kenaikan pangkat” atau “kerja lembur”, akan tetapi ambisi mereka beralih ke : Oleh karenanya, saat perusahaan atau sistem lama menuntut preseentism dengan bekerja lebih keras dan lebih keras lagi dengan menambahkan jam kerja sehingga melewati batas normal. Maka quiet ambition akan membuat seseorang memilih untuk bekerja secara efisien dan senyap. Mereka tidak akan menentang sesuatu secara terbuka (sehingga dapat memicu konflik dalam  lingkungan kerja), tetapi mereka akan mengalokasikanenergi mereka hanya pada output yang menghasilkan nilai tambah bagi karier jangka panjang mereka. Serta mereka akan memprioritaskan otonomi dalam menentukan ritme kerja dan kompetensi. Kinerja seperti ini di rasa lebih kuat di banding hanya memprioritaskan reward eksternal seperti jabatan dan kedudukan.       Selain menjadi solusi untuk pembaharuan sistem kinerja di era baru ini, quiet ambition juga menjadi penawar dari dampak polusi kognitif. Dengan menerapkan strategi ini seseorang dapat menyaring kebisingan pada laman sosial (noise of social media). Quiet ambition bekerja dengan cara menetapkan batasan ketat pada apa yang layak mendapatkan fokus mental dan mana yang hanya membuang energi kognitif, sehingga mereka tidak terjebak dalam arus konten instan yang hanya memicu kelelahan kognitif. Maka quiet ambition bukan hanya gaya atau strategi bekerja, tapi juga salah satu bentuk seseorang untuk menjaga kedaulatan pikiran dan kesehatan kognitif di tengah dunia yang berisik dengan pengemis validasi. Pada akhirnya, Quiet Ambition adalah pernyataan sikap. Ia bukan tentang menyerah pada kemalasan, melainkan tentang keberanian untuk mendefinisikan ulang apa itu keberhasilan. Saat dunia menuntut kita untuk selalu ‘terlihat’ sibuk, memilih untuk bekerja dalam sunyi demi penguasaan keahlian yang nyata adalah bentuk perlawanan paling cerdas. Kita tidak sedang merosot; kita sedang menata ulang peradaban dengan cara yang jauh lebih manusiawi, lebih terkalibrasi, dan tentu saja, lebih berdaya.

Evolusi Produktivitas: Melampaui Mitos Kerja Keras Demi Hasil yang Berkelanjutan Read More »

CEMBURU ILAHI DI BULAN DZULHIJJAH

By : Nawawi (Malaysia)             Seperti yang kita ketahui perkataan Cemburu itu biasanya identik dengan hubungan antarmanusia. Tapi apakah sama Cemburu manusia sama Cemburu-Nya Allah Taala? Allah SWT berfirman di Surah Ash Shura ayat 11: فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١ (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dan dari sini kita ketahui bahwasanya segala ciptaannya tidak menyurupai penciptanya baik dari segi fisik maupun mental.             Adapun yang disebut cemburu disini seperti perkataannya Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah di dalam kitabnya Al Fawaid beliau menjelaskan : Adapun kecemburuan Allah kepada si hamba yang mencintaiNya, hal ini terlihat dari tidak senangnya Dia tatkala melihat hati hambanya berpaling dari cinta terhadap-Nya kepada yang lainnya. Pasalnya, cinta yang dicurahkan si hamba kepada-Nya menjadi terbagi-bagi dengan kecintaan terhadap sesuatu yang lain.           Lantas, bagaimanakah cara Allah mencemburui hamba-Nya di bulan Dzulhijjah? Jawaban itu terangkum utuh dalam sebuah lembah keikhlasan yang teramat dalam, tempat di mana cinta seorang nabi diiris tipis oleh ujian, memaksa air mata keduniawian luruh di hadapan agungnya Cemburu Sang Pemilik Jiwa.           Seperti yang kita ketahui bahwasanya Nabi Ibrahim A.S sangat menginginkan zuriat yang akan menjadi generasi penerus bagi misi beliau, Sejak awal pernikahan nya dengan Siti Sarah Beliau istiqamah terus berdoa yang mana doa tersebut diabadikan oleh Allah swt di Surah As-Shaffat ayat 100:      رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٠٠ “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” Untaian doa itu menjadi dasar atas harapan besar beliau untuk dikaruniai zuriat yang akan melanjutkan estafet perjuangan Islam. Di tengah penantian yang panjang itu, Skenario Agung sang Pemilik Semesta ternyata memilih jalan cerita yang berbeda; Allah SWT menguji kesabaran mereka dengan belum menghadirkan buah hati dari pernikahan bersama Siti Sarah, ketika Siti Sarah melihat Nabi Ibrahim A.S membutuhkan penerus bagi dakwahnya, dengan ikhlas Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim A.S untuk menikahi pembantunya iaitu Siti Hajar dengan harapan agar memperoleh zuriat yang diinginkan beliau.           Harapan suci itu pun berbuah manis, tidak lama setelah perkahwinan tersebut Allah SWT menitipkan tanda tanda kehidupan di dalam kandungan Siti Hajar. Penantian yang panjang selama 86 tahun itu pun akhirnya menemui titik terangnya apabila lahirnya sang cahaya mata yang didambakan setelah sekian lama yaitu Nabi Ismail A.S, tatkala tangis Ismail kecil memecah rasa kesunyian kebahagian yang meluap dari hati Nabi Ibrahim A.S laksana air bah yang menenggelamkan segala rasa sepi di masa senjanya. Beliau mendakap erat belahan jiwanya itu dengan tangan yang gemetar penuh takjub, lalu dari lisan sepuhnya mengalirlah getaran kalimat Syukur yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran dalam Surah Ibrahim ayat 39: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku, Ismail…’ Para Mufasir lintas zaman bersepakat bahwa kata “Wahhaba” di sini adalah pengakuan bahwa Ismail adalah hadiah cinta paling sunyi yang dikirimkan langit untuk membasahi hatinya. Lumrah hati seorang ayah untuk mengisi masa tua nya dengan mendidiknya dan menjadikan Ismail kecil sebagai singgahsana kebahagiaan beliau, tatkala terlena di balik dekapan kebahagiaan itu, disitulah tercetusnya titik mula cemburu Allah SWT kepada Nabi ibrahim A.S. Pada malam yang sunyi bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih belahan jiwanya iaitu Nabi Ismail A.S, Maka disinilah tercetusnya Hari tarwiyah kerana tatkala di pagi hari itu beliau pun merenung; apakah benar perintah ini langsung datang dari Allah SWT atau dari setan, berlanjut ke malam berikutnya iatu pada malam 9 Dzulhijjah, beliau bermimpi hal yang sama; di pagi harinya beliau merasa yakin bahwa mimpi tersebut datang dari Allah SWT, maka tercetus lah disini nama bagi Hari Arafah, di pagi hari yang sama beliau Nabi Ibrahim A.S langsung menemui Nabi Ismail A.S untuk menanyakan pendapatnya tentang mimpi tersebut, momen ini diabadikan oleh Allah SWT didalam Surah Ash Shaffat ayat 102:    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢ Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” Sementara itu, ada dua poin yang di bahas para mufassir lintas zaman disini:  “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Para mufassir sepakat bahawa pertanyaan Nabi Ibrahim A.S bukanlah sebuah keraguan yang datang dihati beliau melainkan agar perintah yang akan disampaikan tersebut menjadi lebih ringan baginya dan sekaligus untuk menguji kesabaran, ketangguhan, dan kemauan kerasnya ketika masih kecil untuk taat kepada Allah SWT sekaligus taat kepada Ayahnya. “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” Para Ulama bersepakat bahwa kalimat diatas disebut oleh Nabi Ismail A.S sebagai bentuk kencintaan dan ketaatan sebagai seorang hamba kepada Sang Ilahi dan sebagai seorang anak kepada sang ayah  Melalui jembatan dialog ini, kita dapat menyimpulkan bahwa pertanyaan Nabi Ibrahim A.S dan jawaban tegarnya Nabi Ismail A.S itu ialah momentum dimana mereka sedang meruntuhkan ego kemanusiaan mereka demi memenangi “ Cemburu Ilahi “ Yang Maha Kuasa. Ujian yang datang kepada Nabi Ismail A.S bukanlah bentuk kebenciaan Allah SWT kepadanya melainkan untuk membersihkan hati Sang Khalilullah dari segala cinta makhluk yang mulai menyaingi cinta nya kepada Al-Khaliq. Ketika sang anak justru menguatkan sang ayah untuk terus melangkah mereka sepakat menyerahkan segala takhta hati mereka hanya kepada Sang Pencipta. Namun, kerelaan batin ini barulah awal dari pembuktian, karena setelah dialog suci ini usai, mereka harus membuktikannya secara nyata di atas batu ujian yang sesungguhnya, yang lebih tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah kerana pada tanggal tersebut langkah kaki ayah dan anak itu mulai bergerak menuju ke tempat penyembelihan dengan sukarela demi menunaikan segala perintahnya, suasana di Mina ketika itu dilingkupi kesunyian yang amat mencekam saat tubuh Nabi Ismail A.S mula dibaringkan

