Artikel

Mendidik Anak, Membangun Surga di Dalam Rumah

Refleksi dari Podcast Habib Segaf Baharun tentang Pola Asuh Islami Oleh: Muhammad Nuh Royyan “Tidak cukup menjadi orang tua yang mampu memberi makan anak. Yang jauh lebih penting adalah menjadi orang tua yang mampu mengantarkan anak menuju ridha Allah.” Inilah pesan utama yang disampaikan Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun dalam Podcast OBSISI (Obrolan Santri Sidogiri). Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, beliau mengajak setiap keluarga Muslim untuk kembali menjadikan rumah sebagai tempat lahirnya generasi yang beriman, berakhlak, dan mencintai agamanya. Di era digital, tantangan mendidik anak semakin kompleks. Kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan ancaman apabila tidak disertai pengawasan dan pendidikan yang baik. Karena itu, menurut Habib Segaf, membangun keluarga tidak cukup hanya dengan menyediakan kebutuhan materi. Yang jauh lebih penting adalah membangun “surga di dalam rumah.” Orang Tua Bukan Hanya Pencari Nafkah Salah satu kekeliruan yang banyak terjadi saat ini adalah anggapan bahwa tugas orang tua selesai ketika mereka mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dan menyekolahkan anak hingga jenjang yang tinggi. Kesuksesan anak kemudian diukur dari nilai akademik, pekerjaan, atau besarnya penghasilan. Padahal, Islam memberikan ukuran yang berbeda. Tanggung jawab terbesar orang tua adalah melahirkan anak-anak yang saleh dan salehah. Pendidikan iman, akhlak, dan adab harus menjadi prioritas sebelum pendidikan dunia. Gelar akademik memang penting, tetapi tanpa akhlak dan ketakwaan, semua itu kehilangan maknanya. Habib Segaf mengenang wasiat ayahnya, almarhum Habib Hasan Baharun, yang mengatakan bahwa seorang ayah tidak harus meninggalkan harta warisan yang banyak. Warisan terbaik adalah mendidik anak hingga menjadi pribadi yang saleh. Ketika seorang anak telah menjadi hamba yang bertakwa, Allah sendiri yang akan mencukupi dan menjaga kehidupannya. Pesan ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan orang tua bukan diukur dari banyaknya harta yang diwariskan, melainkan dari kualitas iman yang ditanamkan kepada anak-anaknya. Keteladanan Adalah Pendidikan Terbaik Anak adalah peniru yang ulung. Apa yang mereka lihat setiap hari akan lebih mudah membentuk karakter dibandingkan nasihat yang hanya sesekali mereka dengar. Sejak kecil, seorang anak memandang ayah sebagai sosok laki-laki terbaik di dunia dan ibu sebagai perempuan terbaik yang layak diteladani. Karena itu, perilaku orang tua akan direkam oleh anak sebagai sesuatu yang benar. Jika ayah rajin salat berjamaah, anak akan belajar mencintai masjid. Jika ibu terbiasa membaca Al-Qur’an, anak akan tumbuh akrab dengan Al-Qur’an. Sebaliknya, apabila rumah dipenuhi pertengkaran, kata-kata kasar, atau kebiasaan sibuk dengan telepon genggam, maka semua itu perlahan menjadi bagian dari kepribadian anak. Inilah sebabnya Habib Segaf menekankan bahwa mendidik anak sejatinya dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Orang tua tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga teladan yang setiap hari diamati oleh anak-anaknya. Mendidik Sesuai Fitrah Anak Islam mengajarkan bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Oleh karena itu, cara mendidik anak laki-laki dan perempuan pun tidak bisa disamakan. Habib Segaf menjelaskan bahwa anak perempuan lebih mudah disentuh melalui kasih sayang, perhatian, dan kelembutan. Ketika mengajak putrinya salat atau menghafal Al-Qur’an, beliau memilih menggunakan kalimat yang menyentuh hati daripada bentakan. Pendekatan seperti ini menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak sehingga ia melakukan kebaikan karena cinta, bukan karena takut. Sebaliknya, anak laki-laki memerlukan ketegasan dan disiplin yang sesuai dengan tuntunan syariat. Ketegasan tersebut bukanlah kekerasan, melainkan bentuk pendidikan agar anak belajar bertanggung jawab dan memiliki karakter yang kuat. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan fitrah manusia. Pendidikan yang berhasil bukanlah yang menyamaratakan semua anak, tetapi yang mampu memahami kebutuhan masing-masing. Pesantren Tidak Menggantikan Peran Orang Tua Dalam pandangan Habib Segaf, pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Namun, pesantren bukanlah tempat untuk menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan. Tidak sedikit orang tua berharap anak berubah sepenuhnya setelah mondok. Padahal, ketika anak pulang ke rumah, lingkungan keluarga sering kali tidak mendukung nilai-nilai yang telah ditanamkan di pesantren. Karena itu, pendidikan yang berhasil membutuhkan kerja sama antara orang tua, guru, anak, dan lingkungan. Apa yang dibiasakan di pesantren seharusnya juga dihidupkan di rumah. Salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menjaga adab, hingga membatasi penggunaan gadget perlu menjadi budaya keluarga. Dengan demikian, rumah dan pesantren saling melengkapi dalam membentuk karakter anak. Membangun Surga dari Dalam Rumah Salah satu pernyataan Habib Segaf yang paling berkesan adalah bahwa proyek terbesar dalam kehidupan bukanlah membangun gedung megah ataupun mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Proyek terbesar adalah membangun keluarga yang dipenuhi ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Rumah yang dipenuhi zikir, Al-Qur’an, salat berjamaah, komunikasi yang baik, serta kasih sayang akan melahirkan suasana yang menenangkan bagi seluruh penghuninya. Anak merasa dicintai, orang tua merasa dihormati, dan setiap anggota keluarga saling menguatkan dalam kebaikan. Surga ternyata tidak hanya menjadi harapan di akhirat. Surga dapat mulai dirasakan sejak di dunia, ketika rumah menjadi tempat yang menghadirkan kedamaian dan mendekatkan seluruh penghuninya kepada Allah SWT. Penutup Ceramah Habib Segaf Baharun mengingatkan bahwa mendidik anak bukan sekadar mempersiapkan masa depan dunia, tetapi mempersiapkan kehidupan akhirat. Tugas orang tua bukan hanya menyediakan sandang, pangan, dan pendidikan formal, melainkan membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan mencintai Allah serta Rasul-Nya. Di tengah tantangan zaman yang semakin berat, keluarga tetap menjadi benteng pertama dan utama. Ketika ayah menjadi teladan, ibu menjadi madrasah pertama, dan rumah dipenuhi nilai-nilai Islam, maka di sanalah surga mulai dibangun. Bukan dengan kemewahan, melainkan dengan iman, ilmu, dan kasih sayang. Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan refleksi dan ringkasan dari Podcast OBSISI (Obrolan Santri Sidogiri) Episode 005 bersama Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun yang membahas pola asuh Islami dan pentingnya membangun keluarga sebagai “surga di dalam rumah”.

Mendidik Anak, Membangun Surga di Dalam Rumah Read More »

The Power Of Networking

By : Nawawi (Malaysia) Networking atau lebih mesra dikenal sebagai wasilah yang berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu dari ( وَسَلَ – يَسِلُ – وَسْلاً/وَسِيْلَةً ) , yang berarti menyampaikan, menghubungkan, atau menyambungkan satu hal ke hal lainnya. Adapun dari segi istilah media, sarana, atau jalan yang digunakan seseorang hamba kepada Allah SWT guna mendapatkan keridaan-Nya atau agar doa-doanya dikabulkan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai dalil shahih,diantaranya: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣٥ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung. Ditnjau dari dalil diatas, ini menunjukkan bahawanya wasilah dan networking mempunyai esensi yang sama; dimana keduanya menolak sifat sombong dan mengutamkan silaturrahmi. Adapun yang mengbedakan diantara keduanya adalah: Diantara bukti nyata dari kedahsyatan “Networking Langit” tersebut ialah diambil dari kisah yang diceritakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat tentang tiga orang pemuda sedang melakukan perjalanan jauh (musafir) bersama-sama. Di tengah perjalanan, cuaca buruk menimpa sehingga mereka terpaksa mencari tempat berlindung untuk bermalam. Mereka menemukan gua di kaki gunung dan masuk kedalam nya. Disini Tuhan berkehendak untuk menutup mulut gua itu dengan batu raksasa yang jatuh tepat kearahnya. Suasana menjadi sangat gelap gulita dan kedap tanpa celah untuk keluar sedikit pun. Mereka berusaha menggeser batu raksaasa itu namun sekeras apa pun mereka mendorong, batu besar itu tetap bergeming mengunci mulut gua. Ketika keputusasaan hampir menghampiri karena tahu tidak ada satu pun manusia yang bisa menolong, salah satu dari mereka mengusulkan untuk berdoa langsung kepada Allah SWT, dengan menjadikan amal paling ikhlas dalam hidup mereka sebagai Wasilah (Networking Langit). Pemuda pertama maju melangkah di tengah keheningan gua yang mencekam, ia mengetuk pintu langit sembari mengisahkan tentang bakti yang luar biasa kepada ibu bapanya yang sudah lansia. Setiap hari, ia bekerja sebagai seorang pengembala dan selalu mendahulukan orang tuanya untuk meminum hasil perahannya, bahkan sebelum anak, istri, maupun budaknya sendiri tersentuh minuman tersebut. Hingga suatu hari, sebuah ujian keikhlasan datang ketika ia pulang sangat terlambat akibat mencari tempat gembalaan yang teramat jauh. Sesampainya di rumah, ia mendapati kedua orang tuannya telah tertidur pulas. Didorong rasa cinta dan hormat yang mendalam, ia enggan membngunkan mereka, namun ia juga merasa tabu untuk memberkan susu itu kepada anak-anaknya yang saat itu sedang menangis kelaparan di bawah kakinya. Tanpa mengeluh, ia memilih berdiri tegak memegang gelas susu di samping tempat tidur orang tuannya semalaman suntuk hingga fajar menyingsing demi menunggu mereka terbangun. Mengingat ketulusan ikhtiar itu, di tengah keheningan gua ia pun bersimpuh dalam doanya yang berbunyi: Ya Allah, Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan demikian demi mengharap Rida-Mu maka bukakanlah celah (gua) ini agar kami bisa melihat langit Seketika itu juga, “Networking Langit” menunjukkan keajaibannya; Batu besar yang aslinya menutup penuh mulut gua tersebut kini bergeser sedikit, meskipun celahnya masih telalu sempit bagi mereka untuk melosok keluar. Tatkala gua kembali dalam suasana keheningan, suasana mencekam itu seolah dikuasai oleh detakan jantung yang berdegup kencang. Pemuda kedua melangkah maju di hadapan dinding batu yang menjadi saksi bisu bagi seseorang yang sedang mengetuk pintu langit dengan membawa sebuah investasi takwa yang teramat berat, yakni kemenangannya melawan gejolak hawa nafsu yang membara. Di hadapan sorot cahaya yang menembus celah sempit itu, ia berbisik lirih, menyingkapkan lembaran masa lalunya yang sempat dibutakan obsesi cinta kepada sepupu perempuannya. Ketika tiba suatu masa kemiskinan dan kelaparan mendorong perempuan tersebut untuk mengemis bantuan finansial, hingga memaksanya menjadikan sosok pemuda tersebut sebagai satu-satunya jangkar keselamatannya demi menyambung nyawa. Lembaran uang 120 dinar pun disodorkan ke perempuan tersebut bukan sebagai bantuan tanpa tuntutan, melainkan sebagai alat tukar kehormatan suci sang wanita. Ketika segalanya telah siap dan celah kemungkaran terbuka lebar tanpa ada satu pun mata manusia yang melihat, tepat di titik nadir sang wanita menangis gemetar sambil membisikkan satu kalimat yang memukul hati dan perasaannya: “Takutlah kepada Allah SWT dan janganlah kamu pecahkan cincin keperawanan ini kecuali dengan cara yang sah.” Seketika itu juga, kalimat tersebut mengetuk hatinya laksana ketukan keras yang meruntuhkan ego dan badai syahwatnya. Kini rasa takut dan kehampaan yang mendalam menghantui dirinya kepada Sang Khalik. Tanpa berpikir panjang, ia lebih memilih untuk mundur, bangkit berdiri meninggalkan wanita yang paling dicintainya, dan mengikhlaskan harta ratusan dinar itu dibawa pergi olehnya tanpa menuntut imbalan apa pun. Berwasilah dengan ketakwaan yang mendorongnya ke jalan yang lurus itu, di bawah secercah cahaya ia pun menunduk khusyuk dan berdoa, seakan jiwanya sedang bertemu langsung ke hadapan Tuhannya, lalu ia berkata: “Ya Allah, bukakanlah celah gua ini jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan perbuatan tersebut murni mengharap Rida-Mu.” Hasilnya nyata; investasi takwa tersebut menggerakkan roda Spiritual Networking untuk melakukan keajaibannya menggeser batu raksasa itu untuk kedua kalinya. Meskipun mereka masih tidak bisa keluar dengan geseran kedua ini, namun geseran tersebut memberikan celah udara kepada mereka dan membawa mereka selangkah lebih dekat menuju gerbang keselamatan. Kini celah sudah terbuka, cahaya sudah terpancar menembus kegelapan gua yang pekat. Di bawah sinar yang bakal menentukan takdir mereka, pemuda ketiga pun melangkah maju ke bawah di hadapan barikade batu yang dingin untuk melengkapi misi dari jaringan spiritual yang tersisa. Ia membawa sebuah amal integritas yang sangat mulia—sebuah ikatan universal di mana kejujuran mutlak melahirkan rasa percaya tanpa batas, dan hak orang lain dijaga ketat melampaui ego kepemilikan materi, atau yang lebih dikenal sebagai “High-Trust Networking”. Kisah ini bermula ketika ia bertindak sebagai pemilik modal yang mempekerjakan beberapa buruh di tanahnya. Suatu hari, salah seorang pekerjanya pergi begitu saja sebelum sempat mengambil upah yang menjadi haknya. Di sinilah kejujuran pemuda tersebut diuji. Ia tidak memasukkan uang tersebut ke kantong sendiri sebagai keuntungan pribadinya, justru pemuda tersebut menjadikan uang tersebut sebagai sebuah reinvestasi bagi usahanya dan mengelolanya dengan jujur, karena pemuda tersebut mengetahui bahwa uang tersebut tidak pantas untuk dijadikan santapan sehari-hari. Dari modal yang sekecil itu hingga menjadikan usahanya berkembang pesat dan akhirnya menghasilkan kawanan ternak yang melimpah ruah di sebuah lembah itu. Tahun demi tahun pun berganti, dari yang kecil kini sudah membesar, mantan pekerjanya kembali dalam kondisi ekonomi yang terpuruk. Ia datang kepada

The Power Of Networking Read More »

Evolusi Produktivitas: Melampaui Mitos Kerja Keras Demi Hasil yang Berkelanjutan

By : Shidqi (Lamongan) Kebanyakan orang sedang mempertanyakan tentang penerus generasi pada tahun 2026 sampai 2050, yaitu Gen Z. pakah mereka bisa melestarikan kejayaan dunia yang sedang tidak baik baik saja ini dengan adanya brainrot dan segala penyakit modern lainnya?                 Banyak survey yang menyatakan bahwa generasi yang sedang berperan di atas muka peradaban yang sekarang sudah berumur sekitar 20 abad ini, seakan-akan tingkat produktivitas yang telah di capai oleh generasi sebelumnya merosot hingga 15% hingga 20%.  Menurut riset dan data lapangan hal ini di sebabkan oleh adanya brain rot, burnout, serta adanya penyakit penyakit modern lainnya yang di picu oleh seringnya mengkonsumsi konten konten instan sebagai adanya polusi kognitif yang dapat menyebabkan kesenjangan pola pikir. Baik, biar penulis jelaskan secara singkat mengapa penulis memakai kata “seakan-akan” di dalam pernyataan di atas.  Sebenarnya kurangnya produktivitas Gen Z di sini tidak bisa di katakana sebagai fakta sejarah yang mutlak, melainkan lebih tepatnya kitab isa katakana bahwa ini adalah fenomena pergeseran definisi produktivitas itu sendiri. Dan adanya hasil survei yang di atas adalah dampak dari pemakaian definisi lama sebagai patokan, yang mana definisi ini saya rasa sudah tidak relevan lagi dengan era yang juga bergeser, dari era industri, menjadi era informasi/digital. Untuk memperjelas saya menyebut 2 definisi ini sebagai: Presenteeism (produktivitas “hadir”) yang esensinya adalah menyegalakan visibilitas (sebagai definisi lama di era industri), dan performance-ism (produktivitas “hasil”) yang menempatkan kualitas, relevansi, dan dampak hasil kerja sebagia satu-satunya tolak ukur kesuksesan dari pekerjaan (sebagai definisi baru di era informasi/digital). Dan dengan sebab penilaian yang kurang relevan di mata generasi ini terjadilah fenomena yang di sebut dengan quiet ambition. Fenomena ini muncul sebagai respon organik dari generasi muda  dan para pekerja pada pascapandemi yang menolak budaya kerja keras berlebihan (hustle culture). Hustle culture adalah dimana seorang pekerja di paksa untuk bekerja tanpa lelah dan mengorbankan kesehatan mental juga jam istirahat demi memenuhi target kesuksesan yang semu. Oleh karenanya quiet ambition muncul tidak hanya sebagai bentuk gerakan penolakan hustle culture, tapi juga sebagai solusi serta strategi yang ampuh untuk menjadi produktivitas di era masa gini. Dengan mengutamakan kualitas dan kedalaman skill dalam bidang tertentu dan mengkesampingkan fokus pada kenaikan jabatan atau lamanya waktu dan energi yang di keluarkan. Dengan populernya trend quiet ambition, yang mengutamakan keseimbangan hidup (work-life balance) dan Kesehatan mental, mereka akan terhindar dari burnout, kualitas kerja lebih stabil dengan efisiensi yang tinggi. Tanpa adanya pamer, kerusakan mental, drama sosial ,dan lain-lain.  Quiet ambition adalah di mana Ketika seseorang tahu apa yang harus di cari ketika terlihat jelas polanya. Ketika seseorang tidak memamerkan ambisi mereka di akun media sosial dan kemudian diam-diam membangun pengaruh yang besar atas karirnya. Adam Gramt menjelaskan perbedaan tersebut dengan tepat: “Ambisi adalah Ketika aspirasi melebihi pencapaian…… dan narsisisme adalah Ketika ego melebihi pencapaian”             Maka quiet ambition bukan berarti tidak punya ambisi. Sebaiknya, ini adalah ambisi yang terkalibrasi. Gen Z tidak lagi mengartikan ambisi sebagai “kenaikan pangkat” atau “kerja lembur”, akan tetapi ambisi mereka beralih ke : Oleh karenanya, saat perusahaan atau sistem lama menuntut preseentism dengan bekerja lebih keras dan lebih keras lagi dengan menambahkan jam kerja sehingga melewati batas normal. Maka quiet ambition akan membuat seseorang memilih untuk bekerja secara efisien dan senyap. Mereka tidak akan menentang sesuatu secara terbuka (sehingga dapat memicu konflik dalam  lingkungan kerja), tetapi mereka akan mengalokasikanenergi mereka hanya pada output yang menghasilkan nilai tambah bagi karier jangka panjang mereka. Serta mereka akan memprioritaskan otonomi dalam menentukan ritme kerja dan kompetensi. Kinerja seperti ini di rasa lebih kuat di banding hanya memprioritaskan reward eksternal seperti jabatan dan kedudukan.       Selain menjadi solusi untuk pembaharuan sistem kinerja di era baru ini, quiet ambition juga menjadi penawar dari dampak polusi kognitif. Dengan menerapkan strategi ini seseorang dapat menyaring kebisingan pada laman sosial (noise of social media). Quiet ambition bekerja dengan cara menetapkan batasan ketat pada apa yang layak mendapatkan fokus mental dan mana yang hanya membuang energi kognitif, sehingga mereka tidak terjebak dalam arus konten instan yang hanya memicu kelelahan kognitif. Maka quiet ambition bukan hanya gaya atau strategi bekerja, tapi juga salah satu bentuk seseorang untuk menjaga kedaulatan pikiran dan kesehatan kognitif di tengah dunia yang berisik dengan pengemis validasi. Pada akhirnya, Quiet Ambition adalah pernyataan sikap. Ia bukan tentang menyerah pada kemalasan, melainkan tentang keberanian untuk mendefinisikan ulang apa itu keberhasilan. Saat dunia menuntut kita untuk selalu ‘terlihat’ sibuk, memilih untuk bekerja dalam sunyi demi penguasaan keahlian yang nyata adalah bentuk perlawanan paling cerdas. Kita tidak sedang merosot; kita sedang menata ulang peradaban dengan cara yang jauh lebih manusiawi, lebih terkalibrasi, dan tentu saja, lebih berdaya.

Evolusi Produktivitas: Melampaui Mitos Kerja Keras Demi Hasil yang Berkelanjutan Read More »

CEMBURU ILAHI DI BULAN DZULHIJJAH

By : Nawawi (Malaysia)             Seperti yang kita ketahui perkataan Cemburu itu biasanya identik dengan hubungan antarmanusia. Tapi apakah sama Cemburu manusia sama Cemburu-Nya Allah Taala? Allah SWT berfirman di Surah Ash Shura ayat 11: فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١١ (Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagimu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri dan (menjadikan pula) dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan(-nya). Dia menjadikanmu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Dan dari sini kita ketahui bahwasanya segala ciptaannya tidak menyurupai penciptanya baik dari segi fisik maupun mental.             Adapun yang disebut cemburu disini seperti perkataannya Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah di dalam kitabnya Al Fawaid beliau menjelaskan : Adapun kecemburuan Allah kepada si hamba yang mencintaiNya, hal ini terlihat dari tidak senangnya Dia tatkala melihat hati hambanya berpaling dari cinta terhadap-Nya kepada yang lainnya. Pasalnya, cinta yang dicurahkan si hamba kepada-Nya menjadi terbagi-bagi dengan kecintaan terhadap sesuatu yang lain.           Lantas, bagaimanakah cara Allah mencemburui hamba-Nya di bulan Dzulhijjah? Jawaban itu terangkum utuh dalam sebuah lembah keikhlasan yang teramat dalam, tempat di mana cinta seorang nabi diiris tipis oleh ujian, memaksa air mata keduniawian luruh di hadapan agungnya Cemburu Sang Pemilik Jiwa.           Seperti yang kita ketahui bahwasanya Nabi Ibrahim A.S sangat menginginkan zuriat yang akan menjadi generasi penerus bagi misi beliau, Sejak awal pernikahan nya dengan Siti Sarah Beliau istiqamah terus berdoa yang mana doa tersebut diabadikan oleh Allah swt di Surah As-Shaffat ayat 100:      رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ۝١٠٠ “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.” Untaian doa itu menjadi dasar atas harapan besar beliau untuk dikaruniai zuriat yang akan melanjutkan estafet perjuangan Islam. Di tengah penantian yang panjang itu, Skenario Agung sang Pemilik Semesta ternyata memilih jalan cerita yang berbeda; Allah SWT menguji kesabaran mereka dengan belum menghadirkan buah hati dari pernikahan bersama Siti Sarah, ketika Siti Sarah melihat Nabi Ibrahim A.S membutuhkan penerus bagi dakwahnya, dengan ikhlas Siti Sarah meminta Nabi Ibrahim A.S untuk menikahi pembantunya iaitu Siti Hajar dengan harapan agar memperoleh zuriat yang diinginkan beliau.           Harapan suci itu pun berbuah manis, tidak lama setelah perkahwinan tersebut Allah SWT menitipkan tanda tanda kehidupan di dalam kandungan Siti Hajar. Penantian yang panjang selama 86 tahun itu pun akhirnya menemui titik terangnya apabila lahirnya sang cahaya mata yang didambakan setelah sekian lama yaitu Nabi Ismail A.S, tatkala tangis Ismail kecil memecah rasa kesunyian kebahagian yang meluap dari hati Nabi Ibrahim A.S laksana air bah yang menenggelamkan segala rasa sepi di masa senjanya. Beliau mendakap erat belahan jiwanya itu dengan tangan yang gemetar penuh takjub, lalu dari lisan sepuhnya mengalirlah getaran kalimat Syukur yang diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran dalam Surah Ibrahim ayat 39: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku, Ismail…’ Para Mufasir lintas zaman bersepakat bahwa kata “Wahhaba” di sini adalah pengakuan bahwa Ismail adalah hadiah cinta paling sunyi yang dikirimkan langit untuk membasahi hatinya. Lumrah hati seorang ayah untuk mengisi masa tua nya dengan mendidiknya dan menjadikan Ismail kecil sebagai singgahsana kebahagiaan beliau, tatkala terlena di balik dekapan kebahagiaan itu, disitulah tercetusnya titik mula cemburu Allah SWT kepada Nabi ibrahim A.S. Pada malam yang sunyi bertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah, beliau bermimpi diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih belahan jiwanya iaitu Nabi Ismail A.S, Maka disinilah tercetusnya Hari tarwiyah kerana tatkala di pagi hari itu beliau pun merenung; apakah benar perintah ini langsung datang dari Allah SWT atau dari setan, berlanjut ke malam berikutnya iatu pada malam 9 Dzulhijjah, beliau bermimpi hal yang sama; di pagi harinya beliau merasa yakin bahwa mimpi tersebut datang dari Allah SWT, maka tercetus lah disini nama bagi Hari Arafah, di pagi hari yang sama beliau Nabi Ibrahim A.S langsung menemui Nabi Ismail A.S untuk menanyakan pendapatnya tentang mimpi tersebut, momen ini diabadikan oleh Allah SWT didalam Surah Ash Shaffat ayat 102:    فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٠٢ Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” Sementara itu, ada dua poin yang di bahas para mufassir lintas zaman disini:  “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Para mufassir sepakat bahawa pertanyaan Nabi Ibrahim A.S bukanlah sebuah keraguan yang datang dihati beliau melainkan agar perintah yang akan disampaikan tersebut menjadi lebih ringan baginya dan sekaligus untuk menguji kesabaran, ketangguhan, dan kemauan kerasnya ketika masih kecil untuk taat kepada Allah SWT sekaligus taat kepada Ayahnya. “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” Para Ulama bersepakat bahwa kalimat diatas disebut oleh Nabi Ismail A.S sebagai bentuk kencintaan dan ketaatan sebagai seorang hamba kepada Sang Ilahi dan sebagai seorang anak kepada sang ayah  Melalui jembatan dialog ini, kita dapat menyimpulkan bahwa pertanyaan Nabi Ibrahim A.S dan jawaban tegarnya Nabi Ismail A.S itu ialah momentum dimana mereka sedang meruntuhkan ego kemanusiaan mereka demi memenangi “ Cemburu Ilahi “ Yang Maha Kuasa. Ujian yang datang kepada Nabi Ismail A.S bukanlah bentuk kebenciaan Allah SWT kepadanya melainkan untuk membersihkan hati Sang Khalilullah dari segala cinta makhluk yang mulai menyaingi cinta nya kepada Al-Khaliq. Ketika sang anak justru menguatkan sang ayah untuk terus melangkah mereka sepakat menyerahkan segala takhta hati mereka hanya kepada Sang Pencipta. Namun, kerelaan batin ini barulah awal dari pembuktian, karena setelah dialog suci ini usai, mereka harus membuktikannya secara nyata di atas batu ujian yang sesungguhnya, yang lebih tepatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah kerana pada tanggal tersebut langkah kaki ayah dan anak itu mulai bergerak menuju ke tempat penyembelihan dengan sukarela demi menunaikan segala perintahnya, suasana di Mina ketika itu dilingkupi kesunyian yang amat mencekam saat tubuh Nabi Ismail A.S mula dibaringkan

CEMBURU ILAHI DI BULAN DZULHIJJAH Read More »

Kerinduan yang membuncah

By : Nawawi (Malaysia) Pernahkah kita rindu kepada seseorang, saking rindunya itu sehingga sesak rasanya di dada dan air mata menetes tanpa kita sadari? Bayangkan bagaimana perasaan rindu Nabi Musa A.S kepada Allah SWT yang begitu membuncah sehingga beliau tak sanggup lagi menahan gejolak untuk menatap Zat Sang Ilahi. Disini saya ingin mengajak kalian semua untuk tenggelam sebentar di dalam kerinduannya Nabi Musa A.S, kerinduan yang diabadikan oleh Allah SWT di dalam Surah Al-A’raf ayat 143 yang berbunyi : وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ۝١٤٣ “Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” dan disini saya akan membagi tiga pembahasan sesuai dengan apa yang diceritakan didalam Tafsir Ibnu Katsir Kerinduan ini bermula ketika Nabi Musa A.S diperintahkan oleh Allah SWT untuk bermunajat di Bukit Tursina dan mendapatkan Firman daripada-Nya. Namun, momen ketika beliau mendengar langsung kalam Allah SWT tanpa perantara malaikat menjadi titik balik yang menggetarkan sanubarinya. Pendengaran itu seketika menyalakan api cinta yang mahadahsyat di dalam dada, menumbuhkan benih rindu yang tak lagi terbendung. Rasa rindu yang begitu membuncah inilah yang akhirnya mengetuk pintu hati sang nabi untuk memohon sebuah permintaan yang teramat agung—sesuatu yang melampaui batas kodrat manusia—yaitu keinginan untuk menatap langsung Zat Sang Ilahi, sebagaimana yang diabadikan dalam potongan ayat berikut: قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Allah SWT pun merespon akan perihal tersebut dengan jawaban-Nya: قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan didalam kitabnya bahwa “    ” لنdisini membawa makna nafi ta’bid (meniadakan sesuatu tersebut selamanya ) menurut kacamata ulama Ahli Bahasa dan hal ini menjadi perdebatan hangat diantara kalangan ulama, jika kita lihat dari pendapat kaum mu’tazilah bahwasanya mereka menakwili ayat tersebut dengan mengatakan bahawasanya Allah itu tidak bisa dilihat di dunia maupun di akhirat dan hal ini jelas bahawasanya pendapat yang telah didatangkan oleh kaum tersebut tersangatlah lemah dan dengan mudah bagi Al-Imam Ibnu Katsir mematahkan argument tersebut dengan mengatakan hal seperti ini telah banyak sabda dari Nabi Muhammad SAW mengatakan bahawasanya orang orang beriman itu akan melihat Allah SWT di akhirat kelak disini saya akan mendatangkan refrensinya langsung dari sumbernya iaitu di Tafsir Ibnu Katsir: وقد أشكل حرف «لن» هاهنا على كثير من العلماء؛ لأنها موضوعة لنفي التأبيد، فاستدل به المعتزلة على نفي الرؤية في الدنيا والآخرة، وهذا أضعف الأقوال؛ لأنه قد تواترت الأحاديث عن  رسول الله ﷺ بأن المؤمنين يرون الله في الدار الآخرة “Kata “لن” (tidak akan) dalam ayat tersebut telah menjadi perdebatan di kalangan para ulama, karena ia berfungsi sebagai penekanan untuk meniadakan. Kaum Mu’tazilah menjadikannya sebagai dalil atas pendapatnya, bahwasanya manusia tidak dapat melihat-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan pendapat kaum Mu’tazilah tersebut merupakan pendapat yang paling lemah, karena banyak sekali hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa orang-orang yang beriman itu akan melihat Allah di akhirat kelak.” Pada hari yang sama iaitu bertepatan di tanggal 10 Dzulhijjah, permohonan tersebut disambut oleh Allah SWT dengan baik dan bijaksana, namun tidak dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung demi keselamatan Nabi Musa sendiri. Ketika Nabi Musa A.S mengarah penglihatannya ke arah Bukit Tursina dan Allah SWT memperlihatkan keagungan-Nya kepada bukit tersebut, apabila terpancar tajalli Allah SWT kepada bukit tersebut maka bukit tersebut hancur luluh bagaikan gundukan tanah yang rata kerana tidak mampu menahan Radiasi Cahaya Ilahi ketika itu, Adapun kondisi Nabi Musa A.S ketika itu jatuh pingsan Kerana tidak mampu menahan radiasi-Nya dan hal ini diabadikan oleh Allah SWT dalam potongan ayat berikutnya yang berbunyi: فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.    Hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir dalam Kitabnya beliau dengan mendatangkan sebuah atsar yang berbunyi: وقال الربيع بن أنس: {فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا}، وذلك أن الجبل حين كشف الغطاء ورأى النور، صار مثل دك من الدكاك. وقال بعضهم: {جعله دكا} أي: فته. “Dan Ar-Rabi’ bin Anas berkata: {Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan}, hal itu karena ketika tabir dibuka dan gunung tersebut melihat cahaya (Ilahi), ia berubah menjadi seperti gundukan tanah yang rata dari gundukan-gundukan yang ada. Dan sebagian ulama berkata: {dijadikannya gunung itu hancur luluh} artinya: Allah menghancurkannya hingga menjadi berkeping-keping (debu).” Disini Bukit Tursina menjadi saksi bisu bahwa dirinya yang kokoh dan kuat itu hancur seketika dalam hitungan detik sahaja apabila Allah SWT memancarkan Tajalli-Nya kepada bukit tersebut dan pingsannya Nabi Musa A.S itu menjadi bukti bahwasanya manusia itu terikat pada hukum alam biologis yang memiliki batas toleransi terhadap energi ekstrem Tatkala kesadaran kembali mengetuk raga Nabi Musa A.S yang masih gemetar hebat. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, taka da lagi kemegahan Bukit Tursina yang tersisa; segalanya telah berubah menjadi debu kelabu yang beterbangan di langit yang biru, yang kini menjadi saksi bisu betapa rapuh Pasak bumi ketika dihamparkan di atasnya sejumlah kecil dari Tajalli-Nya tersebut. Maka bersimpuhlah tubuh yang gemetar hebat itu di balik kesunyian puing-puing Tursina itu, diiringi rasa takzim yang luar biasa kepada Yang Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya, kerinduan yang sempat membakar jiwanya kini melunak menjelma menjadi dekapan tobat yang sarat kepasrashan kepada zat Yang

Kerinduan yang membuncah Read More »

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Kemajuan atau Kemerosotan dalam Literasi dan Keilmuan?

Setiap pergantian tahun, manusia punya kebiasaan universal: merefleksikan perjalanan, lalu merangkai harapan baru. Bagi umat Islam, tahun baru bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan pengingat akan peristiwa agung, hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa yang tidak hanya mengubah peta geopolitik, tetapi juga melahirkan peradaban berbasis ilmu dan literasi. Namun, setelah hampir limabelas abad berlalu, patut kita tanyakan: di mana posisi kita hari ini? Apakah kita masih menjadi umat yang gemar membaca, menulis, dan meneliti? Atau justru kita sedang mengalami kemerosotan literasi yang mengkhawatirkan?  Kejayaan yang Pernah Menyinari Dunia Jika kita memejamkan mata dan kembali ke masa Abbasiyah, kita akan melihat pemandangan yang sangat berbeda. Di Baghdad, berdiri megah Baitul Hikmah, sebuah perpustakaan dan pusat penerjemahan terbesar di dunia saat itu. Para ilmuwan dari berbagai latar belakang -Muslim, Kristen, Yahudi- berkumpul untuk menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, India, dan Mesir ke dalam bahasa Arab. Nama-nama seperti Al-Khawarizmi dengan julukan “bapak algoritma”, Ibnu Sina dengan julukan “bapak kedokteran modern”, Al-Farabi, Ibnu Rushd, dan Al-Ghazali adalah bintang-bintang yang menerangi Eropa yang masih berada dalam kegelapan Abad Pertengahan. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, mengkritisi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Bayangkan: ketika Eropa masih sibuk dengan perang dan takhayul, para ilmuwan Islam sudah mendiskusikan astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat. Kitab Al-Qanun fi al-Tibb karya Ibnu Sina menjadi rujukan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17. Itulah puncak peradaban literasi Islam. Lalu, di Mana Kita Hari Ini? Sekarang, cepat lompat ke abad ke-21. Kita hidup di zaman yang oleh banyak orang disebut sebagai era informasi. Setiap detik, miliaran data berseliweran di internet. Dalam genggaman tangan, kita bisa mengakses jutaan buku, jurnal ilmiah, dan artikel. Fasilitas yang tidak pernah terbayangkan oleh Al-Khawarizmi atau Ibnu Sina. Namun, ironisnya, negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru menempati peringkat bawah dalam hal literasi dan riset. Menurut UNESCO, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sedangkat survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat. Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Lebih parah lagi, kita terjebak dalam budaya post-truth (pasca-kebenaran)  dan hoaks. post-truth adalah era di mana fakta objektif kalah pengaruh dibandingkan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi. Dalam kondisi ini, kebohongan yang diulang-ulang di media sosial sering kali diterima sebagai fakta nyata. Informasi keagamaan sering dikonsumsi tanpa verifikasi sumber. Orang lebih percaya pada status WhatsApp atau video TikTok daripada kitab kuning atau jurnal ilmiah. Jangankan menulis buku, membaca buku saja -bagi sebagian besar orang- sudah terasa berat. Bertemu dengan Para Ilmuwan Islam Coba bayangkan! Kamu tiba-tiba diangkut ke masa lalu, ke perpustakaan Baghdad pada abad ke-9 M. Di hadapanmu duduk Al-Khawarizmi, sedang menulis rumus aljabar di atas lembaran papirus. Di pojok ruangan, Ibnu Sina menyusun bab baru untuk Al-Qanun. Sementara di dekat jendela, Al-Ghazali merenung, menyusun argumentasi filsafatnya. Mereka melihatmu. Al-Khawarizmi bertanya dengan ramah, “Saudaraku dari abad kelima belas Hijriah, bagaimana kabar dunia kalian? Kami dengar kalian punya kotak ajaib bernama internet, yang bisa memuat seluruh perpustakaan. Sungguh nikmat yang tak terbayangkan oleh kami.” Kau tersenyum, tapi senyummu getir. “Jujur saja, Wahai Guru… aku lebih sering membuka media sosial daripada membaca. Aku punya ribuan e-book di ponsel, tapi belum satupun yang selesai kubaca tahun ini.” Ibnu Sina mengerutkan dahi. “Apa yang kau lakukan dengan semua waktu yang Allah berikan? Kami dulu berjalan kaki bermil-mil hanya untuk mencari satu manuskrip. Kalian memiliki segalanya dalam genggaman, namun memilih untuk menyia-nyiakannya.” Al-Ghazali yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya lembut tapi menusuk. “Ilmu itu cahaya. Tapi cahaya tidak akan masuk ke hati yang dipenuhi kemalasan dan hiburan. Kau punya akses, wahai anak muda, tapi kau kehilangan haus ilmu.” Lalu mereka semua menatapmu. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kekecewaan yang dalam. Dan pertanyaan terakhir meluncur dari bibir Al-Khawarizmi: “Apa yang sudah kau sumbangkan untuk peradaban, wahai saudaraku?”* Saatnya Introspeksi Pertanyaan itu—mungkin itulah yang harus kita renungkan di tahun baru Hijriah kali ini. Kita tidak perlu menjadi ilmuwan besar untuk berkontribusi. Cukup dengan memulai dari hal kecil. Satu buku per bulan, satu catatan reflektif setiap minggu, membudayakan diskusi ilmiah di majelis tongkrongan, tidak langsung percaya pada setiap informasi yang diterima, tetapi mengecek sumbernya. Kita bisa memaknai hijrah secara personal: berhijrah dari malas membaca menjadi rajin menulis, dari konsumen informasi menjadi produsen ilmu, dari sekadar ikut-ikutan menjadi pribadi yang kritis dan berpengetahuan. Tantangan untuk 1448 Hijriah Akankah tahun ini menjadi tahun kemajuan atau kemerosotan dalam literasi dan keilmuan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Aku ingin mengajakmu untuk memulai satu gerakan sederhana. Bacalah satu buku dalam sebulan, tulis resensinya, bagikan di media sosial (IG,Tiktok,X dll). Jadikan tahun 1448 H sebagai tahun kebangkitan bacamu. Selamat tahun baru Islam 1448 Hijriah. Semoga di tahun ini, kita menjadi pribadi yang lebih tercerahkan.

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Kemajuan atau Kemerosotan dalam Literasi dan Keilmuan? Read More »

Media Sosial: Sarana Belajar atau Pengganggu Produktivitas?

Pernahkah Anda membuka media sosial hanya untuk “lima menit”, tetapi tanpa sadar satu jam telah berlalu? Fenomena ini mungkin pernah dialami hampir semua orang. Di satu sisi, media sosial menawarkan akses ilmu pengetahuan yang begitu luas. Namun di sisi lain, ia juga menjadi salah satu penyebab utama hilangnya fokus dan produktivitas di era digital. Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, banyak orang menghabiskan waktunya dengan membuka berbagai platform media sosial. Kehadiran teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan belajar. Menurut laporan UNESCO, teknologi digital dan media sosial memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran. Namun, penggunaan yang tidak terkendali juga dapat menimbulkan gangguan konsentrasi, distraksi belajar, serta berbagai dampak sosial lainnya. Media Sosial sebagai Sarana Belajar Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial telah membuka akses terhadap ilmu pengetahuan yang sebelumnya sulit dijangkau. Saat ini, seseorang dapat mempelajari berbagai keterampilan hanya melalui telepon genggam yang dimilikinya. Berbagai konten edukatif tersedia dalam bentuk video, infografis, podcast, maupun artikel singkat yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan. Banyak guru, dosen, praktisi, dan pakar yang memanfaatkan media sosial untuk membagikan pengetahuan kepada masyarakat. Bahkan, perkembangan media sosial telah menciptakan ruang belajar yang lebih fleksibel karena pengguna dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja. Selain sebagai sumber ilmu pengetahuan, media sosial juga memungkinkan seseorang membangun jaringan yang lebih luas. Berbagai komunitas pembelajaran daring tumbuh dan berkembang melalui media sosial, memungkinkan pelajar dan mahasiswa berdiskusi serta bertukar informasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial untuk tujuan akademik dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran apabila digunakan secara terarah dan terkontrol. Ketika Media Sosial Menjadi Pengganggu Produktivitas Di balik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga memiliki sisi lain yang perlu mendapat perhatian. Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah hilangnya fokus akibat distraksi yang terus-menerus. Banyak orang yang awalnya hanya berniat membuka media sosial selama beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa disadari. Fenomena ini terjadi karena algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Setiap video, gambar, atau unggahan yang muncul mendorong pengguna untuk terus menggulir layar dan berpindah dari satu konten ke konten lainnya. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, membaca, atau menyelesaikan pekerjaan menjadi berkurang. Berbagai penelitian menemukan bahwa kebiasaan melakukan media multitasking, seperti belajar sambil membuka media sosial, dapat mengganggu perhatian dan memori kerja. Dampaknya terlihat pada menurunnya kemampuan memahami materi, mengingat informasi, mencatat pelajaran, hingga menurunnya prestasi akademik secara keseluruhan. Temuan yang lebih baru juga menunjukkan bahwa media multitasking cenderung memiliki hubungan negatif dengan pencapaian akademik, terutama pada mahasiswa. Meskipun pengaruhnya bervariasi, sebagian besar penelitian menemukan bahwa semakin sering seseorang terdistraksi oleh media saat belajar, semakin besar kemungkinan produktivitas belajarnya menurun. Mengapa Banyak Orang Sulit Lepas dari Media Sosial? Salah satu alasan mengapa media sosial begitu sulit ditinggalkan adalah karena platform tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman yang menarik dan memicu rasa penasaran pengguna. Setiap notifikasi, komentar, atau tanda suka dapat memberikan dorongan psikologis yang membuat seseorang ingin terus kembali membuka aplikasi. Selain itu, media sosial juga memenuhi kebutuhan manusia untuk tetap terhubung dengan orang lain. Melalui media sosial, seseorang dapat mengikuti perkembangan teman, tokoh favorit, maupun isu-isu yang sedang menjadi perbincangan. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa perlu memeriksa ponselnya berkali-kali dalam sehari, bahkan ketika sedang belajar atau bekerja. Kebiasaan tersebut sering kali berkembang menjadi pola penggunaan yang sulit dikendalikan. Tanpa disadari, seseorang dapat kehilangan banyak waktu produktif hanya karena terus-menerus memeriksa media sosial. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan mempertahankan perhatian dan memengaruhi daya ingat seseorang. Memanfaatkan Media Sosial Secara Bijak Alih-alih menghindari media sosial sepenuhnya, langkah yang lebih realistis adalah menggunakannya secara bijak. Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Dampak positif maupun negatif yang muncul sangat bergantung pada bagaimana seseorang memanfaatkannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menentukan tujuan sebelum membuka media sosial. Jika tujuannya untuk belajar, maka fokuslah pada konten yang relevan dan hindari terlalu lama menjelajahi konten yang tidak berkaitan dengan kebutuhan tersebut. Selain itu, pengguna juga dapat memanfaatkan fitur pembatas waktu penggunaan aplikasi agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk scrolling. Mengikuti akun-akun edukatif juga menjadi langkah yang baik untuk mengubah media sosial menjadi ruang belajar yang produktif. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga sarana pengembangan diri yang bermanfaat. Media sosial merupakan salah satu inovasi teknologi yang memberikan banyak manfaat dalam kehidupan modern. Melalui media sosial, seseorang dapat memperoleh informasi, mempelajari keterampilan baru, dan membangun jaringan yang luas. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sumber distraksi yang menghambat produktivitas apabila digunakan secara berlebihan. Oleh karena itu, pertanyaan apakah media sosial merupakan sarana belajar atau pengganggu produktivitas sebenarnya bergantung pada cara kita menggunakannya. Jika dimanfaatkan secara bijak, media sosial dapat menjadi alat yang mendukung proses belajar dan pengembangan diri. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kontrol, media sosial dapat menghabiskan waktu, menurunkan konsentrasi, dan mengurangi efektivitas belajar. Pada akhirnya, media sosial bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan alat yang perlu dikelola dengan bijaksana. Pengguna yang mampu mengendalikan media sosial akan memperoleh manfaatnya, sedangkan mereka yang dikendalikan oleh media sosial berisiko kehilangan banyak waktu yang berharga.

Media Sosial: Sarana Belajar atau Pengganggu Produktivitas? Read More »

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Ternyata Instansi yang pertama kali mendirikan perpusnas bukan dari orang pribumi melainkan sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara?!             Pada tahun 1778 sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen   memiliki koleksi dan perpustakaan di Batavia, atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Jakarta. Dari perpustakaan ini lah berangkatnya perpusnas yang sekarang.              Sebelum kita lanjut, ada bagusnya kita mengenal singkat tentang instansi ini. Pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Indonesia, adalah Jacob Cornelis Matthieu Radermacher seorang naturalis berbakat dan berpengaruh di tanah jajahan negaranya. Instansi atau kelompok yang didirikan di Batavia pada 24 April 1778 ini adalah kelompok cendikiawan bangsa naturalis dan bangsa pribumi yang  memiliki tujuan untuk memajukan penelitian pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan Hindia Belanda.  Mereka memiliki semboyan yang mereka junjung tinggi yang di sebut dengan “Ten Nutte van het Algemeen” yang berarti “Untuk Kepentingan Umum”. Dengan semboyan ini lah mereka tumbuh dengan pengaruh besar bagi bangsa tanah jajahan. Dan dengan ini juga mereka berkembang menjadi sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal perpustakaan dan museum nasional Indonesia atau Museum Gajah.             Dan kemudian bersamaan dengan merdekanya bumi pertiwi ini berakhirnya kelompok tersebut. Lebih tepatnya pada tepatnya pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan kemudian institusi bersejarah ini diserahkan kepada pemerintahan NKRI dan koleksinya dijadikan sebagai museum nasional seperti yang kita lihat sekarang.             Lantas apa peran kelompok ini dalam dunia kepustakawanan dan kearsipan Indonesia? Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen menjadi pelopor dan peletak batu pertama perpustakaan nasional republik Indonesia (Perpusnas). Dengan perpustakaan pertama yang mereka dirikan pada abad ke-18 menjadi Langkah awal terkumpulnya koleksi naskah kuno dan literatur yang kemudian di lestarikan dan di kembangkan oleh badan perpustakaan nasional republik Indonesia.             Lantas pula apakah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berhak di sebut sebagai pendiri perpusnas? Tidak, akan tetapi mereka berhak di sebut sebagai pelopor pengumpulan koleksi naskah atau penyedia fondasi fisik bacaan di NKRI.           Tanggal 17 Mei pada tahun 1980 merujuk pada awal pencanangan berdirinya perpustakaan nasional yang merupakan Lembaga yang menjadi symbol penting pengelolaan pengetahuan dan perkembangan kebudayaan serta literatur bangsa Indonesia. Pertama didirikan dan di resmikan pada tanggal itu oleh Dr. Daoed Joesoef selaku menteri Pendidikan dan kebudayaan tahun 1978-1983.             Melalui surat dari kementerian Pendidikan dan kebudayaan No. 0164/0/1980, Dr. Daoed Joesoef menggabungkan 4 perpustakaan nasional yang berdiri di bawah direktorat jenderal kebudayaan menjadi sebuah kesatuan : –  Perpustakaan Museum Nasional (berdiri sejak 1778) – Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial (berdiri sejak 1920) – Perpustakaan Negara Jakarta (berdiri sejak 1950) – Kantor Bibliografi Nasional (berdiri sejak 1953)               Dengan tujuan memperluas akses literatur, manuskrip kuno, dan dokumen arsip sejarah negara, serta agar dapat di lestarikan dan dikelola di bawah Lembaga nasional yang profesional.             Lalu rampungnya penyatuan fisik Lembaga perpusnas pada Januari tahun 1981.             Kemudian 22 tahun setelahnya tanggal 17 Mei mendapat julukan dan makna baru. Abdul Malik Fadjar, menteri Pendidikan nasional kabinet gotong royong tahun 2001-2004  menggagas harbuknas (hari buku nasional).             Pada mulanya hari buku nasional dirayakan dengan adanya pesta literasi di perpusda setempat secara sederhana. Namun seiring berkembangnnya zaman, perayaan ini menjadi lebih modern dan fresh. Di isi dengan adanya bazar buku, pameran, dan acara perlombaan tergantung Lembaga yang mengadakannya. Bahkan beberapa instansi ada yang mengadakan seminar literasi dengan mengundang pemateri yang berpengalaman dalam bidang literasi dan kepenulisan.             Dan tujuan Abdul Malik Fadjar menggagas harbuknas ini dengan tujuan meningkatkan minat literasi lintas generasi. Karena literasi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan insan pertiwi.  Ust. Makki Lazuardi. M.Pd menyebutkan dalam seminar beliau bahwa manfaat literasi sangatlah tak terhingga. Dan beberapa diantaranya adalah: Dan diantaranya yang paling memukau adalah dapat membelah lintas waktu dan tempat. dengan tersebarnya manuskrip-manuskrip, pembaca dapat menyerap wawasan serta keilmuan sang penulis meskipun terpisah jarak dan waktu. Selain itu tujuan dari peringatan Hari Buku Nasional ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemar membaca dan memiliki literasi yang tinggi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa serta meningkatkan penghargaan terhadap profesi penulis, penerbit, dan juga buku itu sendiri. Maka peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei akhirnya bukan sekadar seremonial belaka. Ia adalah sebuah estafet peradaban. Jika di abad ke-18 sebuah kelompok ilmuwan kuno bisa memulai fondasi literasi dengan semboyan ‘Untuk Kepentingan Umum’, maka hari ini, di era digital yang serbacepat, tugas kita adalah menjaga api tersebut agar tidak padam. Membaca—seperti yang dikatakan Ust. Makki Lazuardi—adalah ‘mukjizat’ yang membuat kita bisa membelah lintas waktu dan ruang, menyerap kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan. sumber: Kompas.com, Wikipedia, Perpustakaan Universitas Brawijaya, Pusdiklat perpusnas, detik.com.            

