Ahmad Firzan Alfarizi

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Ternyata Instansi yang pertama kali mendirikan perpusnas bukan dari orang pribumi melainkan sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara?!             Pada tahun 1778 sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen   memiliki koleksi dan perpustakaan di Batavia, atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Jakarta. Dari perpustakaan ini lah berangkatnya perpusnas yang sekarang.              Sebelum kita lanjut, ada bagusnya kita mengenal singkat tentang instansi ini. Pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Indonesia, adalah Jacob Cornelis Matthieu Radermacher seorang naturalis berbakat dan berpengaruh di tanah jajahan negaranya. Instansi atau kelompok yang didirikan di Batavia pada 24 April 1778 ini adalah kelompok cendikiawan bangsa naturalis dan bangsa pribumi yang  memiliki tujuan untuk memajukan penelitian pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan Hindia Belanda.  Mereka memiliki semboyan yang mereka junjung tinggi yang di sebut dengan “Ten Nutte van het Algemeen” yang berarti “Untuk Kepentingan Umum”. Dengan semboyan ini lah mereka tumbuh dengan pengaruh besar bagi bangsa tanah jajahan. Dan dengan ini juga mereka berkembang menjadi sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal perpustakaan dan museum nasional Indonesia atau Museum Gajah.             Dan kemudian bersamaan dengan merdekanya bumi pertiwi ini berakhirnya kelompok tersebut. Lebih tepatnya pada tepatnya pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan kemudian institusi bersejarah ini diserahkan kepada pemerintahan NKRI dan koleksinya dijadikan sebagai museum nasional seperti yang kita lihat sekarang.             Lantas apa peran kelompok ini dalam dunia kepustakawanan dan kearsipan Indonesia? Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen menjadi pelopor dan peletak batu pertama perpustakaan nasional republik Indonesia (Perpusnas). Dengan perpustakaan pertama yang mereka dirikan pada abad ke-18 menjadi Langkah awal terkumpulnya koleksi naskah kuno dan literatur yang kemudian di lestarikan dan di kembangkan oleh badan perpustakaan nasional republik Indonesia.             Lantas pula apakah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berhak di sebut sebagai pendiri perpusnas? Tidak, akan tetapi mereka berhak di sebut sebagai pelopor pengumpulan koleksi naskah atau penyedia fondasi fisik bacaan di NKRI.           Tanggal 17 Mei pada tahun 1980 merujuk pada awal pencanangan berdirinya perpustakaan nasional yang merupakan Lembaga yang menjadi symbol penting pengelolaan pengetahuan dan perkembangan kebudayaan serta literatur bangsa Indonesia. Pertama didirikan dan di resmikan pada tanggal itu oleh Dr. Daoed Joesoef selaku menteri Pendidikan dan kebudayaan tahun 1978-1983.             Melalui surat dari kementerian Pendidikan dan kebudayaan No. 0164/0/1980, Dr. Daoed Joesoef menggabungkan 4 perpustakaan nasional yang berdiri di bawah direktorat jenderal kebudayaan menjadi sebuah kesatuan : –  Perpustakaan Museum Nasional (berdiri sejak 1778) – Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial (berdiri sejak 1920) – Perpustakaan Negara Jakarta (berdiri sejak 1950) – Kantor Bibliografi Nasional (berdiri sejak 1953)               Dengan tujuan memperluas akses literatur, manuskrip kuno, dan dokumen arsip sejarah negara, serta agar dapat di lestarikan dan dikelola di bawah Lembaga nasional yang profesional.             Lalu rampungnya penyatuan fisik Lembaga perpusnas pada Januari tahun 1981.             Kemudian 22 tahun setelahnya tanggal 17 Mei mendapat julukan dan makna baru. Abdul Malik Fadjar, menteri Pendidikan nasional kabinet gotong royong tahun 2001-2004  menggagas harbuknas (hari buku nasional).             Pada mulanya hari buku nasional dirayakan dengan adanya pesta literasi di perpusda setempat secara sederhana. Namun seiring berkembangnnya zaman, perayaan ini menjadi lebih modern dan fresh. Di isi dengan adanya bazar buku, pameran, dan acara perlombaan tergantung Lembaga yang mengadakannya. Bahkan beberapa instansi ada yang mengadakan seminar literasi dengan mengundang pemateri yang berpengalaman dalam bidang literasi dan kepenulisan.             Dan tujuan Abdul Malik Fadjar menggagas harbuknas ini dengan tujuan meningkatkan minat literasi lintas generasi. Karena literasi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan insan pertiwi.  Ust. Makki Lazuardi. M.Pd menyebutkan dalam seminar beliau bahwa manfaat literasi sangatlah tak terhingga. Dan beberapa diantaranya adalah: Dan diantaranya yang paling memukau adalah dapat membelah lintas waktu dan tempat. dengan tersebarnya manuskrip-manuskrip, pembaca dapat menyerap wawasan serta keilmuan sang penulis meskipun terpisah jarak dan waktu. Selain itu tujuan dari peringatan Hari Buku Nasional ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemar membaca dan memiliki literasi yang tinggi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa serta meningkatkan penghargaan terhadap profesi penulis, penerbit, dan juga buku itu sendiri. Maka peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei akhirnya bukan sekadar seremonial belaka. Ia adalah sebuah estafet peradaban. Jika di abad ke-18 sebuah kelompok ilmuwan kuno bisa memulai fondasi literasi dengan semboyan ‘Untuk Kepentingan Umum’, maka hari ini, di era digital yang serbacepat, tugas kita adalah menjaga api tersebut agar tidak padam. Membaca—seperti yang dikatakan Ust. Makki Lazuardi—adalah ‘mukjizat’ yang membuat kita bisa membelah lintas waktu dan ruang, menyerap kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan. sumber: Kompas.com, Wikipedia, Perpustakaan Universitas Brawijaya, Pusdiklat perpusnas, detik.com.            

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18 Read More »

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Udhiyyah, adalah salah satu hari di mana kehangatan di antara umat muslim terasa pekat. Gema takbir menghiasi langit-langit masjid Baitul Ghaffar. Dari sore hari Arafah sampai beberapa hari ke depan.             Suara Hb. Alwi Baharun -selaku khatib yang berwibawa- sangat menyentuh hati di kala rindu kita kepada suasana hari raya di rumah. Khutbah yang singkat, tapi dapat membuat hati dan pikiran menjadi tenang dan bersih seperti bagian dalam kulit hewan kurban yang baru disembelih.             Di sini, di pondok pesantren, tempat di mana kita para santri merayakan hari raya dengan sederhana. Tidak ada suara tawa dari keluarga, tidak ada aroma masakan orang tua yang hangat, dan tidak ada foto-foto di ruang keluarga.             Tapi itu semua tidak menutupi kebahagiaan kami dalam menyambut hari raya ini. Memang tidak ada tawa keluarga dan orang tua, tak apa. Sebagai gantinya, ada canda tawa dan sorakan ria dari teman-teman seperjuangan, rekan Khidmah dan saudara sedaerah. Aroma masakan dapur pesantren, dan foto di bingkai kamar pun tak kalah hangat dengan aktivitas-aktivitas lebaran di ruang keluarga.             Dan pada saat malam nyate akbar rasa rindu itu menguap bersamaan dengan kebulan asap dari daging yang terpanggang di sebentangan lapangan pesantren selalu menjadi kehangatan baru di antara himpitan bangunan asrama. Langit malam menjadi kabur dengan asap sate yang terpanggang. Maka sungguh tidak heran para warga setempat dengan fenomena ‘evaporasi’ yang terjadi di malam ayyam tasyrik di pesantren kita yang tercinta ini.             Dan dari kehangatan inilah muncul semangat belajar dan Khidmah para santri. Kerinduan terhadap suasana lebaran di rumah bersama keluarga memanglah tak terelakkan. Tapi demi ilmu, Allah dan Rasul-Nya lah kami rela menghadapi ini semua. Dan di sini, di pondok pesantren Darrullughah Wad Da’wah. Kami para santri abuya bertekad untuk menyambung lisan dan mewarisi lisan serta kalam Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan karena kerinduan yang tak bisa dilampiaskan dengan kata-kata. Al-faqir selaku penulis dan perwakilan santri yang merindukan keluarganya, menumpahkan kerinduan kami di atas tulisan. Dan dengan ini juga penulis dan segenap pustakawan ingin mengucapkan kepada kalian para pembaca: ” Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H “ By : Muhammad Sidqi

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri Read More »