CEMBURU ILAHI DI BULAN DZULHIJJAH Read More »

Kerinduan yang membuncah

By : Nawawi (Malaysia) Pernahkah kita rindu kepada seseorang, saking rindunya itu sehingga sesak rasanya di dada dan air mata menetes tanpa kita sadari? Bayangkan bagaimana perasaan rindu Nabi Musa A.S kepada Allah SWT yang begitu membuncah sehingga beliau tak sanggup lagi menahan gejolak untuk menatap Zat Sang Ilahi. Disini saya ingin mengajak kalian semua untuk tenggelam sebentar di dalam kerinduannya Nabi Musa A.S, kerinduan yang diabadikan oleh Allah SWT di dalam Surah Al-A’raf ayat 143 yang berbunyi : وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝١٤٣ “Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” dan disini saya akan membagi tiga pembahasan sesuai dengan apa yang diceritakan didalam Tafsir Ibnu Katsir Kerinduan ini bermula ketika Nabi Musa A.S diperintahkan oleh Allah SWT untuk bermunajat di Bukit Tursina dan mendapatkan Firman daripada-Nya. Namun, momen ketika beliau mendengar langsung kalam Allah SWT tanpa perantara malaikat menjadi titik balik yang menggetarkan sanubarinya. Pendengaran itu seketika menyalakan api cinta yang mahadahsyat di dalam dada, menumbuhkan benih rindu yang tak lagi terbendung. Rasa rindu yang begitu membuncah inilah yang akhirnya mengetuk pintu hati sang nabi untuk memohon sebuah permintaan yang teramat agung—sesuatu yang melampaui batas kodrat manusia—yaitu keinginan untuk menatap langsung Zat Sang Ilahi, sebagaimana yang diabadikan dalam potongan ayat berikut: قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Allah SWT pun merespon akan perihal tersebut dengan jawaban-Nya: قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan didalam kitabnya bahwa “    ” لنdisini membawa makna nafi ta’bid (meniadakan sesuatu tersebut selamanya ) menurut kacamata ulama Ahli Bahasa dan hal ini menjadi perdebatan hangat diantara kalangan ulama, jika kita lihat dari pendapat kaum mu’tazilah bahwasanya mereka menakwili ayat tersebut dengan mengatakan bahawasanya Allah itu tidak bisa dilihat di dunia maupun di akhirat dan hal ini jelas bahawasanya pendapat yang telah didatangkan oleh kaum tersebut tersangatlah lemah dan dengan mudah bagi Al-Imam Ibnu Katsir mematahkan argument tersebut dengan mengatakan hal seperti ini telah banyak sabda dari Nabi Muhammad SAW mengatakan bahawasanya orang orang beriman itu akan melihat Allah SWT di akhirat kelak disini saya akan mendatangkan refrensinya langsung dari sumbernya iaitu di Tafsir Ibnu Katsir: وقد أشكل حرف «لن» هاهنا على كثير من العلماء؛ لأنها موضوعة لنفي التأبيد، فاستدل به المعتزلة على نفي الرؤية في الدنيا والآخرة، وهذا أضعف الأقوال؛ لأنه قد تواترت الأحاديث عن  رسول الله ﷺ بأن المؤمنين يرون الله في الدار الآخرة “Kata “لن” (tidak akan) dalam ayat tersebut telah menjadi perdebatan di kalangan para ulama, karena ia berfungsi sebagai penekanan untuk meniadakan. Kaum Mu’tazilah menjadikannya sebagai dalil atas pendapatnya, bahwasanya manusia tidak dapat melihat-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan pendapat kaum Mu’tazilah tersebut merupakan pendapat yang paling lemah, karena banyak sekali hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa orang-orang yang beriman itu akan melihat Allah di akhirat kelak.” Pada hari yang sama iaitu bertepatan di tanggal 10 Dzulhijjah, permohonan tersebut disambut oleh Allah SWT dengan baik dan bijaksana, namun tidak dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung demi keselamatan Nabi Musa sendiri. Ketika Nabi Musa A.S mengarah penglihatannya ke arah Bukit Tursina dan Allah SWT memperlihatkan keagungan-Nya kepada bukit tersebut, apabila terpancar tajalli Allah SWT kepada bukit tersebut maka bukit tersebut hancur luluh bagaikan gundukan tanah yang rata kerana tidak mampu menahan Radiasi Cahaya Ilahi ketika itu, Adapun kondisi Nabi Musa A.S ketika itu jatuh pingsan Kerana tidak mampu menahan radiasi-Nya dan hal ini diabadikan oleh Allah SWT dalam potongan ayat berikutnya yang berbunyi: فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.    Hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir dalam Kitabnya beliau dengan mendatangkan sebuah atsar yang berbunyi: وقال الربيع بن أنس: {فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا}، وذلك أن الجبل حين كشف الغطاء ورأى النور، صار مثل دك من الدكاك. وقال بعضهم: {جعله دكا} أي: فته. “Dan Ar-Rabi’ bin Anas berkata: {Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan}, hal itu karena ketika tabir dibuka dan gunung tersebut melihat cahaya (Ilahi), ia berubah menjadi seperti gundukan tanah yang rata dari gundukan-gundukan yang ada. Dan sebagian ulama berkata: {dijadikannya gunung itu hancur luluh} artinya: Allah menghancurkannya hingga menjadi berkeping-keping (debu).” Disini Bukit Tursina menjadi saksi bisu bahwa dirinya yang kokoh dan kuat itu hancur seketika dalam hitungan detik sahaja apabila Allah SWT memancarkan Tajalli-Nya kepada bukit tersebut dan pingsannya Nabi Musa A.S itu menjadi bukti bahwasanya manusia itu terikat pada hukum alam biologis yang memiliki batas toleransi terhadap energi ekstrem Tatkala kesadaran kembali mengetuk raga Nabi Musa A.S yang masih gemetar hebat. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, taka da lagi kemegahan Bukit Tursina yang tersisa; segalanya telah berubah menjadi debu kelabu yang beterbangan di langit yang biru, yang kini menjadi saksi bisu betapa rapuh Pasak bumi ketika dihamparkan di atasnya sejumlah kecil dari Tajalli-Nya tersebut. Maka bersimpuhlah tubuh yang gemetar hebat itu di balik kesunyian puing-puing Tursina itu, diiringi rasa takzim yang luar biasa kepada Yang Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya, kerinduan yang sempat membakar jiwanya kini melunak menjelma menjadi dekapan tobat yang sarat kepasrashan kepada zat Yang

Kerinduan yang membuncah Read More »

Kunjungan Internasional: Syekh Mustafa Atef Terpukau Kemegahan Perpustakaan Baru Ponpes Dalwa

