Faqih Mufti

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Kemajuan atau Kemerosotan dalam Literasi dan Keilmuan?

Setiap pergantian tahun, manusia punya kebiasaan universal: merefleksikan perjalanan, lalu merangkai harapan baru. Bagi umat Islam, tahun baru bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan pengingat akan peristiwa agung, hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa yang tidak hanya mengubah peta geopolitik, tetapi juga melahirkan peradaban berbasis ilmu dan literasi. Namun, setelah hampir limabelas abad berlalu, patut kita tanyakan: di mana posisi kita hari ini? Apakah kita masih menjadi umat yang gemar membaca, menulis, dan meneliti? Atau justru kita sedang mengalami kemerosotan literasi yang mengkhawatirkan?  Kejayaan yang Pernah Menyinari Dunia Jika kita memejamkan mata dan kembali ke masa Abbasiyah, kita akan melihat pemandangan yang sangat berbeda. Di Baghdad, berdiri megah Baitul Hikmah, sebuah perpustakaan dan pusat penerjemahan terbesar di dunia saat itu. Para ilmuwan dari berbagai latar belakang -Muslim, Kristen, Yahudi- berkumpul untuk menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, India, dan Mesir ke dalam bahasa Arab. Nama-nama seperti Al-Khawarizmi dengan julukan “bapak algoritma”, Ibnu Sina dengan julukan “bapak kedokteran modern”, Al-Farabi, Ibnu Rushd, dan Al-Ghazali adalah bintang-bintang yang menerangi Eropa yang masih berada dalam kegelapan Abad Pertengahan. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, mengkritisi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Bayangkan: ketika Eropa masih sibuk dengan perang dan takhayul, para ilmuwan Islam sudah mendiskusikan astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat. Kitab Al-Qanun fi al-Tibb karya Ibnu Sina menjadi rujukan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17. Itulah puncak peradaban literasi Islam. Lalu, di Mana Kita Hari Ini? Sekarang, cepat lompat ke abad ke-21. Kita hidup di zaman yang oleh banyak orang disebut sebagai era informasi. Setiap detik, miliaran data berseliweran di internet. Dalam genggaman tangan, kita bisa mengakses jutaan buku, jurnal ilmiah, dan artikel. Fasilitas yang tidak pernah terbayangkan oleh Al-Khawarizmi atau Ibnu Sina. Namun, ironisnya, negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru menempati peringkat bawah dalam hal literasi dan riset. Menurut UNESCO, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sedangkat survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat. Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Lebih parah lagi, kita terjebak dalam budaya post-truth (pasca-kebenaran)  dan hoaks. post-truth adalah era di mana fakta objektif kalah pengaruh dibandingkan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi. Dalam kondisi ini, kebohongan yang diulang-ulang di media sosial sering kali diterima sebagai fakta nyata. Informasi keagamaan sering dikonsumsi tanpa verifikasi sumber. Orang lebih percaya pada status WhatsApp atau video TikTok daripada kitab kuning atau jurnal ilmiah. Jangankan menulis buku, membaca buku saja -bagi sebagian besar orang- sudah terasa berat. Bertemu dengan Para Ilmuwan Islam Coba bayangkan! Kamu tiba-tiba diangkut ke masa lalu, ke perpustakaan Baghdad pada abad ke-9 M. Di hadapanmu duduk Al-Khawarizmi, sedang menulis rumus aljabar di atas lembaran papirus. Di pojok ruangan, Ibnu Sina menyusun bab baru untuk Al-Qanun. Sementara di dekat jendela, Al-Ghazali merenung, menyusun argumentasi filsafatnya. Mereka melihatmu. Al-Khawarizmi bertanya dengan ramah, “Saudaraku dari abad kelima belas Hijriah, bagaimana kabar dunia kalian? Kami dengar kalian punya kotak ajaib bernama internet, yang bisa memuat seluruh perpustakaan. Sungguh nikmat yang tak terbayangkan oleh kami.” Kau tersenyum, tapi senyummu getir. “Jujur saja, Wahai Guru… aku lebih sering membuka media sosial daripada membaca. Aku punya ribuan e-book di ponsel, tapi belum satupun yang selesai kubaca tahun ini.” Ibnu Sina mengerutkan dahi. “Apa yang kau lakukan dengan semua waktu yang Allah berikan? Kami dulu berjalan kaki bermil-mil hanya untuk mencari satu manuskrip. Kalian memiliki segalanya dalam genggaman, namun memilih untuk menyia-nyiakannya.” Al-Ghazali yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya lembut tapi menusuk. “Ilmu itu cahaya. Tapi cahaya tidak akan masuk ke hati yang dipenuhi kemalasan dan hiburan. Kau punya akses, wahai anak muda, tapi kau kehilangan haus ilmu.” Lalu mereka semua menatapmu. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kekecewaan yang dalam. Dan pertanyaan terakhir meluncur dari bibir Al-Khawarizmi: “Apa yang sudah kau sumbangkan untuk peradaban, wahai saudaraku?”* Saatnya Introspeksi Pertanyaan itu—mungkin itulah yang harus kita renungkan di tahun baru Hijriah kali ini. Kita tidak perlu menjadi ilmuwan besar untuk berkontribusi. Cukup dengan memulai dari hal kecil. Satu buku per bulan, satu catatan reflektif setiap minggu, membudayakan diskusi ilmiah di majelis tongkrongan, tidak langsung percaya pada setiap informasi yang diterima, tetapi mengecek sumbernya. Kita bisa memaknai hijrah secara personal: berhijrah dari malas membaca menjadi rajin menulis, dari konsumen informasi menjadi produsen ilmu, dari sekadar ikut-ikutan menjadi pribadi yang kritis dan berpengetahuan. Tantangan untuk 1448 Hijriah Akankah tahun ini menjadi tahun kemajuan atau kemerosotan dalam literasi dan keilmuan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Aku ingin mengajakmu untuk memulai satu gerakan sederhana. Bacalah satu buku dalam sebulan, tulis resensinya, bagikan di media sosial (IG,Tiktok,X dll). Jadikan tahun 1448 H sebagai tahun kebangkitan bacamu. Selamat tahun baru Islam 1448 Hijriah. Semoga di tahun ini, kita menjadi pribadi yang lebih tercerahkan.

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Kemajuan atau Kemerosotan dalam Literasi dan Keilmuan? Read More »

Media Sosial: Sarana Belajar atau Pengganggu Produktivitas?

Pernahkah Anda membuka media sosial hanya untuk “lima menit”, tetapi tanpa sadar satu jam telah berlalu? Fenomena ini mungkin pernah dialami hampir semua orang. Di satu sisi, media sosial menawarkan akses ilmu pengetahuan yang begitu luas. Namun di sisi lain, ia juga menjadi salah satu penyebab utama hilangnya fokus dan produktivitas di era digital. Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, banyak orang menghabiskan waktunya dengan membuka berbagai platform media sosial. Kehadiran teknologi digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, memperoleh informasi, bahkan belajar. Menurut laporan UNESCO, teknologi digital dan media sosial memiliki potensi besar untuk mendukung proses pembelajaran. Namun, penggunaan yang tidak terkendali juga dapat menimbulkan gangguan konsentrasi, distraksi belajar, serta berbagai dampak sosial lainnya. Media Sosial sebagai Sarana Belajar Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial telah membuka akses terhadap ilmu pengetahuan yang sebelumnya sulit dijangkau. Saat ini, seseorang dapat mempelajari berbagai keterampilan hanya melalui telepon genggam yang dimilikinya. Berbagai konten edukatif tersedia dalam bentuk video, infografis, podcast, maupun artikel singkat yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok tidak lagi sekadar menjadi sarana hiburan. Banyak guru, dosen, praktisi, dan pakar yang memanfaatkan media sosial untuk membagikan pengetahuan kepada masyarakat. Bahkan, perkembangan media sosial telah menciptakan ruang belajar yang lebih fleksibel karena pengguna dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja. Selain sebagai sumber ilmu pengetahuan, media sosial juga memungkinkan seseorang membangun jaringan yang lebih luas. Berbagai komunitas pembelajaran daring tumbuh dan berkembang melalui media sosial, memungkinkan pelajar dan mahasiswa berdiskusi serta bertukar informasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial untuk tujuan akademik dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran apabila digunakan secara terarah dan terkontrol. Ketika Media Sosial Menjadi Pengganggu Produktivitas Di balik berbagai manfaat tersebut, media sosial juga memiliki sisi lain yang perlu mendapat perhatian. Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah hilangnya fokus akibat distraksi yang terus-menerus. Banyak orang yang awalnya hanya berniat membuka media sosial selama beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa disadari. Fenomena ini terjadi karena algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Setiap video, gambar, atau unggahan yang muncul mendorong pengguna untuk terus menggulir layar dan berpindah dari satu konten ke konten lainnya. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, membaca, atau menyelesaikan pekerjaan menjadi berkurang. Berbagai penelitian menemukan bahwa kebiasaan melakukan media multitasking, seperti belajar sambil membuka media sosial, dapat mengganggu perhatian dan memori kerja. Dampaknya terlihat pada menurunnya kemampuan memahami materi, mengingat informasi, mencatat pelajaran, hingga menurunnya prestasi akademik secara keseluruhan. Temuan yang lebih baru juga menunjukkan bahwa media multitasking cenderung memiliki hubungan negatif dengan