The Power Of Networking

By : Nawawi (Malaysia)

Networking atau lebih mesra dikenal sebagai wasilah yang berasal dari kata Bahasa Arab, yaitu dari ( وَسَلَ – يَسِلُ – وَسْلاً/وَسِيْلَةً ) , yang berarti menyampaikan, menghubungkan, atau menyambungkan satu hal ke hal lainnya. Adapun dari segi istilah media, sarana, atau jalan yang digunakan seseorang hamba kepada Allah SWT guna mendapatkan keridaan-Nya atau agar doa-doanya dikabulkan. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam berbagai dalil shahih,diantaranya:

  • Dalil Al-Qur’an (Surat Al-Ma’idah ayat 35): Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۝٣٥

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung.

  • Dalil Hadis (HR. At-Tirmidzi No. 3578): Kisah seorang sahabat tunanetra yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk berdoa dengan kalimat tawasul, yaitu: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan perantara Nabi-Mu Muhammad, Nabi pembawa rahmat…”

Ditnjau dari dalil diatas, ini menunjukkan bahawanya wasilah dan networking mempunyai esensi yang sama; dimana keduanya menolak sifat sombong dan mengutamkan silaturrahmi. Adapun yang mengbedakan diantara keduanya adalah:

  • Networking sebagai Wasilah Bumi: Membangun relasi dengan manusia adalah sarana nyata (wasilah) untuk menjemput rezeki dan peluang kerja.
  • Wasilah sebagai Networking Langit: titik temu konseptual di mana keinginan makhluk melebur ke dalam ridha Sang Pencipta, sehingga memicu pergeseran takdir.

Diantara bukti nyata dari kedahsyatan “Networking Langit” tersebut ialah diambil dari kisah yang diceritakan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat tentang tiga orang pemuda sedang melakukan perjalanan jauh (musafir) bersama-sama. Di tengah perjalanan, cuaca buruk menimpa sehingga mereka terpaksa mencari tempat berlindung untuk bermalam. Mereka menemukan gua di kaki gunung dan masuk kedalam nya. Disini Tuhan berkehendak untuk menutup mulut gua itu dengan batu raksasa yang jatuh tepat kearahnya. Suasana menjadi sangat gelap gulita dan kedap tanpa celah untuk keluar sedikit pun. Mereka berusaha menggeser batu raksaasa itu namun sekeras apa pun mereka mendorong, batu besar itu tetap bergeming mengunci mulut gua. Ketika keputusasaan hampir menghampiri karena tahu tidak ada satu pun manusia yang bisa menolong, salah satu dari mereka mengusulkan untuk berdoa langsung kepada Allah SWT, dengan menjadikan amal paling ikhlas dalam hidup mereka sebagai Wasilah (Networking Langit).

Pemuda pertama maju melangkah di tengah keheningan gua yang mencekam, ia mengetuk pintu langit sembari mengisahkan tentang bakti yang luar biasa kepada ibu bapanya yang sudah lansia. Setiap hari, ia bekerja sebagai seorang pengembala dan selalu mendahulukan orang tuanya untuk meminum hasil perahannya, bahkan sebelum anak, istri, maupun budaknya sendiri tersentuh minuman tersebut. Hingga suatu hari, sebuah ujian keikhlasan datang ketika ia pulang sangat terlambat akibat mencari tempat gembalaan yang teramat jauh. Sesampainya di rumah, ia mendapati kedua orang tuannya telah tertidur pulas. Didorong rasa cinta dan hormat yang mendalam, ia enggan membngunkan mereka, namun ia juga merasa tabu untuk memberkan susu itu kepada anak-anaknya yang saat itu sedang menangis kelaparan di bawah kakinya. Tanpa mengeluh, ia memilih berdiri tegak memegang gelas susu di samping tempat tidur orang tuannya semalaman suntuk hingga fajar menyingsing demi menunggu mereka terbangun.

Mengingat ketulusan ikhtiar itu, di tengah keheningan gua ia pun bersimpuh dalam doanya yang berbunyi:

Ya Allah, Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan demikian demi mengharap Rida-Mu maka bukakanlah celah (gua) ini agar kami bisa melihat langit

Seketika itu juga, “Networking Langit” menunjukkan keajaibannya; Batu besar yang aslinya menutup penuh mulut gua tersebut kini bergeser sedikit, meskipun celahnya masih telalu sempit bagi mereka untuk melosok keluar.

Tatkala gua kembali dalam suasana keheningan, suasana mencekam itu seolah dikuasai oleh detakan jantung yang berdegup kencang. Pemuda kedua melangkah maju di hadapan dinding batu yang menjadi saksi bisu bagi seseorang yang sedang mengetuk pintu langit dengan membawa sebuah investasi takwa yang teramat berat, yakni kemenangannya melawan gejolak hawa nafsu yang membara. Di hadapan sorot cahaya yang menembus celah sempit itu, ia berbisik lirih, menyingkapkan lembaran masa lalunya yang sempat dibutakan obsesi cinta kepada sepupu perempuannya. Ketika tiba suatu masa kemiskinan dan kelaparan mendorong perempuan tersebut untuk mengemis bantuan finansial, hingga memaksanya menjadikan sosok pemuda tersebut sebagai satu-satunya jangkar keselamatannya demi menyambung nyawa. Lembaran uang 120 dinar pun disodorkan ke perempuan tersebut bukan sebagai bantuan tanpa tuntutan, melainkan sebagai alat tukar kehormatan suci sang wanita.

Ketika segalanya telah siap dan celah kemungkaran terbuka lebar tanpa ada satu pun mata manusia yang melihat, tepat di titik nadir sang wanita menangis gemetar sambil membisikkan satu kalimat yang memukul hati dan perasaannya: “Takutlah kepada Allah SWT dan janganlah kamu pecahkan cincin keperawanan ini kecuali dengan cara yang sah.” Seketika itu juga, kalimat tersebut mengetuk hatinya laksana ketukan keras yang meruntuhkan ego dan badai syahwatnya. Kini rasa takut dan kehampaan yang mendalam menghantui dirinya kepada Sang Khalik. Tanpa berpikir panjang, ia lebih memilih untuk mundur, bangkit berdiri meninggalkan wanita yang paling dicintainya, dan mengikhlaskan harta ratusan dinar itu dibawa pergi olehnya tanpa menuntut imbalan apa pun.

Berwasilah dengan ketakwaan yang mendorongnya ke jalan yang lurus itu, di bawah secercah cahaya ia pun menunduk khusyuk dan berdoa, seakan jiwanya sedang bertemu langsung ke hadapan Tuhannya, lalu ia berkata:

“Ya Allah, bukakanlah celah gua ini jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan perbuatan tersebut murni mengharap Rida-Mu.”

Hasilnya nyata; investasi takwa tersebut menggerakkan roda Spiritual Networking untuk melakukan keajaibannya menggeser batu raksasa itu untuk kedua kalinya. Meskipun mereka masih tidak bisa keluar dengan geseran kedua ini, namun geseran tersebut memberikan celah udara kepada mereka dan membawa mereka selangkah lebih dekat menuju gerbang keselamatan.

Kini celah sudah terbuka, cahaya sudah terpancar menembus kegelapan gua yang pekat. Di bawah sinar yang bakal menentukan takdir mereka, pemuda ketiga pun melangkah maju ke bawah di hadapan barikade batu yang dingin untuk melengkapi misi dari jaringan spiritual yang tersisa. Ia membawa sebuah amal integritas yang sangat mulia—sebuah ikatan universal di mana kejujuran mutlak melahirkan rasa percaya tanpa batas, dan hak orang lain dijaga ketat melampaui ego kepemilikan materi, atau yang lebih dikenal sebagai “High-Trust Networking”.

Kisah ini bermula ketika ia bertindak sebagai pemilik modal yang mempekerjakan beberapa buruh di tanahnya. Suatu hari, salah seorang pekerjanya pergi begitu saja sebelum sempat mengambil upah yang menjadi haknya. Di sinilah kejujuran pemuda tersebut diuji. Ia tidak memasukkan uang tersebut ke kantong sendiri sebagai keuntungan pribadinya, justru pemuda tersebut menjadikan uang tersebut sebagai sebuah reinvestasi bagi usahanya dan mengelolanya dengan jujur, karena pemuda tersebut mengetahui bahwa uang tersebut tidak pantas untuk dijadikan santapan sehari-hari. Dari modal yang sekecil itu hingga menjadikan usahanya berkembang pesat dan akhirnya menghasilkan kawanan ternak yang melimpah ruah di sebuah lembah itu.

Tahun demi tahun pun berganti, dari yang kecil kini sudah membesar, mantan pekerjanya kembali dalam kondisi ekonomi yang terpuruk. Ia datang kepada pemuda tersebut bukan ingin kembali, tapi menuntut kembali hak yang sepatutnya diberi. Ia berkata:

“ Bertakwalah kamu kepada Allah,  janganlah kamu menzalimi diriku, dan berikanlah upahku yang dulu”

Ketika ia menghadapi tuntutan tersebut, sang pemuda tidak hanya mengembalikan sejumlah nominal yang kecil itu, bahkan usaha dari nominal sekecil itu juga diberikan kepadanya secara lapang hati yang luar biasa dengan berkata:

“Ambillah seluruh sapi, kambing, dan para penggembala itu, karena semua itu adalah hasil perputaran dari upahmu yang dulu.”

Mantan buruh itu tertegun, mengira dirinya sedang dipermainkan di tengah nasibnya ini. Namun setelah diyakinkan dengan amanah tersebut, seluruh kekayaannya dibawa pergi oleh si buruh tersebut tanpa menyisakan sepeser pun keuntungan bagi sang pemuda.

Dengan bermodalkan amal kejujurannya tersebut, ia pun memberanikan diri mengetuk pintu rahmat Ilahi lalu berdoa:

“Ya Allah, jikalau aku melakukan perbuatan tersebut benar-benar ikhlas karena mengharap rida-Mu, maka bukakanlah celah dari kesulitan yang mengurung kami ini.”

Hasilnya paripurna; investasi takwa dan kejujuran tersebut menggerakkan respons final dari kekuatan Spiritual Networking. Roda keajaiban berputar seketika, menggeser batu raksasa tersebut secara total untuk ketiga kalinya. Mulut gua terbuka lebar secara utuh, membebaskan mereka dari jerat maut, dan membuktikan bahwa jaringan yang dibangun dengan integritas universal akan selalu menemukan jalan keluar menuju gerbang keselamatan.

Esensi utama dari artikel ini menegaskan bahwa wasilah atau networking langit bukanlah sebuah alat materi yang mati, melainkan sebuah tindakan hidup yang digerakkan oleh ketulusan jiwa . Uang, ternak, status, maupun benda fisik lainnya hanyalah instrumen bumi; mereka baru bertransformasi menjadi wasilah spiritual saat digerakkan oleh keputusan moral manusia yang murni demi mengharap rida Allah .

Pada akhirnya, artikel ini membawa kita pada satu kesimpulan bahwa untuk mengetuk pintu rahmat Ilahi, manusia tidak bisa sekadar mengandalkan transaksi materi. “Spiritual Networking” yang sesungguhnya adalah tentang bagaimana kita menghidupkan nilai takwa dan keikhlasan dalam setiap jengkal perbuatan kita. Ketika integritas universal itu telah mendarat di dalam tindakan nyata, di situlah wasilah langit bekerja secara paripurna untuk memutar roda keajaiban dan membukakan jalan keluar dari setiap jerat kebuntuan hidup.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *