
By : Nawawi (Malaysia)
Seperti yang kita ketahui perkataan Cemburu itu biasanya identik dengan hubungan antarmanusia. Tapi apakah sama Cemburu manusia sama Cemburu-Nya Allah Taala?
Allah SWT berfirman di Surah Ash Shura ayat 11:
فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ١١
(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Dan dari sini kita ketahui bahwasanya segala ciptaannya tidak menyurupai penciptanya baik dari segi fisik maupun mental.
Adapun yang disebut cemburu disini seperti perkataannya Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah di dalam kitabnya Al Fawaid beliau menjelaskan :
Adapun kecemburuan Allah kepada si hamba yang mencintaiNya, hal ini terlihat dari tidak senangnya Dia tatkala melihat hati hambanya berpaling dari cinta terhadap-Nya kepada yang lainnya. Pasalnya, cinta yang dicurahkan si hamba kepada-Nya menjadi terbagi-bagi dengan kecintaan terhadap sesuatu yang lain.
Lantas, bagaimanakah cara Allah mencemburui hamba-Nya di bulan Dzulhijjah? Jawaban itu terangkum utuh dalam sebuah lembah keikhlasan yang teramat dalam, tempat di mana cinta seorang nabi diiris tipis oleh ujian, memaksa air mata keduniawian luruh di hadapan agungnya Cemburu Sang Pemilik Jiwa.
Seperti yang kita ketahui bahwasanya Nabi Ibrahim A.S sangat menginginkan zuriat yang akan menjadi generasi penerus bagi misi beliau, Sejak awal pernikahan nya dengan Siti Sarah Beliau istiqamah terus berdoa yang mana doa tersebut diabadikan oleh Allah swt di Surah As-Shaffat ayat 100:
رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ١٠٠
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”
Untaian doa itu menjadi dasar atas harapan besar beliau untuk dikaruniai zuriat yang akan melanjutkan estafet perjuangan Islam. Di tengah penantian yang panjang itu, Skenario Agung sang Pemilik Semesta ternyata memilih jalan cerita yang berbeda; Allah SWT menguji kesabaran mereka dengan belum menghadirkan buah hati dari pernikahan bersama Siti Sarah, ketika Siti Sarah melihat Nabi Ibrahim A.S membutuhkan penerus bagi dakwahnya, dengan ikhlas Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim A.S untuk menikahi pembantunya iaitu Siti Hajar dengan harapan agar memperoleh zuriat yang diinginkan beliau.
Harapan suci itu pun berbuah manis, tidak lama setelah perkahwinan tersebut Allah SWT menitipkan tanda tanda kehidupan di dalam kandungan Siti Hajar. Penantian yang panjang selama 86 tahun itu pun akhirnya menemui titik terangnya apabila lahirnya sang cahaya mata yang didambakan setelah sekian lama yaitu Nabi Ismail A.S, tatkala tangis Ismail kecil memecah rasa kesunyian kebahagian yang meluap dari hati Nabi Ibrahim A.S laksana air bah yang menenggelamkan segala rasa sepi di masa senjanya. Beliau mendakap erat belahan jiwanya itu dengan tangan yang gemetar penuh takjub, lalu dari lisan sepuhnya mengalirlah getaran kalimat Syukur yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran dalam Surah Ibrahim ayat 39:
‘Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku, Ismail…’
Para Mufasir lintas zaman bersepakat bahwa kata “Wahhaba” di sini adalah pengakuan bahwa Ismail adalah hadiah cinta paling sunyi yang dikirimkan langit untuk membasahi hatinya. Lumrah hati seorang ayah untuk mengisi masa tua nya dengan mendidiknya dan menjadikan Ismail kecil sebagai singgahsana kebahagiaan beliau, tatkala terlena di balik dekapan kebahagiaan itu, disitulah tercetusnya titik mula cemburu Allah SWT kepada Nabi ibrahim A.S.
Pada malam yang sunyi bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih belahan jiwanya iaitu Nabi Ismail A.S, Maka disinilah tercetusnya Hari tarwiyah kerana tatkala di pagi hari itu beliau pun merenung; apakah benar perintah ini langsung datang dari Allah SWT atau dari setan, berlanjut ke malam berikutnya iatu pada malam 9 Dzulhijjah, beliau bermimpi hal yang sama; di pagi harinya beliau merasa yakin bahwa mimpi tersebut datang dari Allah SWT, maka tercetus lah disini nama bagi Hari Arafah, di pagi hari yang sama beliau Nabi Ibrahim A.S langsung menemui Nabi Ismail A.S untuk menanyakan pendapatnya tentang mimpi tersebut, momen ini diabadikan oleh Allah SWT didalam Surah Ash Shaffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Sementara itu, ada dua poin yang di bahas para mufassir lintas zaman disini:
- Di dalam konteks:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”
Para mufassir sepakat bahawa pertanyaan Nabi Ibrahim A.S bukanlah sebuah keraguan yang datang dihati beliau melainkan agar perintah yang akan disampaikan tersebut menjadi lebih ringan baginya dan sekaligus untuk menguji kesabaran, ketangguhan, dan kemauan kerasnya ketika masih kecil untuk taat kepada Allah SWT sekaligus taat kepada Ayahnya.