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18 Read More »

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Udhiyyah, adalah salah satu hari di mana kehangatan di antara umat muslim terasa pekat. Gema takbir menghiasi langit-langit masjid Baitul Ghaffar. Dari sore hari Arafah sampai beberapa hari ke depan.             Suara Hb. Alwi Baharun -selaku khatib yang berwibawa- sangat menyentuh hati di kala rindu kita kepada suasana hari raya di rumah. Khutbah yang singkat, tapi dapat membuat hati dan pikiran menjadi tenang dan bersih seperti bagian dalam kulit hewan kurban yang baru disembelih.             Di sini, di pondok pesantren, tempat di mana kita para santri merayakan hari raya dengan sederhana. Tidak ada suara tawa dari keluarga, tidak ada aroma masakan orang tua yang hangat, dan tidak ada foto-foto di ruang keluarga.             Tapi itu semua tidak menutupi kebahagiaan kami dalam menyambut hari raya ini. Memang tidak ada tawa keluarga dan orang tua, tak apa. Sebagai gantinya, ada canda tawa dan sorakan ria dari teman-teman seperjuangan, rekan Khidmah dan saudara sedaerah. Aroma masakan dapur pesantren, dan foto di bingkai kamar pun tak kalah hangat dengan aktivitas-aktivitas lebaran di ruang keluarga.             Dan pada saat malam nyate akbar rasa rindu itu menguap bersamaan dengan kebulan asap dari daging yang terpanggang di sebentangan lapangan pesantren selalu menjadi kehangatan baru di antara himpitan bangunan asrama. Langit malam menjadi kabur dengan asap sate yang terpanggang. Maka sungguh tidak heran para warga setempat dengan fenomena ‘evaporasi’ yang terjadi di malam ayyam tasyrik di pesantren kita yang tercinta ini.             Dan dari kehangatan inilah muncul semangat belajar dan Khidmah para santri. Kerinduan terhadap suasana lebaran di rumah bersama keluarga memanglah tak terelakkan. Tapi demi ilmu, Allah dan Rasul-Nya lah kami rela menghadapi ini semua. Dan di sini, di pondok pesantren Darrullughah Wad Da’wah. Kami para santri abuya bertekad untuk menyambung lisan dan mewarisi lisan serta kalam Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan karena kerinduan yang tak bisa dilampiaskan dengan kata-kata. Al-faqir selaku penulis dan perwakilan santri yang merindukan keluarganya, menumpahkan kerinduan kami di atas tulisan. Dan dengan ini juga penulis dan segenap pustakawan ingin mengucapkan kepada kalian para pembaca: ” Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H “ By : Muhammad Sidqi

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri Read More »

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial

Perintah ibadah kurban (Udhiyyah) yang dirayakan setiap bulan Zulhijah sebenarnya merupakan sebuah revolusi teologis dan kemanusiaan yang sangat radikal jika ditarik dari garis sejarah peradaban kuno. Islam mengubah total wajah pengorbanan yang semula bersifat transaksional, kelam, dan mengerikan, menjadi sebuah ritual yang sarat akan nilai tauhid serta berdampak sosial kemasyarakatan. Sebelum syariat ini diturunkan, lanskap religius Timur Tengah Kuno diwarnai oleh tradisi ekstrem seperti penyembahan kepada Dewa Molekh, di mana masyarakat Kanaan dan Fenisia tega mengorbankan anak kandung mereka sendiri di atas patung perunggu yang membara demi meraih kesuburan tanah atau kemenangan perang. Horor masa lalu inilah yang melatarbelakangi ujian berat Nabi Ibrahim AS, namun ketika pisau siap digoreskan, Allah SWT mengganti sang putra dengan seekor domba besar sebagai deklarasi tegas bahwa nyawa manusia adalah suci dan pengorbanan manusia harus dihentikan. Dalam tradisi Islam, peristiwa agung yang terekam dalam surah As-Saffat ini menyisakan perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama mengenai siapakah putra yang diperintahkan untuk disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Perdebatan ini telah membelah opini sejak masa sahabat, di mana sebagian kecil seperti Umar bin Khattab dan Ibnu Mas’ud cenderung menunjuk Nabi Ishaq, yang juga sejalan dengan narasi tradisi Ahli Kitab. Namun, mayoritas mutlak (jumhur) ulama tafsir dan ahli sejarah Islam menegaskan bahwa sosok yang hendak dikorbankan tersebut adalah Nabi Ismail AS. Pendapat jumhur ulama ini menjadi kuat karena bersandar pada argumen tekstual (istinbat) yang kokoh dari urutan kronologi ayat dan logika kebahasaan Al-Qur’an. Pada bagian awal kisah di surah As-Saffat, Allah memberi kabar gembira tentang kelahiran anak yang sangat sabar (ghulam halim) yang kemudian tumbuh remaja dan menjalani ujian penyembelihan tersebut. Nama Nabi Ishaq sendiri baru disebut secara eksplisit pada ayat 112, setelah seluruh rangkaian ujian penyembelihan selesai dan Nabi Ibrahim dinyatakan lulus. Berdasarkan struktur tersebut, jumhur ulama berkomentar bahwa penggunaan kata sambung “Wabasysyarnahu” (Dan Kami beri kabar gembira lagi kepadanya) sebelum nama Ishaq menunjukkan adanya dua peristiwa yang berbeda waktu. Kabar gembira pertama di awal rangkaian ayat adalah tentang kelahiran Ismail sebagai anak pertama yang akan disembelih, sedangkan penyebutan nama Ishaq di akhir ayat merupakan “hadiah tambahan” atau kabar gembira kedua atas keberhasilan Nabi Ibrahim melewati ujian besar tersebut. Jumhur juga menambahkan analisis kritis bahwa jika Ishaq yang disembelih, maka hal itu akan kontradiktif dengan surah Hud ayat 71 yang sejak awal sudah menjamin bahwa Ishaq akan hidup purna bahkan memiliki keturunan bernama Ya’qub. Sebuah ujian penyembelihan tidak akan menjadi logis bagi seorang ayah jika ia sudah mengetahui secara pasti bahwa anaknya dijamin berumur panjang untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penyebutan nama Ishaq di beberapa ayat setelah kisah penyembelihan justru menjadi penegas bagi jumhur bahwa anak yang berserah diri di atas tempat penyembelihan itu adalah sang kakak, Nabi Ismail AS. Melalui pembuktian iman Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail inilah, Allah SWT meruntuhkan hakikat pengorbanan kuno yang bersifat destruktif dan egois. Allah menegaskan bahwa Dia sama sekali tidak membutuhkan daging maupun darah dari hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati dari hamba-Nya yang berkurban. Udhiyyah akhirnya lahir sebagai ibadah yang membumi, di mana esensi spiritualitas vertikal kepada Tuhan langsung dimanifestasikan ke dalam aksi sosial horizontal kepada sesama manusia. Melalui Revolusi Udhiyyah ini, hewan kurban tidak lagi dibakar sia-sia di atas altar pemujaan seperti ritual masa lalu, melainkan disembelih untuk kemudian dagingnya didistribusikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar. Tradisi ini berhasil mengubah ketakutan menjadi berkah, serta menghapus sekat sosial antara si kaya dan si miskin dalam momen kebersamaan yang setara. Pada akhirnya, kurban dalam Islam menjadi lambang keadilan sosial yang menegaskan bahwa mendekatkan diri kepada Pencipta harus ditempuh dengan cara peduli dan berbagi kebahagiaan kepada sesama makhluk-Nya. By : Muhammad sidqi

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial Read More »