Ahmad Firzan Alfarizi

Menakar Jejak Aksara di Tengah Gelombang Zaman: Seminar Ilmiah Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

PASURUAN — Di bawah naungan nafas ilmu yang senantiasa berhembus di bumi Dalwa, Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki menjadi saksi bisu atas sebuah dialektika intelektual yang menggugah nalar. Pada Senin, 18 Mei 2026, ruang literasi tersebut ramai oleh kehadiran sosok cendekiawan, Dr. Ahmad Makki Lazuardi, dalam sebuah seminar ilmiah yang mengangkat keresahan eksistensial dunia kepenulisan: “Kematian Penulis atau Kebangkitan Pembaca: Di Mana Letak Literasi Kita Saat Ini?” Acara yang dipandu dengan elegan oleh moderator Ahmad Zaki Musthofa ini seolah memecah keheningan rak-rak buku, memancing antusiasme lebih dari 100 santri Dalwa yang hadir dengan api semangat di mata mereka. Di tengah arus informasi yang bergerak liar, para penuntut ilmu ini duduk melingkar, menyimak setiap diksi yang meluncur dari sang narasumber mengenai masa depan literasi dan nasib otoritas sebuah karya. Ustadz Muhammad Hilmi, selaku Amin Maktabah, turut mendampingi jalannya diskusi dengan penuh khidmat, memastikan setiap benih pemikiran yang ditaburkan Dr. Ahmad Makki Lazuardi jatuh di lahan yang subur. Seminar ini bukanlah sekadar transfer pengetahuan satu arah, melainkan sebuah ruang temu yang intim. Puncak dari diskusi ini tertuang dalam sesi tanya jawab yang mengalir cair. Para santri, yang telah lama menyelami samudra kitab, memberanikan diri melemparkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang memantik diskusi lebih dalam. Sebagai bentuk apresiasi atas ketajaman berpikir dan keberanian bertanya, Dr. Ahmad Makki Lazuardi secara langsung memberikan hadiah berupa karya buku miliknya kepada para penanya terpilih. Sebuah simbol estafet ilmu yang manis; mempertegas bahwa di Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, literasi bukanlah sekadar objek kajian, melainkan napas yang terus dihidupkan untuk menjaga martabat peradaban. Perhelatan ini pun ditutup dengan sebuah kesimpulan besar: bahwa literasi tidak akan pernah mati selama masih ada pembaca yang menghidupkan kembali roh penulis di setiap lembar yang dibaca. Sebuah langkah kecil dari santri Dalwa, namun menjadi gaung besar bagi masa depan literasi di tanah air.

Menakar Jejak Aksara di Tengah Gelombang Zaman: Seminar Ilmiah Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Read More »

Mempererat Tali Persaudaraan, Delegasi Kedutaan Besar Yaman Kunjungi Perpustakaan Terpadu Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

PASURUAN — Perpustakaan Terpadu Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di Pondok Pesantren Dalwa kembali menjadi pusat perhatian dalam agenda lintas kelembagaan. Pada Kamis siang, 21 Mei 2026, perpustakaan yang menjadi kebanggaan civitas akademika Dalwa ini menerima kunjungan istimewa dari delegasi Kedutaan Besar Republik Yaman. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian rihlah dan silaturahmi delegasi setelah agenda kunjungan resmi mereka ke Universitas Islam Internasional (UII) Dalwa. Kehadiran para diplomat dari negeri yang dikenal sebagai pusat peradaban ilmu tersebut disambut dengan hangat oleh Al-Ustadz Nabil Barmawi beserta segenap staf pustakawan di lobi utama perpustakaan. Setibanya di lokasi, suasana keakraban langsung terasa. Al-Ustadz Nabil Barmawi memandu langsung rombongan delegasi untuk berkeliling meninjau berbagai fasilitas yang tersedia. Para tamu diajak melihat langsung koleksi literatur yang tertata rapi, ruang baca yang representatif, hingga sistem integrasi teknologi informasi yang diterapkan dalam tata kelola perpustakaan. Delegasi tampak antusias saat menyusuri setiap lorong rak buku. Mereka tidak hanya melihat koleksi kitab-kitab klasik, tetapi juga mengamati bagaimana perpustakaan ini menggabungkan manajemen modern dengan lingkungan belajar yang kondusif bagi para santri. Salah satu poin utama dalam kunjungan tersebut adalah kekaguman para delegasi terhadap standar fasilitas yang dihadirkan. Dalam sesi diskusi ringan, perwakilan delegasi Kedutaan Yaman menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. “Kami sangat terkesan dengan fasilitas modern yang ada di sini. Perpustakaan ini bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan sebuah ekosistem pendidikan yang luar biasa. Perpaduan antara nilai-nilai tradisi pesantren dengan sentuhan modernitas yang canggih sangatlah inspiratif,” ujar salah satu perwakilan delegasi di sela-sela peninjauan. Bagi pengelola perpustakaan, kehadiran tamu dari Kedutaan Yaman bukan hanya sekadar kunjungan teknis. Al-Ustadz Nabil Barmawi menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan kehormatan besar bagi institusi. “Tentu ini menjadi momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi internasional. Selain menjadi ajang berbagi pengalaman dalam pengelolaan literasi, kami berharap kunjungan ini dapat membawa keberkahan bagi para santri dan pengembangan perpustakaan ke depannya,” ungkap Al-Ustadz Nabil Barmawi. Kunjungan ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan pertukaran cendera mata sebagai simbol persaudaraan antara institusi pendidikan di Dalwa dengan pihak Kedutaan Yaman. Agenda kunjungan ini ditutup dengan harapan agar sinergi antara dunia pesantren di Indonesia dan jaringan pendidikan di Yaman dapat terus terjaga. Kunjungan delegasi Kedutaan Yaman ini menjadi bukti bahwa perpustakaan, sebagai jantung ilmu pengetahuan, memiliki daya tarik yang mampu menyatukan berbagai pihak dalam semangat untuk memajukan literasi Islam dunia.

Mempererat Tali Persaudaraan, Delegasi Kedutaan Besar Yaman Kunjungi Perpustakaan Terpadu Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Read More »

Harmoni di Antara Rak Buku: Kunjungan Hangat Selebritas Tanah Air ke Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

PASURUAN — Suasana di lingkungan Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Ponpes Dalwa, mendadak terasa lebih semarak pada 12 Dzulhijjah ini. Kehadiran tiga figur publik ternama tanah air, Ruben Onsu, Aziz Gagap, dan Daus Mini, memberikan warna tersendiri di sela-sela agenda mereka menjadi pembawa acara (host) dalam kemeriahan “Festival Sate Nusantara” yang dihelat di lingkungan pondok. Sebelum naik ke panggung utama untuk memandu acara, ketiga artis tersebut menyempatkan diri melakukan kunjungan istimewa ke Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Kedatangan mereka disambut dengan hangat dan penuh khidmat oleh Habib Ali Zainal Abidin Alkaf, S.H., bersama Al-Habib Alawi bin Segaf Baharun, serta jajaran pustakawan yang bertugas. Rangkaian kegiatan diawali dengan berkeliling meninjau fasilitas perpustakaan yang dikenal sebagai salah satu yang termegah dan tercanggih di lingkungan pesantren. Dalam suasana yang cair, para tamu diajak menyusuri lorong-lorong rak buku yang menyimpan ribuan khazanah keilmuan. Meski dikenal dengan sosok yang humoris, ketiganya tampak begitu terpaku mengamati estetika arsitektur perpustakaan serta sistem tata kelola yang rapi. Mereka terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan mengenai program-program unggulan perpustakaan yang menjadi jantung literasi bagi para santri Dalwa. Momen kunjungan ini tidak kehilangan sisi keceriaan. Ciri khas humoris dari Aziz Gagap dan Daus Mini, yang dipadukan dengan kepiawaian Ruben Onsu dalam membawa suasana, membuat percakapan dengan pengurus pondok menjadi penuh gelak tawa. Meski diselingi candaan, nada kekaguman yang mendalam tetap terasa kuat. “Kami sungguh tidak menyangka, di dalam lingkungan pondok pesantren ada perpustakaan sekeren dan selengkap ini. Benar-benar sangat memanjakan mata dan pikiran,” ujar salah satu dari mereka di sela-sela obrolan santai, yang disambut senyuman bangga dari para tuan rumah. Kunjungan ini bukan sekadar agenda selingan sebelum tampil di panggung, melainkan membawa manfaat tersendiri. Kehadiran para pegiat media ini memberikan kesan yang indah dan tak terlupakan terhadap eksistensi perpustakaan. Testimoni positif dari para figur publik ini menjadi bukti bahwa kualitas fasilitas keilmuan di pesantren sudah mampu menyejajarkan diri dengan standar modernitas dunia luar. Agenda kunjungan ditutup dengan sesi ramah tamah singkat sebelum ketiganya bertolak menuju lokasi Festival Sate Nusantara. Melalui kunjungan ini, Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki kembali menegaskan perannya sebagai ruang terbuka yang mampu menginspirasi siapa saja, dari berbagai latar belakang, untuk lebih mencintai literasi dan ilmu pengetahuan. Semoga kesan indah yang dirasakan para tamu menjadi syiar tersendiri bagi kemajuan peradaban literasi di lingkungan Pondok Pesantren Dalwa.

Harmoni di Antara Rak Buku: Kunjungan Hangat Selebritas Tanah Air ke Perpustakaan Assayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Read More »

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Ternyata Instansi yang pertama kali mendirikan perpusnas bukan dari orang pribumi melainkan sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara?!             Pada tahun 1778 sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen   memiliki koleksi dan perpustakaan di Batavia, atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Jakarta. Dari perpustakaan ini lah berangkatnya perpusnas yang sekarang.              Sebelum kita lanjut, ada bagusnya kita mengenal singkat tentang instansi ini. Pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Indonesia, adalah Jacob Cornelis Matthieu Radermacher seorang naturalis berbakat dan berpengaruh di tanah jajahan negaranya. Instansi atau kelompok yang didirikan di Batavia pada 24 April 1778 ini adalah kelompok cendikiawan bangsa naturalis dan bangsa pribumi yang  memiliki tujuan untuk memajukan penelitian pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan Hindia Belanda.  Mereka memiliki semboyan yang mereka junjung tinggi yang di sebut dengan “Ten Nutte van het Algemeen” yang berarti “Untuk Kepentingan Umum”. Dengan semboyan ini lah mereka tumbuh dengan pengaruh besar bagi bangsa tanah jajahan. Dan dengan ini juga mereka berkembang menjadi sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal perpustakaan dan museum nasional Indonesia atau Museum Gajah.             Dan kemudian bersamaan dengan merdekanya bumi pertiwi ini berakhirnya kelompok tersebut. Lebih tepatnya pada tepatnya pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan kemudian institusi bersejarah ini diserahkan kepada pemerintahan NKRI dan koleksinya dijadikan sebagai museum nasional seperti yang kita lihat sekarang.             Lantas apa peran kelompok ini dalam dunia kepustakawanan dan kearsipan Indonesia? Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen menjadi pelopor dan peletak batu pertama perpustakaan nasional republik Indonesia (Perpusnas). Dengan perpustakaan pertama yang mereka dirikan pada abad ke-18 menjadi Langkah awal terkumpulnya koleksi naskah kuno dan literatur yang kemudian di lestarikan dan di kembangkan oleh badan perpustakaan nasional republik Indonesia.             Lantas pula apakah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berhak di sebut sebagai pendiri perpusnas? Tidak, akan tetapi mereka berhak di sebut sebagai pelopor pengumpulan koleksi naskah atau penyedia fondasi fisik bacaan di NKRI.           Tanggal 17 Mei pada tahun 1980 merujuk pada awal pencanangan berdirinya perpustakaan nasional yang merupakan Lembaga yang menjadi symbol penting pengelolaan pengetahuan dan perkembangan kebudayaan serta literatur bangsa Indonesia. Pertama didirikan dan di resmikan pada tanggal itu oleh Dr. Daoed Joesoef selaku menteri Pendidikan dan kebudayaan tahun 1978-1983.             Melalui surat dari kementerian Pendidikan dan kebudayaan No. 0164/0/1980, Dr. Daoed Joesoef menggabungkan 4 perpustakaan nasional yang berdiri di bawah direktorat jenderal kebudayaan menjadi sebuah kesatuan : –  Perpustakaan Museum Nasional (berdiri sejak 1778) – Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial (berdiri sejak 1920) – Perpustakaan Negara Jakarta (berdiri sejak 1950) – Kantor Bibliografi Nasional (berdiri sejak 1953)               Dengan tujuan memperluas akses literatur, manuskrip kuno, dan dokumen arsip sejarah negara, serta agar dapat di lestarikan dan dikelola di bawah Lembaga nasional yang profesional.             Lalu rampungnya penyatuan fisik Lembaga perpusnas pada Januari tahun 1981.             Kemudian 22 tahun setelahnya tanggal 17 Mei mendapat julukan dan makna baru. Abdul Malik Fadjar, menteri Pendidikan nasional kabinet gotong royong tahun 2001-2004  menggagas harbuknas (hari buku nasional).             Pada mulanya hari buku nasional dirayakan dengan adanya pesta literasi di perpusda setempat secara sederhana. Namun seiring berkembangnnya zaman, perayaan ini menjadi lebih modern dan fresh. Di isi dengan adanya bazar buku, pameran, dan acara perlombaan tergantung Lembaga yang mengadakannya. Bahkan beberapa instansi ada yang mengadakan seminar literasi dengan mengundang pemateri yang berpengalaman dalam bidang literasi dan kepenulisan.             Dan tujuan Abdul Malik Fadjar menggagas harbuknas ini dengan tujuan meningkatkan minat literasi lintas generasi. Karena literasi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan insan pertiwi.  Ust. Makki Lazuardi. M.Pd menyebutkan dalam seminar beliau bahwa manfaat literasi sangatlah tak terhingga. Dan beberapa diantaranya adalah: Dan diantaranya yang paling memukau adalah dapat membelah lintas waktu dan tempat. dengan tersebarnya manuskrip-manuskrip, pembaca dapat menyerap wawasan serta keilmuan sang penulis meskipun terpisah jarak dan waktu. Selain itu tujuan dari peringatan Hari Buku Nasional ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemar membaca dan memiliki literasi yang tinggi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa serta meningkatkan penghargaan terhadap profesi penulis, penerbit, dan juga buku itu sendiri. Maka peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei akhirnya bukan sekadar seremonial belaka. Ia adalah sebuah estafet peradaban. Jika di abad ke-18 sebuah kelompok ilmuwan kuno bisa memulai fondasi literasi dengan semboyan ‘Untuk Kepentingan Umum’, maka hari ini, di era digital yang serbacepat, tugas kita adalah menjaga api tersebut agar tidak padam. Membaca—seperti yang dikatakan Ust. Makki Lazuardi—adalah ‘mukjizat’ yang membuat kita bisa membelah lintas waktu dan ruang, menyerap kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan. sumber: Kompas.com, Wikipedia, Perpustakaan Universitas Brawijaya, Pusdiklat perpusnas, detik.com.            

Membelah Lintas Waktu: Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18 Read More »

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri

Written by: Muhammad. S. Qushayyi Udhiyyah, adalah salah satu hari di mana kehangatan di antara umat muslim terasa pekat. Gema takbir menghiasi langit-langit masjid Baitul Ghaffar. Dari sore hari Arafah sampai beberapa hari ke depan.             Suara Hb. Alwi Baharun -selaku khatib yang berwibawa- sangat menyentuh hati di kala rindu kita kepada suasana hari raya di rumah. Khutbah yang singkat, tapi dapat membuat hati dan pikiran menjadi tenang dan bersih seperti bagian dalam kulit hewan kurban yang baru disembelih.             Di sini, di pondok pesantren, tempat di mana kita para santri merayakan hari raya dengan sederhana. Tidak ada suara tawa dari keluarga, tidak ada aroma masakan orang tua yang hangat, dan tidak ada foto-foto di ruang keluarga.             Tapi itu semua tidak menutupi kebahagiaan kami dalam menyambut hari raya ini. Memang tidak ada tawa keluarga dan orang tua, tak apa. Sebagai gantinya, ada canda tawa dan sorakan ria dari teman-teman seperjuangan, rekan Khidmah dan saudara sedaerah. Aroma masakan dapur pesantren, dan foto di bingkai kamar pun tak kalah hangat dengan aktivitas-aktivitas lebaran di ruang keluarga.             Dan pada saat malam nyate akbar rasa rindu itu menguap bersamaan dengan kebulan asap dari daging yang terpanggang di sebentangan lapangan pesantren selalu menjadi kehangatan baru di antara himpitan bangunan asrama. Langit malam menjadi kabur dengan asap sate yang terpanggang. Maka sungguh tidak heran para warga setempat dengan fenomena ‘evaporasi’ yang terjadi di malam ayyam tasyrik di pesantren kita yang tercinta ini.             Dan dari kehangatan inilah muncul semangat belajar dan Khidmah para santri. Kerinduan terhadap suasana lebaran di rumah bersama keluarga memanglah tak terelakkan. Tapi demi ilmu, Allah dan Rasul-Nya lah kami rela menghadapi ini semua. Dan di sini, di pondok pesantren Darrullughah Wad Da’wah. Kami para santri abuya bertekad untuk menyambung lisan dan mewarisi lisan serta kalam Nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Dan karena kerinduan yang tak bisa dilampiaskan dengan kata-kata. Al-faqir selaku penulis dan perwakilan santri yang merindukan keluarganya, menumpahkan kerinduan kami di atas tulisan. Dan dengan ini juga penulis dan segenap pustakawan ingin mengucapkan kepada kalian para pembaca: ” Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H “ By : Muhammad Sidqi

Evaporasi Rindu di Lapangan Asrama: Cerita Idul Adha dari Balik Meja Perpustakaan dan Kitab Santri Read More »

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial

Perintah ibadah kurban (Udhiyyah) yang dirayakan setiap bulan Zulhijah sebenarnya merupakan sebuah revolusi teologis dan kemanusiaan yang sangat radikal jika ditarik dari garis sejarah peradaban kuno. Islam mengubah total wajah pengorbanan yang semula bersifat transaksional, kelam, dan mengerikan, menjadi sebuah ritual yang sarat akan nilai tauhid serta berdampak sosial kemasyarakatan. Sebelum syariat ini diturunkan, lanskap religius Timur Tengah Kuno diwarnai oleh tradisi ekstrem seperti penyembahan kepada Dewa Molekh, di mana masyarakat Kanaan dan Fenisia tega mengorbankan anak kandung mereka sendiri di atas patung perunggu yang membara demi meraih kesuburan tanah atau kemenangan perang. Horor masa lalu inilah yang melatarbelakangi ujian berat Nabi Ibrahim AS, namun ketika pisau siap digoreskan, Allah SWT mengganti sang putra dengan seekor domba besar sebagai deklarasi tegas bahwa nyawa manusia adalah suci dan pengorbanan manusia harus dihentikan. Dalam tradisi Islam, peristiwa agung yang terekam dalam surah As-Saffat ini menyisakan perbedaan pendapat (khilaf) di kalangan ulama mengenai siapakah putra yang diperintahkan untuk disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Perdebatan ini telah membelah opini sejak masa sahabat, di mana sebagian kecil seperti Umar bin Khattab dan Ibnu Mas’ud cenderung menunjuk Nabi Ishaq, yang juga sejalan dengan narasi tradisi Ahli Kitab. Namun, mayoritas mutlak (jumhur) ulama tafsir dan ahli sejarah Islam menegaskan bahwa sosok yang hendak dikorbankan tersebut adalah Nabi Ismail AS. Pendapat jumhur ulama ini menjadi kuat karena bersandar pada argumen tekstual (istinbat) yang kokoh dari urutan kronologi ayat dan logika kebahasaan Al-Qur’an. Pada bagian awal kisah di surah As-Saffat, Allah memberi kabar gembira tentang kelahiran anak yang sangat sabar (ghulam halim) yang kemudian tumbuh remaja dan menjalani ujian penyembelihan tersebut. Nama Nabi Ishaq sendiri baru disebut secara eksplisit pada ayat 112, setelah seluruh rangkaian ujian penyembelihan selesai dan Nabi Ibrahim dinyatakan lulus. Berdasarkan struktur tersebut, jumhur ulama berkomentar bahwa penggunaan kata sambung “Wabasysyarnahu” (Dan Kami beri kabar gembira lagi kepadanya) sebelum nama Ishaq menunjukkan adanya dua peristiwa yang berbeda waktu. Kabar gembira pertama di awal rangkaian ayat adalah tentang kelahiran Ismail sebagai anak pertama yang akan disembelih, sedangkan penyebutan nama Ishaq di akhir ayat merupakan “hadiah tambahan” atau kabar gembira kedua atas keberhasilan Nabi Ibrahim melewati ujian besar tersebut. Jumhur juga menambahkan analisis kritis bahwa jika Ishaq yang disembelih, maka hal itu akan kontradiktif dengan surah Hud ayat 71 yang sejak awal sudah menjamin bahwa Ishaq akan hidup purna bahkan memiliki keturunan bernama Ya’qub. Sebuah ujian penyembelihan tidak akan menjadi logis bagi seorang ayah jika ia sudah mengetahui secara pasti bahwa anaknya dijamin berumur panjang untuk memiliki keturunan. Oleh karena itu, penyebutan nama Ishaq di beberapa ayat setelah kisah penyembelihan justru menjadi penegas bagi jumhur bahwa anak yang berserah diri di atas tempat penyembelihan itu adalah sang kakak, Nabi Ismail AS. Melalui pembuktian iman Nabi Ibrahim dan keikhlasan Nabi Ismail inilah, Allah SWT meruntuhkan hakikat pengorbanan kuno yang bersifat destruktif dan egois. Allah menegaskan bahwa Dia sama sekali tidak membutuhkan daging maupun darah dari hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan ketulusan hati dari hamba-Nya yang berkurban. Udhiyyah akhirnya lahir sebagai ibadah yang membumi, di mana esensi spiritualitas vertikal kepada Tuhan langsung dimanifestasikan ke dalam aksi sosial horizontal kepada sesama manusia. Melalui Revolusi Udhiyyah ini, hewan kurban tidak lagi dibakar sia-sia di atas altar pemujaan seperti ritual masa lalu, melainkan disembelih untuk kemudian dagingnya didistribusikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar. Tradisi ini berhasil mengubah ketakutan menjadi berkah, serta menghapus sekat sosial antara si kaya dan si miskin dalam momen kebersamaan yang setara. Pada akhirnya, kurban dalam Islam menjadi lambang keadilan sosial yang menegaskan bahwa mendekatkan diri kepada Pencipta harus ditempuh dengan cara peduli dan berbagi kebahagiaan kepada sesama makhluk-Nya. By : Muhammad sidqi

Revolusi Udhiyyah: Dari Ritual Kuno yang Mengerikan Menjadi Ibadah yang Bersifat Sosial Read More »

“Salah Serah Bisa Bermasalah”: Seminar Kepanitiaan Qurban di perpustakaan Disambut Antusias pengunjung

Dalam rangka memperkaya khazanah keilmuan santri serta meningkatkan wawasan praktis dalam bidang kepanitiaan qurban, tim anggota Maktabah Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa) sukses menggelar seminar edukatif bertajuk “Salah Serah Bisa Bermasalah: Membahas Tuntas Kepanitiaan Qurban” pada malam Ahad, 16 Mei 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di Maktaba Sayid Muhammad Almaliki Alhasani dan diikuti dengan penuh antusias oleh para pengunjung perpustakaan serta santri Dalwa dari berbagai tingkatan. Seminar yang berlangsung pada malam hari tersebut menghadirkan suasana hangat dan penuh semangat keilmuan. Para peserta tampak memenuhi ruangan sejak awal acara untuk menyimak materi yang disampaikan oleh pemateri utama, yakni Ustad Abdurroqib Saqi, salah satu pengajar Pondok Dalwa yang juga dikenal sebagai lulusan terbaik Pondok Pesantren Sidogiri. Dengan gaya penyampaian yang lugas, komunikatif, dan diselingi berbagai contoh nyata di lapangan, Ustad Abdurroqib Saqi membahas secara mendalam berbagai persoalan seputar kepanitiaan qurban. Mulai dari mekanisme penerimaan hewan qurban, pengelolaan administrasi, sistem pembagian daging qurban, hingga kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam proses penyaluran qurban turut dibahas secara tuntas. Tema “Salah Serah Bisa Bermasalah” menjadi perhatian utama dalam seminar ini. Melalui tema tersebut, peserta diajak memahami bahwa pengelolaan qurban bukan sekadar kegiatan teknis tahunan, tetapi juga amanah syariat yang menuntut ketelitian, tanggung jawab, dan pemahaman hukum Islam yang benar. Suasana seminar semakin hidup ketika sesi diskusi dan tanya jawab dibuka. Banyak santri aktif mengajukan pertanyaan terkait praktik qurban yang sering terjadi di masyarakat. Interaksi yang hangat antara pemateri dan peserta membuat seminar berjalan dinamis dan tidak membosankan, meskipun dilaksanakan pada malam hari. Melalui kegiatan ini, tim anggota maktabah berharap perpustakaan dapat terus menjadi pusat literasi, pengembangan wawasan, dan ruang diskusi ilmiah bagi para santri. Seminar ini juga menjadi bentuk nyata komitmen Maktabah Dalwa dalam menghadirkan kegiatan-kegiatan edukatif yang bermanfaat serta relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pesantren. Dengan terselenggaranya seminar ini, diharapkan para santri memiliki pemahaman yang lebih matang mengenai kepanitiaan qurban, sehingga mampu menjalankan amanah dengan profesional, tertib, dan sesuai tuntunan syariat Islam.

“Salah Serah Bisa Bermasalah”: Seminar Kepanitiaan Qurban di perpustakaan Disambut Antusias pengunjung Read More »

”RUTIN TIAP BULAN, KIYAI ABDURRAHMAN FAQIH ISI KAJIAN SANTAI DI DALWA DAN PERKUAT TRADISI KEILMUAN”

Pondok Pesantren Dalwa kembali menggelar kajian santai rutin yang berlangsung pada Kamis sore, 23 April 2026. Kegiatan yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali ini menghadirkan Kiai Abdurrahman Faqih dari Pondok Pesantren Langitan sebagai pengisi tetap. Kiai Abdurrahman Faqih merupakan alumni Pondok Pesantren Dalwa yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke Madinah. Di sana, beliau pernah satu angkatan dengan Habib Ali Baharun saat menimba ilmu kepada Habib Zein bin Smith. Latar belakang keilmuan tersebut menjadikan kehadiran beliau selalu dinantikan oleh para santri Dalwa. Dalam kajian tersebut, beliau membahas kitab Risalah Mudzakaroh karya Al-habib Abdullah al-Haddad. Dengan gaya penyampaian yang santai namun sarat makna, para santri tampak antusias mengikuti setiap penjelasan yang disampaikan. Kehadiran beliau kali ini juga bertepatan dengan agenda kajian kitab Al-Hikam yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Dalwa dan diisi oleh Habib Segaf Baharun. Momentum ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi serta memperkuat jaringan keilmuan antarulama dan santri. Melalui kajian rutin ini, diharapkan tradisi keilmuan di lingkungan pesantren terus terjaga dan berkembang. Selain memperdalam pemahaman kitab, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara alumni dan para santri yang sedang menimba ilmu.

”RUTIN TIAP BULAN, KIYAI ABDURRAHMAN FAQIH ISI KAJIAN SANTAI DI DALWA DAN PERKUAT TRADISI KEILMUAN” Read More »

“SILATURAHMI LBM PLOSO AL-FALAH JAWA TIMUR DALAM RANGKA MEMPERERAT PERSAUDARAAN ANTAR PESANTREN”

Selasa, 28 April 2026 — Dalam rangka memperkuat ukhuwah dan menjalin hubungan yang lebih erat antar pondok pesantren, panitia FMPP dari Santri Ploso melaksanakan kunjungan ke Lembaga Bahtsul Masail (LBM) pada Selasa (28/4). Kehadiran rombongan panitia FMPP disambut hangat oleh pihak pustakawan sekaligus perwakilan LBM Dalwa. Suasana penuh keakraban langsung terasa sejak awal pertemuan, mencerminkan kuatnya nilai silaturahmi yang dijunjung tinggi di lingkungan pesantren. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kunjungan formal, tetapi juga wadah untuk bertukar pengalaman dan wawasan seputar pengelolaan bahtsul masail serta pengembangan literasi keilmuan santri. Diskusi berlangsung interaktif, dengan berbagai pandangan yang memperkaya khazanah intelektual kedua belah pihak. Perwakilan panitia FMPP menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk membangun sinergi antar lembaga pesantren. “Melalui silaturahmi ini, kami berharap dapat saling belajar dan memperkuat tradisi keilmuan yang telah menjadi ciri khas pesantren,” ungkapnya. Selain sesi diskusi, kegiatan juga diisi dengan ramah tamah yang semakin menghangatkan hubungan antar peserta. Momen ini menjadi bukti bahwa kebersamaan dan kekeluargaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun jaringan antar pondok. Dengan terselenggaranya kunjungan ini, panitia FMPP Santri Ploso berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus berlanjut dan berkembang, demi kemajuan dunia pesantren serta penguatan tradisi intelektual santri di masa mendatang.

“SILATURAHMI LBM PLOSO AL-FALAH JAWA TIMUR DALAM RANGKA MEMPERERAT PERSAUDARAAN ANTAR PESANTREN” Read More »

ANTARA HAK FAKIR MISKIN DAN HARTA YANG TERBELENGGU HUKUM?

Pertanyaan: Jawaban: Refrensi: عمدة السالك وعدة الناسك ص104 ويلزم الولي إخراجها من مال الصبي والمجنون فإن لم يخرج عصى ويلزم الصبي  و المجنون إذا صارا صار مكلفين إخراج ما أهمله الولي Pertanyaan: وسيأتي كل من الخمسة مفصلا Jawaban: Refrensi: الكواكب الدرية  شرح متممة الجرمية  ص336 باب الحال هو الاسم المنصوب المفسر لما انبهم من الهيئات إما من الفاعل نحو:جاء زيد راكبا

ANTARA HAK FAKIR MISKIN DAN HARTA YANG TERBELENGGU HUKUM? Read More »