Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri

Written by: Muhammad. S. Qushayyi

Udhiyyah, adalah salah satu hari di mana kehangatan di antara umat muslim terasa pekat. Gema takbir menghiasi langit-langit masjid Baitul Ghaffar. Dari sore hari Arafah sampai beberapa hari ke depan.

            Suara Hb. Alwi Baharun -selaku khatib yang berwibawa- sangat menyentuh hati di kala rindu kita kepada suasana hari raya di rumah. Khutbah yang singkat, tapi dapat membuat hati dan pikiran menjadi tenang dan bersih seperti bagian dalam kulit hewan kurban yang baru disembelih.

            Di sini, di pondok pesantren, tempat di mana kita para santri merayakan hari raya dengan sederhana. Tidak ada suara tawa dari keluarga, tidak ada aroma masakan orang tua yang hangat, dan tidak ada foto-foto di ruang keluarga.

            Tapi itu semua tidak menutupi kebahagiaan kami dalam menyambut hari raya ini. Memang tidak ada tawa keluarga dan orang tua, tak apa. Sebagai gantinya, ada canda tawa dan sorakan ria dari teman-teman seperjuangan, rekan Khidmah dan saudara sedaerah. Aroma masakan dapur pesantren, dan foto di bingkai kamar pun tak kalah hangat dengan aktivitas-aktivitas lebaran di ruang keluarga.

            Dan pada saat malam nyate akbar rasa rindu itu menguap bersamaan dengan kebulan asap dari daging yang terpanggang di sebentangan lapangan pesantren selalu menjadi kehangatan baru di antara himpitan bangunan asrama. Langit malam menjadi kabur dengan asap sate yang terpanggang. Maka sungguh tidak heran para warga setempat dengan fenomena ‘evaporasi’ yang terjadi di malam ayyam tasyrik di pesantren kita yang tercinta ini.

            Dan dari kehangatan inilah muncul semangat belajar dan Khidmah para santri. Kerinduan terhadap suasana lebaran di rumah bersama keluarga memanglah tak terelakkan. Tapi demi ilmu, Allah dan Rasul-Nya lah kami rela menghadapi ini semua.

Dan di sini, di pondok pesantren Darrullughah Wad Da’wah. Kami para santri abuya bertekad untuk menyambung lisan dan mewarisi lisan serta kalam Nabi kita, Nabi Muhammad SAW.

Dan karena kerinduan yang tak bisa dilampiaskan dengan kata-kata. Al-faqir selaku penulis dan perwakilan santri yang merindukan keluarganya, menumpahkan kerinduan kami di atas tulisan. Dan dengan ini juga penulis dan segenap pustakawan ingin mengucapkan kepada kalian para pembaca:

” Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H “

By : Muhammad Sidqi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *