Written by: Muhammad. S. Qushayyi  

Masa kekhilafahan sayyidina Harun Ar-Rasyid adalah masa-masa puncak kejayaan islam pada saat itu. Bahkan diriwayatkan bahwa saat itu zakat sampai bingung mau dikemanakan. Bahkan saking penuhnya baitul mal sampai-sampai sayyidina Harun Ar-Rasyid memerintahkan pasukannya untuk menaburkan hasil panen ke bukit di daerah kekuasaan beliau agar dimakan oleh burung-burung dan hewan liar. Itu semua karena  beliau adalah pemimpin yang sangat bijaksana dan sangat berpegang teguh pada ajaran islam dalam kepemimpinan beliau.

         Semua rakyat baghdad bersorak gembira. Burung-burung berkicau, para pejabat, ulama’ dan penyair berkumpul di istana beliau yang baru saja beliau bangun. Dan sebagai bentuk syukur beliau atas dibangunnya istana yang besar dan megah itu, beliau menjamu semua orang yang berpengaruh di daerah baghdad untuk ikut merayakan kesuksesan beliau dalam pembangunan istana megah Qashrudz Dzahabiy.

          Pesta yang besar, jamuan yang mewah, dan pertunjukan yang megah tak ada alasan untuk melewatkannya. Gelas-gelas terisi penuh, pelayan berjalan kesana kemari dengan membawa nampan-nampan berisi jamuan berat dan jamuan ringan yang mewah. Sang khalifah mengadakan banyak sekali acara, diantaranya adalah sesi kebudayaan yang erat hubungannya dengan bangsa Arab, yaitu syi’rul madh.

          Semua penyair berkumpul dan berlomba-lomba memuji dan menyanjung sang khilafah. Semua syair membicarakan tentang kebijaksanaan, kesuksesan, kejayaan, bahkan gambaran-gambaran istana megah beliau.

          Sampai pada saat giliran penyair kelahiran ‘Ainut tamr-Irak yang bernama Abu Al-Atahiyah. Dengan mantap beliau berdiri di depan sang khilafah seraya melantunkan syi’ir yang berbunyi:

عِش مَا بَدَا لَكَ سَالِمًا  #  فِي ظِلِّ شَاهِقَةِ الْقُصُورِ

يُسْعَى عَلَيْكَ بِمَا اشْتَهَيْتَ  # لَدَى الرَّوَاحِ وَفِي الْبُكُورِ

فَإِذَا النُّفُوسُ تَقَعْقَعَتْ  # فِي ضِيقِ حَشْرَجَةِ الصُّدُورِ

فَهُنَاكَ تَعْلَمُ مُوقِنًا # مَا كُنْتَ إِلَّا فِي غُرُورِ

Hiduplah sesukamu dengan selamat, di bawah naungan istana-istana yang menjulang tinggi.

Segala apa yang engkau inginkan akan dilayani, baik di waktu sore maupun di pagi hari.

Namun, ketika nyawa mulai tersedak dan bergetar, di dalam sempitnya kerongkongan dada.

Di sanalah engkau akan tahu dan yakin, bahwa selama ini engkau hanyalah tertipu (oleh dunia).

           Sang khilafah menangis tersedu-sedu sehingga membuat baju beliau basah karena kucuran air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Semua lantunan musik dan aktivitas para elit istana pada saat itu terdiam, para pelayan terdiam mematung di tempat dengan tangan masih membawa nampan dan minuman. Seolah-olah ada yang menekan tombol pause di saat Abu Al-Atahiyah membacakan syi’ir sehingga sang khilafah menangis. Suasana yang awalnya Kuning tiba-tiba menjadi kelabu.

            Kemudian Abu Al-Atahiyah melanjutkan syi’ir berikutnya:

يا صاحب الدنيا محب لها # أنت الذي لا ينقضي تعبه

Wahai pemilik dunia yang sangat mencintainya, engkaulah orang yang lelahnya tidak akan pernah usai.

            Saat beliau hendak melanjutkan lantunan syi’ir beliau, salah satu menteri sayyidina Harun Ar-Rasyid menahan beliau dan berkata “hey Abu Al-Atahiyah. tidakkah kau sedang melihat situasinya?”. Sayyidina Harun Ar-Rasyid menyela, “wahai saudaraku biarkanlah dia dan syi’irnya melantun sejenak. Dia hanyalah seorang saudara yang ingin menegur saudaranya agar kembali kepada tuhannya”

             Dan mulai saat itu Abu Al-Atahiyah diangkat menjadi penasehat khusus sang khalifah dan penyair kerajaan dengan kedudukan yang tinggi dan sering diundang ke majelis-majelis kerajaan.

             Sampai sini kita telah mendengarkan Kisah pertemuan Khalifah Harun ar-Rasyid dan Abu al-Atahiyah yang meninggalkan warisan makna yang begitu dalam, mengajarkan kita bahwa semegah apapun dunia beserta segala fasilitasnya hanyalah sementaranya, ia hanyalah jembatan yang fana yang menipu. Di tengah puncak kesuksesan dan kemewahan, setiap dari kita sangat membutuhkan “rem” spiritual—berupa sahabat, guru, maupun lingkungan yang tulus—serta keberanian untuk menyampaikan dan menerima kebenaran. Semoga keteladanan agung ini mampu melembutkan hati kita untuk tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir, melainkan senantiasa memanfaatkannya sebagai ladang persiapan menuju keabadian yang sejati di akhirat.

Rubrik                 : Lughah wa ulumuhu

Kitab                    : البلاغة للحبيب عمر بن علوي بن أبي بكر الكاف

No panggil       : 515.09

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *