Nuh Rayyan (Tadawul)

Kunjungan Direktur Madani Prabu Jaya Travel Haji & Umrah ke Perpustakaan Dalwa

Pada Sabtu, 18 Juli 2026, Perpustakaan Dalwa menerima kunjungan istimewa dari Direktur Madani Prabu Jaya Travel Haji & Umrah, Al-Habib Hud bin Abdullah bin Ibrus Assegaf dari Surabaya. Kedatangan beliau disambut hangat dan didampingi secara langsung oleh Abuya Zain bin Hasan Baharun, selaku Mudir Ma’had Dalwa. Dalam kesempatan tersebut, Abuya Zain mengajak Al-Habib Hud berkeliling meninjau berbagai fasilitas yang tersedia di Perpustakaan Dalwa. Beliau menjelaskan bahwa sistem pengelolaan perpustakaan saat ini telah berbasis teknologi, mulai dari pengelolaan koleksi, pencarian referensi, hingga layanan bagi para santri dan pengunjung. Abuya Zain menyampaikan bahwa pengembangan Perpustakaan Dalwa merupakan bentuk ikhtiar dalam menghadirkan layanan yang modern tanpa meninggalkan jati diri pesantren. Seluruh sistem yang diterapkan memadukan tradisi keilmuan salaf dengan perkembangan teknologi, sehingga kemudahan akses informasi dapat dinikmati tanpa mengesampingkan nilai-nilai, adab, dan khazanah keilmuan Islam yang telah diwariskan oleh para ulama. Kunjungan berlangsung dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban. Selain menjadi ajang silaturahmi, pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk berdiskusi mengenai pentingnya inovasi dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Diharapkan, langkah yang ditempuh Perpustakaan Dalwa dapat menjadi inspirasi dalam menghadirkan layanan perpustakaan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, sekaligus tetap menjaga dan melestarikan tradisi keilmuan pesantren.

Kunjungan Direktur Madani Prabu Jaya Travel Haji & Umrah ke Perpustakaan Dalwa Read More »

Mendidik Anak, Membangun Surga di Dalam Rumah

Refleksi dari Podcast Habib Segaf Baharun tentang Pola Asuh Islami Oleh: Muhammad Nuh Royyan “Tidak cukup menjadi orang tua yang mampu memberi makan anak. Yang jauh lebih penting adalah menjadi orang tua yang mampu mengantarkan anak menuju ridha Allah.” Inilah pesan utama yang disampaikan Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun dalam Podcast OBSISI (Obrolan Santri Sidogiri). Di tengah perkembangan zaman yang begitu pesat, beliau mengajak setiap keluarga Muslim untuk kembali menjadikan rumah sebagai tempat lahirnya generasi yang beriman, berakhlak, dan mencintai agamanya. Di era digital, tantangan mendidik anak semakin kompleks. Kemajuan teknologi memang memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan ancaman apabila tidak disertai pengawasan dan pendidikan yang baik. Karena itu, menurut Habib Segaf, membangun keluarga tidak cukup hanya dengan menyediakan kebutuhan materi. Yang jauh lebih penting adalah membangun “surga di dalam rumah.” Orang Tua Bukan Hanya Pencari Nafkah Salah satu kekeliruan yang banyak terjadi saat ini adalah anggapan bahwa tugas orang tua selesai ketika mereka mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dan menyekolahkan anak hingga jenjang yang tinggi. Kesuksesan anak kemudian diukur dari nilai akademik, pekerjaan, atau besarnya penghasilan. Padahal, Islam memberikan ukuran yang berbeda. Tanggung jawab terbesar orang tua adalah melahirkan anak-anak yang saleh dan salehah. Pendidikan iman, akhlak, dan adab harus menjadi prioritas sebelum pendidikan dunia. Gelar akademik memang penting, tetapi tanpa akhlak dan ketakwaan, semua itu kehilangan maknanya. Habib Segaf mengenang wasiat ayahnya, almarhum Habib Hasan Baharun, yang mengatakan bahwa seorang ayah tidak harus meninggalkan harta warisan yang banyak. Warisan terbaik adalah mendidik anak hingga menjadi pribadi yang saleh. Ketika seorang anak telah menjadi hamba yang bertakwa, Allah sendiri yang akan mencukupi dan menjaga kehidupannya. Pesan ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan orang tua bukan diukur dari banyaknya harta yang diwariskan, melainkan dari kualitas iman yang ditanamkan kepada anak-anaknya. Keteladanan Adalah Pendidikan Terbaik Anak adalah peniru yang ulung. Apa yang mereka lihat setiap hari akan lebih mudah membentuk karakter dibandingkan nasihat yang hanya sesekali mereka dengar. Sejak kecil, seorang anak memandang ayah sebagai sosok laki-laki terbaik di dunia dan ibu sebagai perempuan terbaik yang layak diteladani. Karena itu, perilaku orang tua akan direkam oleh anak sebagai sesuatu yang benar. Jika ayah rajin salat berjamaah, anak akan belajar mencintai masjid. Jika ibu terbiasa membaca Al-Qur’an, anak akan tumbuh akrab dengan Al-Qur’an. Sebaliknya, apabila rumah dipenuhi pertengkaran, kata-kata kasar, atau kebiasaan sibuk dengan telepon genggam, maka semua itu perlahan menjadi bagian dari kepribadian anak. Inilah sebabnya Habib Segaf menekankan bahwa mendidik anak sejatinya dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Orang tua tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga teladan yang setiap hari diamati oleh anak-anaknya. Mendidik Sesuai Fitrah Anak Islam mengajarkan bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Oleh karena itu, cara mendidik anak laki-laki dan perempuan pun tidak bisa disamakan. Habib Segaf menjelaskan bahwa anak perempuan lebih mudah disentuh melalui kasih sayang, perhatian, dan kelembutan. Ketika mengajak putrinya salat atau menghafal Al-Qur’an, beliau memilih menggunakan kalimat yang menyentuh hati daripada bentakan. Pendekatan seperti ini menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak sehingga ia melakukan kebaikan karena cinta, bukan karena takut. Sebaliknya, anak laki-laki memerlukan ketegasan dan disiplin yang sesuai dengan tuntunan syariat. Ketegasan tersebut bukanlah kekerasan, melainkan bentuk pendidikan agar anak belajar bertanggung jawab dan memiliki karakter yang kuat. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan fitrah manusia. Pendidikan yang berhasil bukanlah yang menyamaratakan semua anak, tetapi yang mampu memahami kebutuhan masing-masing. Pesantren Tidak Menggantikan Peran Orang Tua Dalam pandangan Habib Segaf, pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Namun, pesantren bukanlah tempat untuk menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan. Tidak sedikit orang tua berharap anak berubah sepenuhnya setelah mondok. Padahal, ketika anak pulang ke rumah, lingkungan keluarga sering kali tidak mendukung nilai-nilai yang telah ditanamkan di pesantren. Karena itu, pendidikan yang berhasil membutuhkan kerja sama antara orang tua, guru, anak, dan lingkungan. Apa yang dibiasakan di pesantren seharusnya juga dihidupkan di rumah. Salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, menjaga adab, hingga membatasi penggunaan gadget perlu menjadi budaya keluarga. Dengan demikian, rumah dan pesantren saling melengkapi dalam membentuk karakter anak. Membangun Surga dari Dalam Rumah Salah satu pernyataan Habib Segaf yang paling berkesan adalah bahwa proyek terbesar dalam kehidupan bukanlah membangun gedung megah ataupun mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Proyek terbesar adalah membangun keluarga yang dipenuhi ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Rumah yang dipenuhi zikir, Al-Qur’an, salat berjamaah, komunikasi yang baik, serta kasih sayang akan melahirkan suasana yang menenangkan bagi seluruh penghuninya. Anak merasa dicintai, orang tua merasa dihormati, dan setiap anggota keluarga saling menguatkan dalam kebaikan. Surga ternyata tidak hanya menjadi harapan di akhirat. Surga dapat mulai dirasakan sejak di dunia, ketika rumah menjadi tempat yang menghadirkan kedamaian dan mendekatkan seluruh penghuninya kepada Allah SWT. Penutup Ceramah Habib Segaf Baharun mengingatkan bahwa mendidik anak bukan sekadar mempersiapkan masa depan dunia, tetapi mempersiapkan kehidupan akhirat. Tugas orang tua bukan hanya menyediakan sandang, pangan, dan pendidikan formal, melainkan membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berakhlak mulia, dan mencintai Allah serta Rasul-Nya. Di tengah tantangan zaman yang semakin berat, keluarga tetap menjadi benteng pertama dan utama. Ketika ayah menjadi teladan, ibu menjadi madrasah pertama, dan rumah dipenuhi nilai-nilai Islam, maka di sanalah surga mulai dibangun. Bukan dengan kemewahan, melainkan dengan iman, ilmu, dan kasih sayang. Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan refleksi dan ringkasan dari Podcast OBSISI (Obrolan Santri Sidogiri) Episode 005 bersama Dr. Habib Segaf bin Hasan Baharun yang membahas pola asuh Islami dan pentingnya membangun keluarga sebagai “surga di dalam rumah”.

Mendidik Anak, Membangun Surga di Dalam Rumah Read More »

Kegiatan Ansyath at-Thullab: Apresiasi Santri Pengunjung Teraktif Perpustakaan Dalwa

Dalam upaya meningkatkan budaya literasi dan semangat membaca di kalangan santri, Perpustakaan Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) rutin mengadakan program Ansyath at-Thullab. Kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan kepada santri yang paling aktif mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan fasilitas literasi selama satu bulan penuh. Program Ansyath at-Thullab menjadi salah satu kegiatan yang paling dinantikan oleh para santri. Setiap harinya, pengelola perpustakaan mencatat data kunjungan, aktivitas membaca, serta peminjaman buku dan kitab oleh para pengunjung. Dari data tersebut kemudian dipilih beberapa santri dengan tingkat kunjungan terbanyak dan aktivitas literasi terbaik sebagai pemenang bulanan. Menariknya, para pemenang tidak hanya mendapatkan apresiasi simbolis, tetapi juga memperoleh hadiah berupa kitab pilihan dan sertifikat penghargaan. Pemberian hadiah tersebut bertujuan untuk menambah semangat santri dalam menuntut ilmu sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap dunia literasi dan kajian keislaman. Pengumuman pemenang Ansyath at-Thullab dilaksanakan setiap bulan pada acara Lailatut Takrim, yaitu malam penghargaan dan apresiasi yang diselenggarakan di lingkungan pesantren. Pada momen tersebut, nama-nama santri terbaik diumumkan di hadapan para santri lainnya sehingga menjadi motivasi bersama untuk semakin aktif belajar dan membaca. Suasana pengumuman sering kali berlangsung meriah dan penuh antusias karena para santri merasa bangga ketika usaha mereka dalam mencari ilmu mendapatkan penghargaan. Kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan perpustakaan. Jumlah kunjungan santri mengalami peningkatan, terutama pada bagian koleksi kitab fiqih, aqidah, hadis, tafsir, serta buku-buku bahasa Arab (lughah). Selain membaca untuk kebutuhan pelajaran, banyak santri yang mulai menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar mandiri, diskusi, dan memperluas wawasan keilmuan. Melalui program Ansyath at-Thullab, perpustakaan Dalwa tidak hanya menjadi tempat penyimpanan buku, tetapi juga menjadi pusat penggerak budaya membaca di lingkungan pesantren. Program ini membuktikan bahwa apresiasi sederhana seperti hadiah kitab dan sertifikat mampu memberikan pengaruh besar dalam membangun semangat belajar para santri. Dengan terus berlangsungnya kegiatan ini setiap bulan, diharapkan lahir generasi santri yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki kebiasaan membaca yang kuat serta semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Program Ansyath at-Thullab menjadi salah satu langkah nyata perpustakaan Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aktif, ilmiah, dan penuh semangat literasi.

Kegiatan Ansyath at-Thullab: Apresiasi Santri Pengunjung Teraktif Perpustakaan Dalwa Read More »

STATISTIK PENGUNJUNG HARIAN BULAN MEI 2026

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah ﷻ  yang senantiasa melimpahkan nikmat ilmu, kesempatan, dan semangat belajar kepada kita semua. Ada yang datang untuk mengerjakan tugas. Ada yang mencari referensi. Ada yang sekadar mengisi waktu luang dengan membaca. Namun semuanya pulang membawa ilmu. Alhamdulillah, selama bulan Mei tercatat 3.317 kunjungan ke Perpustakaan Terpadu Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani. Semoga angka ini bukan hanya menjadi laporan bulanan, tetapi juga menjadi tanda bahwa budaya membaca dan semangat belajar terus tumbuh di lingkungan pesantren. Karena bangsa yang besar lahir dari generasi yang gemar membaca, dan peradaban yang kuat dibangun oleh mereka yang mencintai ilmu yang gemar membaca.

STATISTIK PENGUNJUNG HARIAN BULAN MEI 2026 Read More »

STATISTIK PENGUNJUNG PERPUSTAKAAN BULAN APRIL 2026

Ringkasan Data Statistik Berdasarkan data yang tertera pada laporan tersebut, berikut adalah rincian statistiknya: Analisis Singkat Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan santri, mahasiswa, dan masyarakat umum yang memanfaatkan sistem kunjungan digital OPAC serta layanan referensi di tempat. Tren menunjukkan lonjakan signifikan pada hari kerja tertentu (Senin dan Rabu), yang mencerminkan antusiasme tinggi terhadap kajian literatur Islam dan bahasa.

STATISTIK PENGUNJUNG PERPUSTAKAAN BULAN APRIL 2026 Read More »