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial

Perintah ibadah kurban (Udhiyyah) yang dirayakan setiap bulan Zulhijah sebenarnya merupakan sebuah revolusi teologis dan kemanusiaan yang sangat radikal jika ditarik dari garis sejarah peradaban kuno. Islam mengubah total wajah pengorbanan yang semula bersifat transaksional, kelam, dan mengerikan, menjadi sebuah ritual yang sarat akan nilai tauhid serta berdampak sosial kemasyarakatan. Sebelum syariat ini diturunkan, lanskap religius Timur Tengah Kuno diwarnai oleh tradisi ekstrem seperti penyembahan kepada Dewa Molekh, di mana masyarakat Kanaan dan Fenisia tega mengorbankan anak kandung mereka sendiri di atas patung perunggu yang membara demi meraih kesuburan tanah atau kemenangan perang. Horor masa lalu inilah yang melatarbelakangi ujian berat Nabi Ibrahim AS, namun ketika pisau siap digoreskan, Allah SWT mengganti sang putra dengan seekor domba besar sebagai deklarasi tegas bahwa nyawa manusia adalah suci dan pengorbanan manusia harus dihentikan. Dalam tradisi Islam, peristiwa agung yang terekam dalam surah As-Saffat ini menyisakan perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama mengenai siapakah putra yang diperintahkan untuk disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Perdebatan ini telah membelah opini sejak masa sahabat, di mana sebagian kecil seperti Umar bin Khattab dan Ibnu Mas’ud cenderung menunjuk Nabi Ishaq, yang juga sejalan dengan narasi tradisi Ahli Kitab. Namun, mayoritas mutlak (jumhur) ulama tafsir dan ahli sejarah Islam menegaskan bahwa sosok yang hendak dikorbankan tersebut adalah Nabi Ismail AS. Pendapat jumhur ulama ini menjadi kuat karena bersandar pada argumen tekstual (istinbat) yang kokoh dari urutan kronologi ayat dan logika kebahasaan Al-Qur’an. Pada bagian awal kisah di surah As-Saffat, Allah memberi kabar gembira tentang kelahiran anak yang sangat sabar (ghulam halim) yang kemudian tumbuh remaja dan menjalani ujian penyembelihan tersebut. Nama Nabi Ishaq sendiri baru disebut secara eksplisit pada ayat 112, setelah seluruh rangkaian ujian penyembelihan selesai dan Nabi Ibrahim dinyatakan lulus. Berdasarkan struktur tersebut, jumhur ulama berkomentar bahwa penggunaan kata sambung “Wabasysyarnahu” (Dan Kami beri kabar gembira lagi kepadanya) sebelum nama Ishaq menunjukkan adanya dua peristiwa yang berbeda waktu. Kabar gembira pertama di awal rangkaian ayat adalah tentang kelahiran Ismail sebagai anak pertama yang akan disembelih, sedangkan penyebutan nama Ishaq di akhir ayat merupakan “hadiah tambahan” atau kabar gembira kedua atas keberhasilan Nabi Ibrahim melewati ujian besar tersebut. Jumhur juga menambahkan analisis kritis bahwa jika Ishaq yang disembelih, maka hal itu akan kontradiktif dengan surah Hud ayat 71 yang sejak awal sudah menjamin bahwa Ishaq akan hidup purna bahkan memiliki keturunan bernama Ya’qub. Sebuah ujian penyembelihan tidak akan menjadi logis bagi seorang ayah jika ia sudah mengetahui secara pasti bahwa anaknya dijamin berumur panjang untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penyebutan nama Ishaq di beberapa ayat setelah kisah penyembelihan justru menjadi penegas bagi jumhur bahwa anak yang berserah diri di atas tempat penyembelihan itu adalah sang kakak, Nabi Ismail AS. Melalui pembuktian iman Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail inilah, Allah SWT meruntuhkan hakikat pengorbanan kuno yang bersifat destruktif dan egois. Allah menegaskan bahwa Dia sama sekali tidak membutuhkan daging maupun darah dari hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati dari hamba-Nya yang berkurban. Udhiyyah akhirnya lahir sebagai ibadah yang membumi, di mana esensi spiritualitas vertikal kepada Tuhan langsung dimanifestasikan ke dalam aksi sosial horizontal kepada sesama manusia. Melalui Revolusi Udhiyyah ini, hewan kurban tidak lagi dibakar sia-sia di atas altar pemujaan seperti ritual masa lalu, melainkan disembelih untuk kemudian dagingnya didistribusikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar. Tradisi ini berhasil mengubah ketakutan menjadi berkah, serta menghapus sekat sosial antara si kaya dan si miskin dalam momen kebersamaan yang setara. Pada akhirnya, kurban dalam Islam menjadi lambang keadilan sosial yang menegaskan bahwa mendekatkan diri kepada Pencipta harus ditempuh dengan cara peduli dan berbagi kebahagiaan kepada sesama makhluk-Nya. By : Muhammad sidqi

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial Read More »

“Salah Serah Bisa Bermasalah”: Seminar Kepanitiaan Qurban di perpustakaan Disambut Antusias pengunjung

Dalam rangka memperkaya khazanah keilmuan santri serta meningkatkan wawasan praktis dalam bidang kepanitiaan qurban, tim anggota Maktabah Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) sukses menggelar seminar edukatif bertajuk “Salah Serah Bisa Bermasalah: Membahas Tuntas Kepanitiaan Qurban” pada malam Ahad, 16 Mei 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di Maktaba Sayid Muhammad Almaliki Alhasani dan diikuti dengan penuh antusias oleh para pengunjung perpustakaan serta santri Dalwa dari berbagai tingkatan. Seminar yang berlangsung pada malam hari tersebut menghadirkan suasana hangat dan penuh semangat keilmuan. Para peserta tampak memenuhi ruangan sejak awal acara untuk menyimak materi yang disampaikan oleh pemateri utama, yakni Ustad Abdurroqib Saqi, salah satu pengajar Pondok Dalwa yang juga dikenal sebagai lulusan terbaik Pondok Pesantren Sidogiri. Dengan gaya penyampaian yang lugas, komunikatif, dan diselingi berbagai contoh nyata di lapangan, Ustad Abdurroqib Saqi membahas secara mendalam berbagai persoalan seputar kepanitiaan qurban. Mulai dari mekanisme penerimaan hewan qurban, pengelolaan administrasi, sistem pembagian daging qurban, hingga kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam proses penyaluran qurban turut dibahas secara tuntas. Tema “Salah Serah Bisa Bermasalah” menjadi perhatian utama dalam seminar ini. Melalui tema tersebut, peserta diajak memahami bahwa pengelolaan qurban bukan sekadar kegiatan teknis tahunan, tetapi juga amanah syariat yang menuntut ketelitian, tanggung jawab, dan pemahaman hukum Islam yang benar. Suasana seminar semakin hidup ketika sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Banyak santri aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik qurban yang sering terjadi di masyarakat. Interaksi yang hangat antara pemateri dan peserta membuat seminar berjalan dinamis dan tidak membosankan, meskipun dilaksanakan pada malam hari. Melalui kegiatan ini, tim anggota maktabah berharap perpustakaan dapat terus menjadi pusat literasi, pengembangan wawasan, dan ruang diskusi ilmiah bagi para santri. Seminar ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Maktabah Dalwa dalam menghadirkan kegiatan-kegiatan edukatif yang bermanfaat serta relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pesantren. Dengan terselenggaranya seminar ini, diharapkan para santri memiliki pemahaman yang lebih matang mengenai kepanitiaan qurban, sehingga mampu menjalankan amanah dengan profesional, tertib, dan sesuai tuntunan syariat Islam.

“Salah Serah Bisa Bermasalah”: Seminar Kepanitiaan Qurban di perpustakaan Disambut Antusias pengunjung Read More »

”RUTIN TIAP BULAN, KIYAI ABDURRAHMAN FAQIH ISI KAJIAN SANTAI DI DALWA DAN PERKUAT TRADISI KEILMUAN”

Pondok Pesantren Dalwa kembali menggelar kajian santai rutin yang berlangsung pada Kamis sore, 23 April 2026. Kegiatan yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali ini menghadirkan Kiai Abdurrahman Faqih dari Pondok Pesantren Langitan sebagai pengisi tetap. Kiai Abdurrahman Faqih merupakan alumni Pondok Pesantren Dalwa yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke Madinah. Di sana, beliau pernah satu angkatan dengan Habib Ali Baharun saat menimba ilmu kepada Habib Zein bin Smith. Latar belakang keilmuan tersebut menjadikan kehadiran beliau selalu dinantikan oleh para santri Dalwa. Dalam kajian tersebut, beliau membahas kitab Risalah Mudzakaroh karya Al-habib Abdullah al-Haddad. Dengan gaya penyampaian yang santai namun sarat makna, para santri tampak antusias mengikuti setiap penjelasan yang disampaikan. Kehadiran beliau kali ini juga bertepatan dengan agenda kajian kitab Al-Hikam yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Dalwa dan diisi oleh Habib Segaf Baharun. Momentum ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi serta memperkuat jaringan keilmuan antarulama dan santri. Melalui kajian rutin ini, diharapkan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren terus terjaga dan berkembang. Selain memperdalam pemahaman kitab, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara alumni dan para santri yang sedang menimba ilmu.

”RUTIN TIAP BULAN, KIYAI ABDURRAHMAN FAQIH ISI KAJIAN SANTAI DI DALWA DAN PERKUAT TRADISI KEILMUAN” Read More »

“SILATURAHMI LBM PLOSO AL-FALAH JAWA TIMUR DALAM RANGKA MEMPERERAT PERSAUDARAAN ANTAR PESANTREN”

Selasa, 28 April 2026 — Dalam rangka memperkuat ukhuwah dan menjalin hubungan yang lebih erat antar pondok pesantren, panitia FMPP dari Santri Ploso melaksanakan kunjungan ke Lembaga Bahtsul Masail (LBM) pada Selasa (28/4). Kehadiran rombongan panitia FMPP disambut hangat oleh pihak pustakawan sekaligus perwakilan LBM Dalwa. Suasana penuh keakraban langsung terasa sejak awal pertemuan, mencerminkan kuatnya nilai silaturahmi yang dijunjung tinggi di lingkungan pesantren. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kunjungan formal, tetapi juga wadah untuk bertukar pengalaman dan wawasan seputar pengelolaan bahtsul masail serta pengembangan literasi keilmuan santri. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pandangan yang memperkaya khazanah intelektual kedua belah pihak. Perwakilan panitia FMPP menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk membangun sinergi antar lembaga pesantren. “Melalui silaturahmi ini, kami berharap dapat saling belajar dan memperkuat tradisi keilmuan yang telah menjadi ciri khas pesantren,” ungkapnya. Selain sesi diskusi, kegiatan juga diisi dengan ramah tamah yang semakin menghangatkan hubungan antar peserta. Momen ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kekeluargaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun jaringan antar pondok. Dengan terselenggaranya kunjungan ini, panitia FMPP Santri Ploso berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus berlanjut dan berkembang, demi kemajuan dunia pesantren serta penguatan tradisi intelektual santri di masa mendatang.

“SILATURAHMI LBM PLOSO AL-FALAH JAWA TIMUR DALAM RANGKA MEMPERERAT PERSAUDARAAN ANTAR PESANTREN” Read More »

ANTARA HAK FAKIR MISKIN DAN HARTA YANG TERBELENGGU HUKUM?

Pertanyaan: Jawaban: Refrensi: عمدة السالك وعدة الناسك ص104 ويلزم الولي إخراجها من مال الصبي والمجنون فإن لم يخرج عصى ويلزم الصبي  و المجنون إذا صارا صار مكلفين إخراج ما أهمله الولي Pertanyaan: وسيأتي كل من الخمسة مفصلا Jawaban: Refrensi: الكواكب الدرية  شرح متممة الجرمية  ص336 باب الحال هو الاسم المنصوب المفسر لما انبهم من الهيئات إما من الفاعل نحو:جاء زيد راكبا

ANTARA HAK FAKIR MISKIN DAN HARTA YANG TERBELENGGU HUKUM? Read More »

Wajib Tahu! Apakah Rujuk Bisa Membatalkan Talak 3 yang Pernah Digantung? Ini Jawabannya

Fiqih Deksripsi masalah: Pertanyaannya apakah ta’liq tersebut masih berlaku sehingga menyebabkan jatuhnya talak tiga? Jawaban: Refrensi:              تنبيه الأبرار إلى كفاية الأحيار الجزء الثاني ص (749).1 (فرع) علق طَلَاق زَوجته بِصفة بِصفة كدخول الدَّار مثلا ثمَّ أَبَانهَا قبل الدُّخُول بخلع أَو بِالثلَاثِ فِي الْمَدْخُول بهَا أَو بِوَاحِدَة فِي غير الْمَدْخُول بهَا ثمَّ وجدت الصّفة فِي حَال الْبَيْنُونَة ثمَّ جدد نِكَاحهَا ثمَّ وجدت الصّفة ثَانِيًا فِي النِّكَاح الثَّانِي لم تطلق على الْمَذْهَب الَّذِي قطع بِهِ الْأَصْحَاب وَيجْرِي الْخلاف فِي عود الْإِيلَاء وَالظِّهَار وَلَو لم تُوجد الصّفة فِي حَال الْبَيْنُونَة ثمَّ وجدت فِي النِّكَاح الثَّانِي لم تطلق على الرَّاجِح لِأَن التَّعْلِيق يتَعَلَّق بِالنِّكَاحِ الَّذِي وجد التَّعْلِيق فِيهِ وَالنِّكَاح المجدد غَيره فَلَو كَانَ الطَّلَاق رَجْعِيًا ثمَّ رَاجعهَا ثمَّ وجدت الصّفة طلقت بِلَا خلاف لِأَنَّهُ لَيْسَ نِكَاحا مجدداً وَلم تحدث حَالَة تمنع وُقُوع الطَّلَاق وَهَذِه الْمَسْأَلَة الَّتِي يعبر عَنْهَا بِعُود الْيَمين وَالله أعلم 2. الموسوعة الفقهية (41) انْحِلاَل الطَّلاَقِ الْمُعَلَّقِ عَلَى شَرْطٍ: إِذَا عَلَّقَ الزَّوْجُ الطَّلاَقَ عَلَى شَرْطٍ، فَإِنَّهُ يَنْحَل بِحُصُول الشَّرْطِ الْمُعَلَّقِ عَلَيْهِ مَرَّةً وَاحِدَةً، مَعَ وُقُوعِ الطَّلاَقِ بِهِ عَلَى الزَّوْجَةِ فِي هَذِهِ الْمَرَّةِ، فَإِذَا عَادَتْ إِلَيْهِ ثَانِيَةً فِي الْعِدَّةِ أَوْ بَعْدَهَا، لَمْ تَقَعْ عَلَيْهَا بِهِ طَلْقَةٌ أُخْرَى لاِنْحِلاَلِهِ، هَذَا مَا لَمْ يَكُنِ التَّعْلِيقُ بِلَفْظِ (كُلَّمَا) ، وَإِلاَّ وَقَعَ عَلَيْهَا بِهِ ثَانِيَةً وَثَالِثَةً؛ لأَِنَّ كُلَّمَا تُفِيدُ التَّكْرَارَ دُونَ غَيْرِهَا. وَعَلَى ذَلِكَ فَلَوْ قَال لِزَوْجَتِهِ: أَنْتِ طَالِقٌ ثَلاَثًا إِنْ دَخَلْتِ دَارَ فُلاَنٍ، ثُمَّ طَلَّقَهَا مُنَجَّزًا وَاحِدَةً قَبْل دُخُول الدَّارِ، ثُمَّ مَضَتْ عِدَّتُهَا، ثُمَّ دَخَلَتْ الدَّارَ الْمَحْلُوفَ عَلَيْهَا، ثُمَّ عَادَتْ إِلَيْهِ بِزَوْجِيَّةٍ أُخْرَى، جَازَ، فَإِذَا دَخَلَتِ الدَّارَ الْمَحْلُوفَ عَلَيْهَا بَعْدَ ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهَا، وَلَمْ يَقَعْ عَلَيْهَا بِذَلِكَ شَيْءٌ، لاِنْحِلاَل الطَّلاَقِ الْمُعَلَّقِ بِالدُّخُول الأَْوَّل بَعْدَ الْعِدَّةِ، فَإِذَا عَلَّقَ طَلاَقَهَا الثَّلاَثَ عَلَى دُخُول الدَّارِ، ثُمَّ نَجَّزَ طَلاَقَهَا مَرَّةً وَاحِدَةً، وَانْقَضَتْ عِدَّتُهَا دُونَ أَنْ تَدْخُل الدَّارَ الْمَحْلُوفَ عَلَيْهَا، ثُمَّ عَادَتْ إِلَيْهِ بِعَقْدٍ جَدِيدٍ، ثُمَّ دَخَلَتْهَا، وَقَعَ الثَّلاَثُ عَلَيْهَا، لِعَدَمِ انْحِلاَل الْيَمِينِ الْمُعَلَّقَةِ، بِخِلاَفِ مَا لَوْ دَخَلَتْهَا بَعْدَ عِدَّتِهَا، فَإِنَّهَا تَنْحَل بِذَلِكَ. وَكَذَلِكَ تَنْحَل الْيَمِينُ الْمُعَلَّقَةُ عَلَى شَرْطٍ بِزَوَال الْحِل بِالْكُلِّيَّةِ، كَمَا إِذَا عَلَّقَ طَلاَقَهَا الثَّلاَثَ عَلَى دُخُول الدَّارِ، ثُمَّ طَلَّقَهَا ثَلاَثًا مُنَجَّزَةً، ثُمَّ تَزَوَّجَهَا بَعْدَ التَّحْلِيل، ثُمَّ دَخَلَتِ الدَّارَ وَلَمْ تَكُنْ دَخَلَتْهَا مِنْ قَبْل، فَإِنَّهَا لاَ تَطْلُقُ هُنَا لاِنْحِلاَل الْيَمِينِ الْمُعَلَّقَةِ بِزَوَال الْحِل بِالْكُلِّيَّةِ، وَذَلِكَ بِوُقُوعِ الثَّلاَثِ عَلَيْهَا، عَلَى خِلاَفِ وُقُوعِ مَا دُونَ الثَّلاَثِ، فَإِنَّهُ لاَ يُزِيل الْحِل، فَلاَ تَنْحَل بِهِ الْيَمِينُ الْمُعَلَّقَةُ إِلاَّ بِحُصُول الشَّرْطِ فِعْلاً مَرَّةً Nahwu Pertanyaan: وَالطَّلَاقُ لَا يَقَعُ إِلَّا عَلَى زَوْجَةٍ، وَحِينَئِذٍ لَا يَقَعُ الطَّلَاقُ قَبْلَ النِّكَاح 2.Apa mahalul I’rob dari ta’bir yang digaris bawahi وَأَرْبَعَةٌ  لَا يَقَعُ طَلَاقُهُمْ: الصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ وَالنَّائِمُ وَالْمُكْرَهُ Jawaban: Refrensi . ص668 – كتاب ارتشاف الضرب من لسان العرب – باب التنوين  وتنوين العوض: وهو يلحق (إذ) عوضًا من الجمل المحذوفة المضاف إليها (إذ) ولذلك لا يجتمعان، ويأتي الكلام عليها في الظروف إن شاء الله تعالى ومثاله: [وأنتم حينئذ تنظروني] أي حين إذ بلغت الحلقوم، ويلحق أيضًا الجمع المتناهي المعتل اللام الذي لا ينصرف رفعًا وخفضًا نحو: قام جوار، ومررت بجوار، ونحو: يرم علمًا، ويعيل تصغير يعلى، وهو عوض من الياء المحذوفة لحركتها هذا مذهب سيبويه، خلافًا للمبرد، والزجاجي، زعمًا أنه عوض من الحركة فقط، وزعم بعض النحاة أنه تنوين صرف . ص80 – الإعراب المفصل لكتاب الله المرتل – سورة الصافات آية –    {وَسَلامٌ}: الواو استئنافية. سلام: خبر مبتدأ مضمر بتقدير: هو سلام او وامري سلام. ويجوز ان يكون مبتدأ لانه نكرة موصوفة على المعنى وحذفت صفته بمعنى: سلام من الله

Wajib Tahu! Apakah Rujuk Bisa Membatalkan Talak 3 yang Pernah Digantung? Ini Jawabannya Read More »

MENYINGKAP RAHASIA ONTOLOGIS DI BALIK DARAH YANG MENGALIR

Lebih dari Sekadar Ritual Karnivora Sering kali, kurban hanya dipandang sebagai distribusi protein hewani bagi fakir miskin. Namun, jika kita menyelami ribuan jilid di rak perpustakaan Turast, kita akan menemukan bahwa kurban (dari akar kata Qurb) adalah sebuah teknologi spiritual untuk membedah ego manusia. Ini bukan tentang mematikan hewan, melainkan tentang “menyembelih” sifat kebinatangan yang bersemayam dalam diri manusia itu sendiri. Dialog Sunyi di Atas Bukit Moria Mari kita bayangkan sebuah fragmen yang jarang dinarasikan secara detail dalam teks-teks populer. Di atas bukit yang sunyi, Ibrahim AS tidak sedang berhadapan dengan Ismail AS semata. Ia sedang berhadapan dengan “Ismail” sebagai simbol kecintaan duniawi yang paling puncak. “Wahai Ayahku, tajamkanlah parangmu, agar aku tak tersiksa terlalu lama,” bisik Ismail dalam sebuah riwayat yang menggetarkan arsy. Secara ilmiah-psikologis, ini adalah puncak dari Total Submission (Islam). Ismail tidak memposisikan dirinya sebagai korban, melainkan sebagai partner dalam ketaatan. Di sinilah letak dialektika menariknya: Kurban bukanlah tragedi pembunuhan, melainkan simfoni pelepasan. Ketika pisau menyentuh kulit, Allah menggantinya dengan domba bukan karena Allah ingin darah hewan, melainkan karena “Ibrahim yang lama” telah mati dan lahir sebagai “Ibrahim yang baru”. Hubungan Metafisis Darah dan Tanah Dalam kajian fikih yang lebih mendalam (complex jurisprudence), terdapat pembahasan yang jarang tersentuh mengenai “Nafs” (Nyawa) hewan yang dikurbankan. Beberapa ulama sufi-intelektual menyebutkan bahwa hewan kurban mengalami Irtika’ (kenaikan derajat). Hewan tersebut tidak mati sia-sia; ia bertransformasi dari makhluk biologis menjadi saksi metafisis di Yaumul Mizan. Darah yang menetes ke bumi sebelum sampai ke tanah, secara hakiki telah sampai kepada rida Allah. Ini adalah konsep Transmutasi Energi Spiritual—di mana materi (hewan) dikonversi menjadi cahaya (nur) yang menyinari jalan pelakunya di atas Sirath. Antara Simbol dan Substansi Di era digital, tantangan kurban bergeser. Muncul pertanyaan kompleks: Apakah kurban digital via aplikasi mengurangi esensi ‘penumpahan darah’ (Ihraq ad-Dam)? Secara manhaj keilmuan, para Muharrir di forum seperti El-Mufiq pasti akan berargumen bahwa unsur ta’abbudi (ritual murni) dalam menumpahkan darah tidak bisa digantikan hanya dengan transfer nominal uang. Ada rahasia pada gemetar tangan saat memegang pisau, ada hikmah pada aroma darah yang tercium, dan ada keberkahan pada pengulitan yang dilakukan bersama-sama. Itulah “ruh” perpustakaan yang hidup—di mana teks klasik bertemu dengan aksi nyata. Menjadi Sang ‘Qarib’ Kurban adalah undangan untuk menjadi Qarib (yang dekat). Jika setelah Idul Adha kita masih merasa jauh dari Tuhan dan sesama, mungkin yang kita sembelih hanyalah hewan, sementara “sifat kehewanan” dalam diri kita masih tumbuh subur. Mari kita jadikan momentum ini bukan sekadar pesta pora daging, melainkan sebuah bedah saraf ruhani. Sebagaimana kitab-kitab di perpustakaan kita yang diam namun berbicara, biarlah kurban kita menjadi diam secara lisan namun berteriak lantang dalam timbangan amal. Kesimpulan Ilmiah: Kurban adalah rekonsiliasi antara manusia, hewan, dan Tuhan. Ia adalah bukti bahwa untuk mencapai level “Manusia Paripurna”, seseorang harus berani melepaskan apa yang paling ia cintai demi apa yang paling ia Imani.

MENYINGKAP RAHASIA ONTOLOGIS DI BALIK DARAH YANG MENGALIR Read More »

FORUM MUSYAWAROH FIQHIYYAH : EL-MUFIQ

Perpustakaan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki – Ponpes Dalwa 1. Latar Belakang: Episentrum Dialektika Fiqhiyyah Di tengah arus disrupsi global, kebutuhan akan kepastian hukum Islam (istinbath al-ahkam) yang kontekstual menjadi keniscayaan. El-Mufiq (Forum Musyawarah Fiqhiyyah) lahir sebagai manifestasi dinamis dari kekayaan literatur Turast yang tersimpan di Perpustakaan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Forum ini bukan sekadar ajang debat, melainkan laboratorium intelektual tempat mahasantri menguji validitas teks klasik terhadap realitas modern. Dengan dukungan infrastruktur perpustakaan digital dan sistem RFID, El-Mufiq mentransformasi metode Bahtsu Masail tradisional menjadi riset kolaboratif yang sistematis, cepat, dan akurat. 2. Visi dan Misi Visi: “Menjadi mercusuar pemikiran fikih kontemporer yang otoritatif di level regional dan nasional, dengan mengintegrasikan metodologi klasik (Manhaj al-Fikr) dan kemajuan teknologi informasi.” Misi: 3. Struktur Operasional & Program Kerja El-Mufiq bergerak secara organik melalui tingkatan klasifikasi musyawarah yang terukur: 4. Nilai Strategis (The Edge) Yang membedakan El-Mufiq dengan forum serupa lainnya adalah Ekosistem Pendukungnya. Berlokasi di Perpustakaan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, para peserta musyawarah memiliki akses langsung ke 15.000+ eksemplar kitab fisik dan ribuan referensi digital melalui teknologi Smart Library. Karakteristik El-Mufiq: Refleksi Intelektual: “Fikih adalah entitas yang hidup. El-Mufiq memastikan bahwa detak jantung hukum Islam tetap berirama dengan denyut nadi zaman, tanpa melepaskan pegangan pada akar tradisi yang mulia.”

FORUM MUSYAWAROH FIQHIYYAH : EL-MUFIQ Read More »