PASURUAN — Pondok Pesantren Darullughah Waddawah (Dalwa) kembali menjadi magnet bagi tokoh-tokoh Islam internasional. Pada Rabu, 24 Juni 2026, pesantren yang berpusat di Raci, Bangil ini mendapat kehormatan atas kunjungan munsyid kenamaan asal Mesir, Syekh Mustafa Atef. Kehadiran pelantun qasidah legendaris Qomarun tersebut disambut hangat dan langsung oleh Pengasuh Ponpes Dalwa, Abuya Habib Zain bin Hasan Baharun. Gemuruh Qasidah di Panggung Dalwa Aroma spiritual yang kental menyelimuti panggung utama Ponpes Dalwa saat Syekh Mustafa Atef naik ke atas panggung bersama ribuan santri. Pertemuan ini menjadi momen emas yang dipenuhi lantunan qasidah-qasidah indah dan selawat yang menggetarkan hati. Suara merdu Syekh Mustafa Atef yang berpadu harmonis dengan gemuruh suara para santri Dalwa berhasil menciptakan atmosfer syahdu sekaligus penuh semangat mahabbah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Menjelajahi Perpustakaan Dalwa: Integrasi Khazanah Klasik dan Sistem Modern Selepas mengisi acara di panggung utama, Abuya Habib Zain Baharun langsung mengajak Syekh Mustafa Atef menuju salah satu fasilitas kebanggaan terbaru pesantren: Perpustakaan Dalwa. Kunjungan yang berlangsung tepat pada 24 Juni 2026 ini menjadi momen bagi Abuya untuk memperkenalkan wajah baru perpustakaan yang megah dan estetik. Bukan sekadar tempat menyimpan kitab, Perpustakaan Dalwa kini tampil memukau dengan berbagai macam sistem perpustakaan baru yang modern. Beberapa keunggulan sistem baru yang diperkenalkan antara lain: Syekh Mustafa Atef menyampaikan rasa kagum dan apresiasinya yang mendalam. Beliau memuji langkah progresif Ponpes Dalwa yang berhasil mengawinkan keluhuran tradisi keilmuan Islam (turats) dengan kecanggihan sistem teknologi modern. Kunjungan ini menegaskan posisi Ponpes Dalwa bukan hanya sebagai lembaga pencetak kader ulama, namun juga sebagai pusat peradaban dan literasi Islam yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Kunjungan Internasional: Syekh Mustafa Atef Terpukau Kemegahan Perpustakaan Baru Ponpes Dalwa Read More »

Mengasah Ketajaman Berpikir: Perpustakaan Dalwa Gelar Diskusi Seni Debat Berkelas Bersama Gus Wafi

PASURUAN – Perpustakaan Dalwa kembali menjadi pusat intelektual dengan menghadirkan ruang diskusi yang menggugah nalar pada Jum’at, 19 Juni 2026. Mengusung tema yang sangat relevan dengan dinamika komunikasi saat ini, acara bertajuk “Retorika, Dialektika, dan Kekuatan Argumentasi: Seni Debat Berkelas Tanpa Melukai Lawan” sukses menyedot antusiasme para santri dan pegiat literasi. Diskusi yang dimulai tepat pukul 21.00 WIB ini menghadirkan sosok pemikir tajam, Gus Wafi, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Gus Wafi mengupas tuntas bagaimana retorika dan dialektika bukan sekadar alat untuk memenangkan argumen, melainkan seni menyampaikan kebenaran dengan etika dan kedalaman ilmu. Debat sebagai Sarana Pertumbuhan, Bukan Permusuhan Dalam suasana diskusi yang hangat namun kritis di Perpustakaan Dalwa, Gus Wafi menekankan bahwa kekuatan argumentasi yang sesungguhnya terletak pada kemampuan seseorang untuk membedah masalah tanpa harus menyerang pribadi lawan. “Debat yang berkelas adalah debat yang mampu mencerahkan. Kita tidak sedang mencari siapa yang paling lantang, melainkan siapa yang mampu menyusun gagasan secara sistematis dan santun,” ujar Gus Wafi di hadapan para peserta. Panduan Moderator yang Inspiratif Acara ini dipandu dengan sangat apik oleh Ust. Bambang Nurdiyansyah. Selaku moderator, Ust. Bambang berhasil menjaga alur diskusi tetap dinamis, memastikan setiap poin argumen yang disampaikan oleh pemateri maupun peserta dapat tereksplorasi dengan maksimal. Kehadiran beliau memberikan warna tersendiri, menjaga koridor diskusi agar tetap berada pada koridor ilmiah namun tetap asyik untuk diikuti hingga larut malam. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membudayakan tradisi diskusi yang sehat di lingkungan pendidikan, di mana perbedaan pendapat dipandang sebagai kekayaan intelektual, bukan pemicu perpecahan.

Mengasah Ketajaman Berpikir: Perpustakaan Dalwa Gelar Diskusi Seni Debat Berkelas Bersama Gus Wafi Read More »

BREAKING NEWS: Membongkar Seni Debat Berkelas, Perpustakaan Dalwa Siap Gelar Teaser Edukasi Akbar!

Pasuruan – Panggung dialektika dan ketajaman berpikir akan segera berguncang! Perpustakaan Dalwa dalam waktu dekat bakal menyuguhkan sebuah agenda prestisius yang dirancang khusus untuk Anda yang haus akan seni berkomunikasi tingkat tinggi. Mengusung tajuk utama “RETORIKA, DIALEKTIKA, DAN KEKUATAN ARGUMENTASI: Seni Debat yang Berkelas Tanpa Melukai Lawan”, acara ini siap menjadi episentrum keilmuan baru di lingkungan Mabna Abuya Hasan. Menghadirkan Komunikator Lintas Agama Bukan sekadar diskusi biasa, acara ini akan dipandani langsung oleh pemateri karismatik, Gus Wafi (Komunikator dan Edukator Lintas Agama), yang dikenal piawai dalam membedah retorika secara mendalam namun tetap sejuk. Jalannya forum panas penuh edukasi ini juga akan dikawal ketat oleh Ustadz Bambang selaku moderator. “Kekuatan ilmu tidak hanya terletak pada kebenarannya, tetapi juga pada cara menyampaikannya.” Catat Tanggal Mainnya! Bagi Senior Death Q dan seluruh pencinta ilmu yang sudah tidak sabar untuk mengasah skill bicaranya, pendaftaran akan resmi dibuka sebentar lagi! Berikut bocoran detail jadwal pelaksanaannya: Kuota Sangat Terbatas! Ingat, panggung ini tidak terbuka untuk semua orang. Pihak panitia menerapkan sistem Kuota Terbatas hanya untuk 85 Peserta Pertama yang bergerak cepat. Pendaftaran dapat dilakukan langsung melalui Resepsionis Perpustakaan Dalwa. Pantau terus informasi terbarunya dan jangan sampai ketinggalan momentum emas ini. Siapkan argumen terbaik Anda, karena debat berkelas dimulai dari sini!

BREAKING NEWS: Membongkar Seni Debat Berkelas, Perpustakaan Dalwa Siap Gelar Teaser Edukasi Akbar! Read More »

Memperkuat Sinergi Literasi: Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Terima Kunjungan Rektorat UINSA

PASURUAN — Dalam upaya memperluas jejaring kolaborasi serta memperkuat ekosistem literasi di dunia pendidikan tinggi, Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di lingkungan Pondok Pesantren Dalwa menerima kunjungan istimewa dari jajaran Rektorat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Selasa, 5 Mei 2026. Pertemuan ini menjadi momen strategis dalam membangun jembatan kerja sama antarlembaga pendidikan, guna menciptakan iklim akademis yang lebih progresif dan kompetitif bagi para pelajar serta mahasiswa di Jawa Timur. Kedatangan rombongan Rektorat UINSA disambut dengan hangat oleh Al-Ustadz Farid beserta jajaran tim pustakawan di lobi utama perpustakaan. Dalam suasana yang profesional namun penuh keakraban, agenda utama kunjungan ini difokuskan pada observasi terhadap sistem pengelolaan perpustakaan serta pertukaran ide terkait manajemen literasi di era digital. Rombongan delegasi diajak menyusuri setiap ruang koleksi dan fasilitas pendukung yang dimiliki perpustakaan. Mereka secara khusus menaruh perhatian pada integrasi teknologi informasi dalam layanan akses buku serta kenyamanan sarana belajar yang tersedia bagi para santri dan mahasiswa. Kunjungan ini bukan sekadar bentuk silaturahmi formal, melainkan langkah nyata dalam mempererat tali literasi antaruniversitas. Diskusi yang berlangsung di sela-sela peninjauan menunjukkan adanya kesamaan visi antara UINSA dan Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam menempatkan perpustakaan sebagai jantung dari keilmuan dan pusat peradaban intelektual. Al-Ustadz Farid menyampaikan bahwa kehadiran delegasi dari institusi perguruan tinggi negeri ternama ini merupakan kehormatan sekaligus motivasi bagi pengelola perpustakaan untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan ketersediaan referensi. Manfaat utama dari kunjungan ini adalah terbukanya peluang kolaborasi strategis, mulai dari pertukaran akses data, pengembangan sistem perpustakaan, hingga diskusi mendalam mengenai tren literasi masa depan. Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan minat baca serta kualitas riset di kedua belah pihak. Agenda kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan dan komitmen untuk terus bersinergi. Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki senantiasa terbuka untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, menjadikan literasi sebagai bahasa universal yang menyatukan semangat untuk terus mencerdaskan kehidupan bangsa.

Memperkuat Sinergi Literasi: Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Terima Kunjungan Rektorat UINSA Read More »

Menyemai Silaturahmi Lintas Benua: Al-Habib Fahri bin Syihab Kunjungi Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

PASURUAN — Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di lingkungan Pondok Pesantren Dalwa kembali menjadi persinggahan tokoh ulama mancanegara. Pada Minggu, 31 Mei 2026, perpustakaan ini menerima kunjungan istimewa dari Al-Habib Fahri bin Syihab, seorang cendekiawan yang lama menetap dan menempuh studi di Amerika Serikat. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda silaturahmi yang hangat bersama sahabat karib beliau, Mudirul Ma’had, Abuya Habib Zain bin Hasan Baharun. Kehadiran beliau di Dalwa menjadi pemantik semangat sebelum nantinya akan mengisi seminar ilmiah bersama Habib Husein Ja’far Al-Haddar pada malam harinya, serta melanjutkan perjalanan ziarah ke Haul Gresik keesokan harinya. Kedatangan Al-Habib Fahri bin Syihab disambut langsung oleh Abuya Habib Zain bin Hasan Baharun. Dalam suasana yang penuh kekeluargaan, keduanya menyempatkan diri berkeliling meninjau fasilitas Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Sebagai sosok yang memiliki wawasan luas akan perkembangan dunia pendidikan di Barat, Al-Habib Fahri tampak antusias saat menelusuri tiap sudut perpustakaan. Beliau mengamati dengan saksama integrasi fasilitas modern yang ada di dalam gedung tersebut, mulai dari ruang baca yang nyaman hingga infrastruktur pendukung lainnya. Dalam sela-sela kunjungannya, Al-Habib Fahri bin Syihab mengungkapkan kekagumannya yang mendalam terhadap visi pengembangan literasi di Pondok Pesantren Dalwa. Beliau menyoroti bagaimana fasilitas perpustakaan kini telah bertransformasi menjadi ruang yang inklusif dan solutif. “Perpustakaan ini sangat menarik dan visioner. Adanya fasilitas penunjang seperti area kafe yang nyaman untuk berdiskusi serta laboratorium komputer yang canggih menunjukkan bahwa pesantren kini mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” tutur Al-Habib Fahri di sela-sela kunjungannya. Kunjungan ini bukan sekadar peninjauan fisik, melainkan langkah nyata dalam mempererat tali silaturahmi antar-tokoh dan institusi pendidikan Islam. Pertemuan antara Abuya Habib Zain bin Hasan Baharun dan Al-Habib Fahri bin Syihab menjadi teladan bagi para santri tentang pentingnya menjaga hubungan persaudaraan (ukhuwah) melampaui batas geografis. Manfaat dari kunjungan ini dirasakan sebagai penguat semangat dalam mengelola khazanah ilmu pengetahuan. Kehadiran seorang ulama yang memiliki pengalaman studi lintas benua diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi santri Dalwa untuk terus berinovasi dan membuka cakrawala pemikiran tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren yang kuat. Kunjungan Al-Habib Fahri bin Syihab ini berakhir dengan diskusi hangat yang penuh makna. Silaturahmi ini menjadi pengingat bagi seluruh civitas akademika Dalwa bahwa perpustakaan bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang perjumpaan bagi pemikiran besar yang terus merajut persaudaraan demi kemajuan umat Islam di masa depan.

Menyemai Silaturahmi Lintas Benua: Al-Habib Fahri bin Syihab Kunjungi Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Read More »