- Di dalam konteks:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Para Ulama bersepakat bahwa kalimat diatas disebut oleh Nabi Ismail A.S sebagai bentuk kencintaan dan ketaatan sebagai seorang hamba kepada Sang Ilahi dan sebagai seorang anak kepada sang ayah
Melalui jembatan dialog ini, kita dapat menyimpulkan bahwa pertanyaan Nabi Ibrahim A.S dan jawaban tegarnya Nabi Ismail A.S itu ialah momentum dimana mereka sedang meruntuhkan ego kemanusiaan mereka demi memenangi “ Cemburu Ilahi “ Yang Maha Kuasa. Ujian yang datang kepada Nabi Ismail A.S bukanlah bentuk kebenciaan Allah SWT kepadanya melainkan untuk membersihkan hati Sang Khalilullah dari segala cinta makhluk yang mulai menyaingi cinta nya kepada Al-Khaliq. Ketika sang anak justru menguatkan sang ayah untuk terus melangkah mereka sepakat menyerahkan segala takhta hati mereka hanya kepada Sang Pencipta. Namun, kerelaan batin ini barulah awal dari pembuktian, karena setelah dialog suci ini usai, mereka harus membuktikannya secara nyata di atas batu ujian yang sesungguhnya, yang lebih tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah kerana pada tanggal tersebut langkah kaki ayah dan anak itu mulai bergerak menuju ke tempat penyembelihan dengan sukarela demi menunaikan segala perintahnya, suasana di Mina ketika itu dilingkupi kesunyian yang amat mencekam saat tubuh Nabi Ismail A.S mula dibaringkan ke Jabal Qurban, getaran kemanusiaan Nabi Ibrahim A.S Kembali diuji saat matanya menatap wajah sang buah hati. Didalam Tafsir Ath-Thabari menakwil dari ceritanya Ibn Humaid yang mengatakan perkataan sang anak ketika ia menyadari akan hal itu:
“Seketika itu, bibir mungil Ismail berbisik lirih menguatkan sang ayah, ‘Wahai ayahku tercinta, ikatlah jemari dan kakiku dengan erat agar jiwa kemanusiaanku tidak meronta. Singkapkanlah jubahmu, agar bercak darahku tidak menodainya dan kelak tidak mengoyak hati ibuku dalam kesedihan yang tak bertepi. Tajamkanlah pisaumu, ayah, lalu segerakanlah goresannya agar jemari maut menjemputku dengan lebih lembut… Dan jika tiba saatnya ayah merebahkanku di atas cadas yang dingin ini, telungkupkanlah wajahku menghadap bumi, bertumpu pada pelipis mataku. Aku teramat takut, jika sepasang mata kita saling bertatapan, runtuhlah runtuhan iba di dadamu yang akan menghalangimu menunaikan perintah agung dari Allah Yang Maha Kuasa.'”
Nabi Ibrahim A.S pun menuruti apa kata anaknya dengan tangan yang gemetar hebat namun hati yang dipenuhi ketundukan mutlak kepada Sang Ilahi. Detik-detik ketika Cemburu Ilahi mereda melihat kepasrahan dan pembuktian cinta itu telah mencapai puncaknya, pisau yang awalnya mampu membelah batu itu; tidak mampu melukai seujung kuku pun kulit Nabi Ismail A.S, Menyaksikan keajaiban di depan matanya, Nabi Ibrahim A.S dilingkupi rasa takjub yang bercampur bingung. Beliau lalu menggoreskan pisau itu ke sebuah batu cadas di dekatnya, dan seketika batu itu terbelah dua—membuktikan bahwa senjata di tangannya tidaklah tumpul, melainkan takdir Allah-lah yang sedang mengunci ketajamannya. Tepat ketika kebingungan itu memuncak, sebaris wahyu agung merobek langit Mina, menegaskan bahwa ujian atas takhta hatinya telah lulus dengan sempurna. Detik itu juga, pisau di tangannya terlepas, runtuh bersama linangan air mata syukur yang tak terbendung saat Malaikat Jibril datang membawa seekor domba dari surga sebagai tebusan kesetiaan.
Pada akhirnya, tragedi yang berubah menjadi mukjizat di atas cadas dingin Mina ini menyisakan sebuah refleksi batin yang mendalam bagi kita di setiap tibanya bulan Dzulhijjah. Peristiwa agung ini mengabarkan kepada semesta bahwa ‘Cemburu Ilahi’ tidak pernah menginginkan darah dan nyawa Ismail, melainkan hanya menuntut keutuhan takhta hati Ibrahim agar bersih dari berhala cinta makhluk. Kisah ini kini berpindah kepada kita; tentang apa atau siapa ‘Ismail-Ismail’ di dalam hidup kita hari ini—apakah harta, jabatan, ego, atau manusia—yang saking besarnya kita cintai, hingga membuat Allah cemburu? Maka, esensi berkurban bukanlah sekadar menumpahkan darah hewan ternak, melainkan sebuah ikrar air mata untuk menyembelih setiap ego kemanusiaan dan rasa kepemilikan kita, demi mengembalikan seluruh ruang di dalam dada kita hanya untuk Sang Pemilik Semesta.
Maka, di bulan Dzulhijjah yang mulia ini, mari kita tundukkan kepala sejenak dan bertanya ke dalam relung hati yang paling sunyi: sudahkah kita siap menyembelih ‘Ismail’ di dalam diri kita? Ataukah selama ini kita masih menggenggam erat dunia, ego, dan harta kita, hingga membuat Allah SWT ‘cemburu’ atas isi hati kita?
