Artikel

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Ternyata Instansi yang pertama kali mendirikan perpusnas bukan dari orang pribumi melainkan sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara?!             Pada tahun 1778 sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen   memiliki koleksi dan perpustakaan di Batavia, atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Jakarta. Dari perpustakaan ini lah berangkatnya perpusnas yang sekarang.              Sebelum kita lanjut, ada bagusnya kita mengenal singkat tentang instansi ini. Pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Indonesia, adalah Jacob Cornelis Matthieu Radermacher seorang naturalis berbakat dan berpengaruh di tanah jajahan negaranya. Instansi atau kelompok yang didirikan di Batavia pada 24 April 1778 ini adalah kelompok cendikiawan bangsa naturalis dan bangsa pribumi yang  memiliki tujuan untuk memajukan penelitian pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan Hindia Belanda.  Mereka memiliki semboyan yang mereka junjung tinggi yang di sebut dengan “Ten Nutte van het Algemeen” yang berarti “Untuk Kepentingan Umum”. Dengan semboyan ini lah mereka tumbuh dengan pengaruh besar bagi bangsa tanah jajahan. Dan dengan ini juga mereka berkembang menjadi sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal perpustakaan dan museum nasional Indonesia atau Museum Gajah.             Dan kemudian bersamaan dengan merdekanya bumi pertiwi ini berakhirnya kelompok tersebut. Lebih tepatnya pada tepatnya pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan kemudian institusi bersejarah ini diserahkan kepada pemerintahan NKRI dan koleksinya dijadikan sebagai museum nasional seperti yang kita lihat sekarang.             Lantas apa peran kelompok ini dalam dunia kepustakawanan dan kearsipan Indonesia? Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen menjadi pelopor dan peletak batu pertama perpustakaan nasional republik Indonesia (Perpusnas). Dengan perpustakaan pertama yang mereka dirikan pada abad ke-18 menjadi Langkah awal terkumpulnya koleksi naskah kuno dan literatur yang kemudian di lestarikan dan di kembangkan oleh badan perpustakaan nasional republik Indonesia.             Lantas pula apakah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berhak di sebut sebagai pendiri perpusnas? Tidak, akan tetapi mereka berhak di sebut sebagai pelopor pengumpulan koleksi naskah atau penyedia fondasi fisik bacaan di NKRI.           Tanggal 17 Mei pada tahun 1980 merujuk pada awal pencanangan berdirinya perpustakaan nasional yang merupakan Lembaga yang menjadi symbol penting pengelolaan pengetahuan dan perkembangan kebudayaan serta literatur bangsa Indonesia. Pertama didirikan dan di resmikan pada tanggal itu oleh Dr. Daoed Joesoef selaku menteri Pendidikan dan kebudayaan tahun 1978-1983.             Melalui surat dari kementerian Pendidikan dan kebudayaan No. 0164/0/1980, Dr. Daoed Joesoef menggabungkan 4 perpustakaan nasional yang berdiri di bawah direktorat jenderal kebudayaan menjadi sebuah kesatuan : –  Perpustakaan Museum Nasional (berdiri sejak 1778) – Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial (berdiri sejak 1920) – Perpustakaan Negara Jakarta (berdiri sejak 1950) – Kantor Bibliografi Nasional (berdiri sejak 1953)               Dengan tujuan memperluas akses literatur, manuskrip kuno, dan dokumen arsip sejarah negara, serta agar dapat di lestarikan dan dikelola di bawah Lembaga nasional yang profesional.             Lalu rampungnya penyatuan fisik Lembaga perpusnas pada Januari tahun 1981.             Kemudian 22 tahun setelahnya tanggal 17 Mei mendapat julukan dan makna baru. Abdul Malik Fadjar, menteri Pendidikan nasional kabinet gotong royong tahun 2001-2004  menggagas harbuknas (hari buku nasional).             Pada mulanya hari buku nasional dirayakan dengan adanya pesta literasi di perpusda setempat secara sederhana. Namun seiring berkembangnnya zaman, perayaan ini menjadi lebih modern dan fresh. Di isi dengan adanya bazar buku, pameran, dan acara perlombaan tergantung Lembaga yang mengadakannya. Bahkan beberapa instansi ada yang mengadakan seminar literasi dengan mengundang pemateri yang berpengalaman dalam bidang literasi dan kepenulisan.             Dan tujuan Abdul Malik Fadjar menggagas harbuknas ini dengan tujuan meningkatkan minat literasi lintas generasi. Karena literasi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan insan pertiwi.  Ust. Makki Lazuardi. M.Pd menyebutkan dalam seminar beliau bahwa manfaat literasi sangatlah tak terhingga. Dan beberapa diantaranya adalah: Dan diantaranya yang paling memukau adalah dapat membelah lintas waktu dan tempat. dengan tersebarnya manuskrip-manuskrip, pembaca dapat menyerap wawasan serta keilmuan sang penulis meskipun terpisah jarak dan waktu. Selain itu tujuan dari peringatan Hari Buku Nasional ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemar membaca dan memiliki literasi yang tinggi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa serta meningkatkan penghargaan terhadap profesi penulis, penerbit, dan juga buku itu sendiri. Maka peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei akhirnya bukan sekadar seremonial belaka. Ia adalah sebuah estafet peradaban. Jika di abad ke-18 sebuah kelompok ilmuwan kuno bisa memulai fondasi literasi dengan semboyan ‘Untuk Kepentingan Umum’, maka hari ini, di era digital yang serbacepat, tugas kita adalah menjaga api tersebut agar tidak padam. Membaca—seperti yang dikatakan Ust. Makki Lazuardi—adalah ‘mukjizat’ yang membuat kita bisa membelah lintas waktu dan ruang, menyerap kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan. sumber: Kompas.com, Wikipedia, Perpustakaan Universitas Brawijaya, Pusdiklat perpusnas, detik.com.            

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18 Read More »

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Udhiyyah, adalah salah satu hari di mana kehangatan di antara umat muslim terasa pekat. Gema takbir menghiasi langit-langit masjid Baitul Ghaffar. Dari sore hari Arafah sampai beberapa hari ke depan.             Suara Hb. Alwi Baharun -selaku khatib yang berwibawa- sangat menyentuh hati di kala rindu kita kepada suasana hari raya di rumah. Khutbah yang singkat, tapi dapat membuat hati dan pikiran menjadi tenang dan bersih seperti bagian dalam kulit hewan kurban yang baru disembelih.             Di sini, di pondok pesantren, tempat di mana kita para santri merayakan hari raya dengan sederhana. Tidak ada suara tawa dari keluarga, tidak ada aroma masakan orang tua yang hangat, dan tidak ada foto-foto di ruang keluarga.             Tapi itu semua tidak menutupi kebahagiaan kami dalam menyambut hari raya ini. Memang tidak ada tawa keluarga dan orang tua, tak apa. Sebagai gantinya, ada canda tawa dan sorakan ria dari teman-teman seperjuangan, rekan Khidmah dan saudara sedaerah. Aroma masakan dapur pesantren, dan foto di bingkai kamar pun tak kalah hangat dengan aktivitas-aktivitas lebaran di ruang keluarga.             Dan pada saat malam nyate akbar rasa rindu itu menguap bersamaan dengan kebulan asap dari daging yang terpanggang di sebentangan lapangan pesantren selalu menjadi kehangatan baru di antara himpitan bangunan asrama. Langit malam menjadi kabur dengan asap sate yang terpanggang. Maka sungguh tidak heran para warga setempat dengan fenomena ‘evaporasi’ yang terjadi di malam ayyam tasyrik di pesantren kita yang tercinta ini.             Dan dari kehangatan inilah muncul semangat belajar dan Khidmah para santri. Kerinduan terhadap suasana lebaran di rumah bersama keluarga memanglah tak terelakkan. Tapi demi ilmu, Allah dan Rasul-Nya lah kami rela menghadapi ini semua. Dan di sini, di pondok pesantren Darrullughah Wad Da’wah. Kami para santri abuya bertekad untuk menyambung lisan dan mewarisi lisan serta kalam Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan karena kerinduan yang tak bisa dilampiaskan dengan kata-kata. Al-faqir selaku penulis dan perwakilan santri yang merindukan keluarganya, menumpahkan kerinduan kami di atas tulisan. Dan dengan ini juga penulis dan segenap pustakawan ingin mengucapkan kepada kalian para pembaca: ” Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H “ By : Muhammad Sidqi

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri Read More »

