
By : Nawawi (Malaysia)
Pernahkah kita rindu kepada seseorang, saking rindunya itu sehingga sesak rasanya di dada dan air mata menetes tanpa kita sadari? Bayangkan bagaimana perasaan rindu Nabi Musa A.S kepada Allah SWT yang begitu membuncah sehingga beliau tak sanggup lagi menahan gejolak untuk menatap Zat Sang Ilahi.
Disini saya ingin mengajak kalian semua untuk tenggelam sebentar di dalam kerinduannya Nabi Musa A.S, kerinduan yang diabadikan oleh Allah SWT di dalam Surah Al-A’raf ayat 143 yang berbunyi :
وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٤٣
“Ketika Musa datang untuk (bermunajat) pada waktu yang telah Kami tentukan (selama empat puluh hari) dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
dan disini saya akan membagi tiga pembahasan sesuai dengan apa yang diceritakan didalam Tafsir Ibnu Katsir
- Kerinduan Musa Ingin Melihat Tuhan
Kerinduan ini bermula ketika Nabi Musa A.S diperintahkan oleh Allah SWT untuk bermunajat di Bukit Tursina dan mendapatkan Firman daripada-Nya. Namun, momen ketika beliau mendengar langsung kalam Allah SWT tanpa perantara malaikat menjadi titik balik yang menggetarkan sanubarinya. Pendengaran itu seketika menyalakan api cinta yang mahadahsyat di dalam dada, menumbuhkan benih rindu yang tak lagi terbendung. Rasa rindu yang begitu membuncah inilah yang akhirnya mengetuk pintu hati sang nabi untuk memohon sebuah permintaan yang teramat agung—sesuatu yang melampaui batas kodrat manusia—yaitu keinginan untuk menatap langsung Zat Sang Ilahi, sebagaimana yang diabadikan dalam potongan ayat berikut:
قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ
“Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.”
Allah SWT pun merespon akan perihal tersebut dengan jawaban-Nya:
قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ
Dia berfirman, “Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.”
Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan didalam kitabnya bahwa “ ” لنdisini membawa makna nafi ta’bid (meniadakan sesuatu tersebut selamanya ) menurut kacamata ulama Ahli Bahasa dan hal ini menjadi perdebatan hangat diantara kalangan ulama, jika kita lihat dari pendapat kaum mu’tazilah bahwasanya mereka menakwili ayat tersebut dengan mengatakan bahawasanya Allah itu tidak bisa dilihat di dunia maupun di akhirat dan hal ini jelas bahawasanya pendapat yang telah didatangkan oleh kaum tersebut tersangatlah lemah dan dengan mudah bagi Al-Imam Ibnu Katsir mematahkan argument tersebut dengan mengatakan hal seperti ini telah banyak sabda dari Nabi Muhammad SAW mengatakan bahawasanya orang orang beriman itu akan melihat Allah SWT di akhirat kelak disini saya akan mendatangkan refrensinya langsung dari sumbernya iaitu di Tafsir Ibnu Katsir:
وقد أشكل حرف «لن» هاهنا على كثير من العلماء؛ لأنها موضوعة لنفي التأبيد، فاستدل به المعتزلة على نفي الرؤية في الدنيا والآخرة، وهذا أضعف الأقوال؛ لأنه قد تواترت الأحاديث عن رسول الله ﷺ بأن المؤمنين يرون الله في الدار الآخرة
“Kata “لن” (tidak akan) dalam ayat tersebut telah menjadi perdebatan di kalangan para ulama, karena ia berfungsi sebagai penekanan untuk meniadakan. Kaum Mu’tazilah menjadikannya sebagai dalil atas pendapatnya, bahwasanya manusia tidak dapat melihat-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan pendapat kaum Mu’tazilah tersebut merupakan pendapat yang paling lemah, karena banyak sekali hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, bahwa orang-orang yang beriman itu akan melihat Allah di akhirat kelak.”
- Kerinduan yang Menggetarkan Tur Sina
Pada hari yang sama iaitu bertepatan di tanggal 10 Dzulhijjah, permohonan tersebut disambut oleh Allah SWT dengan baik dan bijaksana, namun tidak dikabulkan oleh Allah SWT secara langsung demi keselamatan Nabi Musa sendiri. Ketika Nabi Musa A.S mengarah penglihatannya ke arah Bukit Tursina dan Allah SWT memperlihatkan keagungan-Nya kepada bukit tersebut, apabila terpancar tajalli Allah SWT kepada bukit tersebut maka bukit tersebut hancur luluh bagaikan gundukan tanah yang rata kerana tidak mampu menahan Radiasi Cahaya Ilahi ketika itu, Adapun kondisi Nabi Musa A.S ketika itu jatuh pingsan Kerana tidak mampu menahan radiasi-Nya dan hal ini diabadikan oleh Allah SWT dalam potongan ayat berikutnya yang berbunyi:
فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ
Maka, ketika Tuhannya menampakkan (keagungan-Nya) pada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.
Hal ini dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Katsir dalam Kitabnya beliau dengan mendatangkan sebuah atsar yang berbunyi:
وقال الربيع بن أنس: {فلما تجلى ربه للجبل جعله دكا وخر موسى صعقا}، وذلك أن الجبل حين كشف الغطاء ورأى النور، صار مثل دك من الدكاك. وقال بعضهم: {جعله دكا} أي: فته.
“Dan Ar-Rabi’ bin Anas berkata: {Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan}, hal itu karena ketika tabir dibuka dan gunung tersebut melihat cahaya (Ilahi), ia berubah menjadi seperti gundukan tanah yang rata dari gundukan-gundukan yang ada. Dan sebagian ulama berkata: {dijadikannya gunung itu hancur luluh} artinya: Allah menghancurkannya hingga menjadi berkeping-keping (debu).”
Disini Bukit Tursina menjadi saksi bisu bahwa dirinya yang kokoh dan kuat itu hancur seketika dalam hitungan detik sahaja apabila Allah SWT memancarkan Tajalli-Nya kepada bukit tersebut dan pingsannya Nabi Musa A.S itu menjadi bukti bahwasanya manusia itu terikat pada hukum alam biologis yang memiliki batas toleransi terhadap energi ekstrem
- Dekapan Tobat di Atas Puing Tursina
Tatkala kesadaran kembali mengetuk raga Nabi Musa A.S yang masih gemetar hebat. Saat kelopak matanya perlahan terbuka, taka da lagi kemegahan Bukit Tursina yang tersisa; segalanya telah berubah menjadi debu kelabu yang beterbangan di langit yang biru, yang kini menjadi saksi bisu betapa rapuh
Pasak bumi ketika dihamparkan di atasnya sejumlah kecil dari Tajalli-Nya tersebut. Maka bersimpuhlah tubuh yang gemetar hebat itu di balik kesunyian puing-puing Tursina itu, diiringi rasa takzim yang luar biasa kepada Yang Maha Bijaksana terhadap hamba-Nya, kerinduan yang sempat membakar jiwanya kini melunak menjelma menjadi dekapan tobat yang sarat kepasrashan kepada zat Yang Maha Pengasih. Perihal ini diabadikan oleh Allah SWT di dalam potongan ayat yang terakhir yang berbunyi:
فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٤٣
Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau. Aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.”
Tobat yang lahir dari lisan Nabi Musa A.S. bukanlah karena kekhilafan manusiawi yang biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya di hadapan Sang Ilahi.Tobat disini ialah sebuah bentuk penyucian,pengagungan dan pemuliaan kepada Allah SWT yang dibarengi dengan kata tasbih. Perihal ini diucapkan oleh Al-Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya yang berbunyi :
﴿قال سبحانك﴾ تنزيها وتعظيما وإجلالا أن يراه أحد في الدنيا إلا مات.
وقوله: ﴿تبت إليك﴾ قال مجاهد: أن أسألك الرؤية.
“(Musa) berkata: ‘ قَالَ سُبْحٰنَكَ ‘ sebagai bentuk penyucian, pengagungan, dan pemuliaan bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat melihat-Nya melainkan ia akan mati.”
“Dan firman-Nya: ‘ تُبْتُ اِلَيْك ‘, Mujahid (seorang ulama ahli tafsir dari kalangan Tabi’in) berkata: ‘(Maksudnya adalah bertobat) dari kelancanganku meminta untuk melihat-Mu.'”
Kisah kerinduan Nabi Musa A.S di atas puing-puing Tursina memberikan kita pelajaran spiritual yang mendalam . Rasa rindu dan cinta yang membuncah kepada Sang Khalik adalah anugerah terindah dalam jiwa seorang mukmin . Namun, peristiwa runtuhnya bukit yang kokoh dan pingsannya sang nabi menjadi pengingat nyata akan keterbatasan kita sebagai raga yang fana di dunia ini . Melalui ketetapan-Nya, Allah SWT bukan ingin memutus harapan, melainkan menjaga keselamatan hamba-Nya dari dahsyatnya Nur Ilahi yang tak terbendung oleh raga manusia .
Meskipun tirai gaib itu tidak tersingkap di Bukit Tursina, harapan itu tidak pernah mati. Bantahan Al-Imam Ibnu Katsir terhadap kaum Mu’tazilah menyalakan kembali secercah cahaya iman dalam dada kita: bahwa janji melihat Zat Sang Ilahi tetap ada. Keindahan menatap wajah Allah SWT yang teramat agung itu sengaja disimpan-Nya sebagai hadiah termegah, yang kelak hanya akan dihamparkan bagi orang-orang yang beriman di negeri akhirat .