pencapaian akademik, terutama pada mahasiswa. Meskipun pengaruhnya bervariasi, sebagian besar penelitian menemukan bahwa semakin sering seseorang terdistraksi oleh media saat belajar, semakin besar kemungkinan produktivitas belajarnya menurun. Mengapa Banyak Orang Sulit Lepas dari Media Sosial? Salah satu alasan mengapa media sosial begitu sulit ditinggalkan adalah karena platform tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman yang menarik dan memicu rasa penasaran pengguna. Setiap notifikasi, komentar, atau tanda suka dapat memberikan dorongan psikologis yang membuat seseorang ingin terus kembali membuka aplikasi. Selain itu, media sosial juga memenuhi kebutuhan manusia untuk tetap terhubung dengan orang lain. Melalui media sosial, seseorang dapat mengikuti perkembangan teman, tokoh favorit, maupun isu-isu yang sedang menjadi perbincangan. Tidak mengherankan jika banyak orang merasa perlu memeriksa ponselnya berkali-kali dalam sehari, bahkan ketika sedang belajar atau bekerja. Kebiasaan tersebut sering kali berkembang menjadi pola penggunaan yang sulit dikendalikan. Tanpa disadari, seseorang dapat kehilangan banyak waktu produktif hanya karena terus-menerus memeriksa media sosial. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan mempertahankan perhatian dan memengaruhi daya ingat seseorang. Memanfaatkan Media Sosial Secara Bijak Alih-alih menghindari media sosial sepenuhnya, langkah yang lebih realistis adalah menggunakannya secara bijak. Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Dampak positif maupun negatif yang muncul sangat bergantung pada bagaimana seseorang memanfaatkannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menentukan tujuan sebelum membuka media sosial. Jika tujuannya untuk belajar, maka fokuslah pada konten yang relevan dan hindari terlalu lama menjelajahi konten yang tidak berkaitan dengan kebutuhan tersebut. Selain itu, pengguna juga dapat memanfaatkan fitur pembatas waktu penggunaan aplikasi agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk scrolling. Mengikuti akun-akun edukatif juga menjadi langkah yang baik untuk mengubah media sosial menjadi ruang belajar yang produktif. Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga sarana pengembangan diri yang bermanfaat. Media sosial merupakan salah satu inovasi teknologi yang memberikan banyak manfaat dalam kehidupan modern. Melalui media sosial, seseorang dapat memperoleh informasi, mempelajari keterampilan baru, dan membangun jaringan yang luas. Namun, di sisi lain, media sosial juga dapat menjadi sumber distraksi yang menghambat produktivitas apabila digunakan secara berlebihan. Oleh karena itu, pertanyaan apakah media sosial merupakan sarana belajar atau pengganggu produktivitas sebenarnya bergantung pada cara kita menggunakannya. Jika dimanfaatkan secara bijak, media sosial dapat menjadi alat yang mendukung proses belajar dan pengembangan diri. Sebaliknya, jika digunakan tanpa kontrol, media sosial dapat menghabiskan waktu, menurunkan konsentrasi, dan mengurangi efektivitas belajar. Pada akhirnya, media sosial bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan alat yang perlu dikelola dengan bijaksana. Pengguna yang mampu mengendalikan media sosial akan memperoleh manfaatnya, sedangkan mereka yang dikendalikan oleh media sosial berisiko kehilangan banyak waktu yang berharga.

Media Sosial: Sarana Belajar atau Pengganggu Produktivitas? Read More »