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial

Perintah ibadah kurban (Udhiyyah) yang dirayakan setiap bulan Zulhijah sebenarnya merupakan sebuah revolusi teologis dan kemanusiaan yang sangat radikal jika ditarik dari garis sejarah peradaban kuno. Islam mengubah total wajah pengorbanan yang semula bersifat transaksional, kelam, dan mengerikan, menjadi sebuah ritual yang sarat akan nilai tauhid serta berdampak sosial kemasyarakatan. Sebelum syariat ini diturunkan, lanskap religius Timur Tengah Kuno diwarnai oleh tradisi ekstrem seperti penyembahan kepada Dewa Molekh, di mana masyarakat Kanaan dan Fenisia tega mengorbankan anak kandung mereka sendiri di atas patung perunggu yang membara demi meraih kesuburan tanah atau kemenangan perang. Horor masa lalu inilah yang melatarbelakangi ujian berat Nabi Ibrahim AS, namun ketika pisau siap digoreskan, Allah SWT mengganti sang putra dengan seekor domba besar sebagai deklarasi tegas bahwa nyawa manusia adalah suci dan pengorbanan manusia harus dihentikan. Dalam tradisi Islam, peristiwa agung yang terekam dalam surah As-Saffat ini menyisakan perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama mengenai siapakah putra yang diperintahkan untuk disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Perdebatan ini telah membelah opini sejak masa sahabat, di mana sebagian kecil seperti Umar bin Khattab dan Ibnu Mas’ud cenderung menunjuk Nabi Ishaq, yang juga sejalan dengan narasi tradisi Ahli Kitab. Namun, mayoritas mutlak (jumhur) ulama tafsir dan ahli sejarah Islam menegaskan bahwa sosok yang hendak dikorbankan tersebut adalah Nabi Ismail AS. Pendapat jumhur ulama ini menjadi kuat karena bersandar pada argumen tekstual (istinbat) yang kokoh dari urutan kronologi ayat dan logika kebahasaan Al-Qur’an. Pada bagian awal kisah di surah As-Saffat, Allah memberi kabar gembira tentang kelahiran anak yang sangat sabar (ghulam halim) yang kemudian tumbuh remaja dan menjalani ujian penyembelihan tersebut. Nama Nabi Ishaq sendiri baru disebut secara eksplisit pada ayat 112, setelah seluruh rangkaian ujian penyembelihan selesai dan Nabi Ibrahim dinyatakan lulus. Berdasarkan struktur tersebut, jumhur ulama berkomentar bahwa penggunaan kata sambung “Wabasysyarnahu” (Dan Kami beri kabar gembira lagi kepadanya) sebelum nama Ishaq menunjukkan adanya dua peristiwa yang berbeda waktu. Kabar gembira pertama di awal rangkaian ayat adalah tentang kelahiran Ismail sebagai anak pertama yang akan disembelih, sedangkan penyebutan nama Ishaq di akhir ayat merupakan “hadiah tambahan” atau kabar gembira kedua atas keberhasilan Nabi Ibrahim melewati ujian besar tersebut. Jumhur juga menambahkan analisis kritis bahwa jika Ishaq yang disembelih, maka hal itu akan kontradiktif dengan surah Hud ayat 71 yang sejak awal sudah menjamin bahwa Ishaq akan hidup purna bahkan memiliki keturunan bernama Ya’qub. Sebuah ujian penyembelihan tidak akan menjadi logis bagi seorang ayah jika ia sudah mengetahui secara pasti bahwa anaknya dijamin berumur panjang untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penyebutan nama Ishaq di beberapa ayat setelah kisah penyembelihan justru menjadi penegas bagi jumhur bahwa anak yang berserah diri di atas tempat penyembelihan itu adalah sang kakak, Nabi Ismail AS. Melalui pembuktian iman Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail inilah, Allah SWT meruntuhkan hakikat pengorbanan kuno yang bersifat destruktif dan egois. Allah menegaskan bahwa Dia sama sekali tidak membutuhkan daging maupun darah dari hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati dari hamba-Nya yang berkurban. Udhiyyah akhirnya lahir sebagai ibadah yang membumi, di mana esensi spiritualitas vertikal kepada Tuhan langsung dimanifestasikan ke dalam aksi sosial horizontal kepada sesama manusia. Melalui Revolusi Udhiyyah ini, hewan kurban tidak lagi dibakar sia-sia di atas altar pemujaan seperti ritual masa lalu, melainkan disembelih untuk kemudian dagingnya didistribusikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar. Tradisi ini berhasil mengubah ketakutan menjadi berkah, serta menghapus sekat sosial antara si kaya dan si miskin dalam momen kebersamaan yang setara. Pada akhirnya, kurban dalam Islam menjadi lambang keadilan sosial yang menegaskan bahwa mendekatkan diri kepada Pencipta harus ditempuh dengan cara peduli dan berbagi kebahagiaan kepada sesama makhluk-Nya. By : Muhammad sidqi

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial Read More »

MENYINGKAP RAHASIA ONTOLOGIS DI BALIK DARAH YANG MENGALIR

Lebih dari Sekadar Ritual Karnivora Sering kali, kurban hanya dipandang sebagai distribusi protein hewani bagi fakir miskin. Namun, jika kita menyelami ribuan jilid di rak perpustakaan Turast, kita akan menemukan bahwa kurban (dari akar kata Qurb) adalah sebuah teknologi spiritual untuk membedah ego manusia. Ini bukan tentang mematikan hewan, melainkan tentang “menyembelih” sifat kebinatangan yang bersemayam dalam diri manusia itu sendiri. Dialog Sunyi di Atas Bukit Moria Mari kita bayangkan sebuah fragmen yang jarang dinarasikan secara detail dalam teks-teks populer. Di atas bukit yang sunyi, Ibrahim AS tidak sedang berhadapan dengan Ismail AS semata. Ia sedang berhadapan dengan “Ismail” sebagai simbol kecintaan duniawi yang paling puncak. “Wahai Ayahku, tajamkanlah parangmu, agar aku tak tersiksa terlalu lama,” bisik Ismail dalam sebuah riwayat yang menggetarkan arsy. Secara ilmiah-psikologis, ini adalah puncak dari Total Submission (Islam). Ismail tidak memposisikan dirinya sebagai korban, melainkan sebagai partner dalam ketaatan. Di sinilah letak dialektika menariknya: Kurban bukanlah tragedi pembunuhan, melainkan simfoni pelepasan. Ketika pisau menyentuh kulit, Allah menggantinya dengan domba bukan karena Allah ingin darah hewan, melainkan karena “Ibrahim yang lama” telah mati dan lahir sebagai “Ibrahim yang baru”. Hubungan Metafisis Darah dan Tanah Dalam kajian fikih yang lebih mendalam (complex jurisprudence), terdapat pembahasan yang jarang tersentuh mengenai “Nafs” (Nyawa) hewan yang dikurbankan. Beberapa ulama sufi-intelektual menyebutkan bahwa hewan kurban mengalami Irtika’ (kenaikan derajat). Hewan tersebut tidak mati sia-sia; ia bertransformasi dari makhluk biologis menjadi saksi metafisis di Yaumul Mizan. Darah yang menetes ke bumi sebelum sampai ke tanah, secara hakiki telah sampai kepada rida Allah. Ini adalah konsep Transmutasi Energi Spiritual—di mana materi (hewan) dikonversi menjadi cahaya (nur) yang menyinari jalan pelakunya di atas Sirath. Antara Simbol dan Substansi Di era digital, tantangan kurban bergeser. Muncul pertanyaan kompleks: Apakah kurban digital via aplikasi mengurangi esensi ‘penumpahan darah’ (Ihraq ad-Dam)? Secara manhaj keilmuan, para Muharrir di forum seperti El-Mufiq pasti akan berargumen bahwa unsur ta’abbudi (ritual murni) dalam menumpahkan darah tidak bisa digantikan hanya dengan transfer nominal uang. Ada rahasia pada gemetar tangan saat memegang pisau, ada hikmah pada aroma darah yang tercium, dan ada keberkahan pada pengulitan yang dilakukan bersama-sama. Itulah “ruh” perpustakaan yang hidup—di mana teks klasik bertemu dengan aksi nyata. Menjadi Sang ‘Qarib’ Kurban adalah undangan untuk menjadi Qarib (yang dekat). Jika setelah Idul Adha kita masih merasa jauh dari Tuhan dan sesama, mungkin yang kita sembelih hanyalah hewan, sementara “sifat kehewanan” dalam diri kita masih tumbuh subur. Mari kita jadikan momentum ini bukan sekadar pesta pora daging, melainkan sebuah bedah saraf ruhani. Sebagaimana kitab-kitab di perpustakaan kita yang diam namun berbicara, biarlah kurban kita menjadi diam secara lisan namun berteriak lantang dalam timbangan amal. Kesimpulan Ilmiah: Kurban adalah rekonsiliasi antara manusia, hewan, dan Tuhan. Ia adalah bukti bahwa untuk mencapai level “Manusia Paripurna”, seseorang harus berani melepaskan apa yang paling ia cintai demi apa yang paling ia Imani.

MENYINGKAP RAHASIA ONTOLOGIS DI BALIK DARAH YANG MENGALIR Read More »