{"id":2752,"date":"2026-06-15T06:54:59","date_gmt":"2026-06-15T06:54:59","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/?p=2752"},"modified":"2026-06-15T06:55:02","modified_gmt":"2026-06-15T06:55:02","slug":"tahun-baru-islam-1448-hijriah-kemajuan-atau-kemerosotan-dalam-literasi-dan-keilmuan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/?p=2752","title":{"rendered":"Tahun Baru Islam 1448 Hijriah: Kemajuan atau Kemerosotan dalam Literasi dan Keilmuan?"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Tahun-baru-1448-1024x576.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2753\" srcset=\"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Tahun-baru-1448-1024x576.png 1024w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Tahun-baru-1448-300x169.png 300w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Tahun-baru-1448-768x432.png 768w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Tahun-baru-1448-1536x864.png 1536w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/Tahun-baru-1448.png 1672w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap pergantian tahun, manusia punya kebiasaan universal: merefleksikan perjalanan, lalu merangkai harapan baru. Bagi umat Islam, tahun baru bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan pengingat akan peristiwa agung, hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa yang tidak hanya mengubah peta geopolitik, tetapi juga melahirkan peradaban berbasis ilmu dan literasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, setelah hampir limabelas abad berlalu, patut kita tanyakan: di mana posisi kita hari ini? Apakah kita masih menjadi umat yang gemar membaca, menulis, dan meneliti? Atau justru kita sedang mengalami kemerosotan literasi yang mengkhawatirkan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>&nbsp;Kejayaan yang Pernah Menyinari Dunia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika kita memejamkan mata dan kembali ke masa Abbasiyah, kita akan melihat pemandangan yang sangat berbeda. Di Baghdad, berdiri megah Baitul Hikmah, sebuah perpustakaan dan pusat penerjemahan terbesar di dunia saat itu. Para ilmuwan dari berbagai latar belakang -Muslim, Kristen, Yahudi- berkumpul untuk menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, India, dan Mesir ke dalam bahasa Arab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nama-nama seperti Al-Khawarizmi dengan julukan \u201cbapak algoritma\u201d, Ibnu Sina dengan julukan \u201cbapak kedokteran modern\u201d, Al-Farabi, Ibnu Rushd, dan Al-Ghazali adalah bintang-bintang yang menerangi Eropa yang masih berada dalam kegelapan Abad Pertengahan. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, mengkritisi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bayangkan: ketika Eropa masih sibuk dengan perang dan takhayul, para ilmuwan Islam sudah mendiskusikan astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat. Kitab Al-Qanun fi al-Tibb karya Ibnu Sina menjadi rujukan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17. Itulah puncak peradaban literasi Islam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Lalu, di Mana Kita Hari Ini?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang, cepat lompat ke abad ke-21. Kita hidup di zaman yang oleh banyak orang disebut sebagai era informasi. Setiap detik, miliaran data berseliweran di internet. Dalam genggaman tangan, kita bisa mengakses jutaan buku, jurnal ilmiah, dan artikel. Fasilitas yang tidak pernah terbayangkan oleh Al-Khawarizmi atau Ibnu Sina.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, ironisnya, negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru menempati peringkat bawah dalam hal literasi dan riset. Menurut UNESCO, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sedangkat survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat. Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih parah lagi, kita terjebak dalam budaya <em>post-truth <\/em>(pasca-kebenaran) &nbsp;dan hoaks. <em>post-truth<\/em> adalah era di mana fakta objektif kalah pengaruh dibandingkan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi. Dalam kondisi ini, kebohongan yang diulang-ulang di media sosial sering kali diterima sebagai fakta nyata. Informasi keagamaan sering dikonsumsi tanpa verifikasi sumber. Orang lebih percaya pada status WhatsApp atau video TikTok daripada kitab kuning atau jurnal ilmiah. Jangankan menulis buku, membaca buku saja -bagi sebagian besar orang- sudah terasa berat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Bertemu dengan Para Ilmuwan Islam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Coba bayangkan!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kamu tiba-tiba diangkut ke masa lalu, ke perpustakaan Baghdad pada abad ke-9 M. Di hadapanmu duduk Al-Khawarizmi, sedang menulis rumus aljabar di atas lembaran papirus. Di pojok ruangan, Ibnu Sina menyusun bab baru untuk Al-Qanun. Sementara di dekat jendela, Al-Ghazali merenung, menyusun argumentasi filsafatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka melihatmu. Al-Khawarizmi bertanya dengan ramah, \u201cSaudaraku dari abad kelima belas Hijriah, bagaimana kabar dunia kalian? Kami dengar kalian punya kotak ajaib bernama internet, yang bisa memuat seluruh perpustakaan. Sungguh nikmat yang tak terbayangkan oleh kami.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kau tersenyum, tapi senyummu getir.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cJujur saja, Wahai Guru&#8230; aku lebih sering membuka media sosial daripada membaca. Aku punya ribuan e-book di ponsel, tapi belum satupun yang selesai kubaca tahun ini.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibnu Sina mengerutkan dahi. \u201cApa yang kau lakukan dengan semua waktu yang Allah berikan? Kami dulu berjalan kaki bermil-mil hanya untuk mencari satu manuskrip. Kalian memiliki segalanya dalam genggaman, namun memilih untuk menyia-nyiakannya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Ghazali yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya lembut tapi menusuk. \u201cIlmu itu cahaya. Tapi cahaya tidak akan masuk ke hati yang dipenuhi kemalasan dan hiburan. Kau punya akses, wahai anak muda, tapi kau kehilangan haus ilmu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu mereka semua menatapmu. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kekecewaan yang dalam. Dan pertanyaan terakhir meluncur dari bibir Al-Khawarizmi: \u201cApa yang sudah kau sumbangkan untuk peradaban, wahai saudaraku?\u201d*<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Saatnya Introspeksi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertanyaan itu\u2014mungkin itulah yang harus kita renungkan di tahun baru Hijriah kali ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita tidak perlu menjadi ilmuwan besar untuk berkontribusi. Cukup dengan memulai dari hal kecil. Satu buku per bulan, satu catatan reflektif setiap minggu, membudayakan diskusi ilmiah di majelis tongkrongan, tidak langsung percaya pada setiap informasi yang diterima, tetapi mengecek sumbernya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita bisa memaknai hijrah secara personal: berhijrah dari malas membaca menjadi rajin menulis, dari konsumen informasi menjadi produsen ilmu, dari sekadar ikut-ikutan menjadi pribadi yang kritis dan berpengetahuan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Tantangan untuk <\/strong>1448<strong> Hijriah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akankah tahun ini menjadi tahun kemajuan atau kemerosotan dalam literasi dan keilmuan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Aku ingin mengajakmu untuk memulai satu gerakan sederhana. Bacalah satu buku dalam sebulan, tulis resensinya, bagikan di media sosial (IG,Tiktok,X dll). Jadikan tahun 1448 H sebagai tahun kebangkitan bacamu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selamat tahun baru Islam 1448 Hijriah. Semoga di tahun ini, kita menjadi pribadi yang lebih tercerahkan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap pergantian tahun, manusia punya kebiasaan universal: merefleksikan perjalanan, lalu merangkai harapan baru. Bagi umat Islam, tahun baru bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan pengingat akan peristiwa agung, hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa yang tidak hanya mengubah peta geopolitik, tetapi juga melahirkan peradaban berbasis ilmu dan literasi. Namun, setelah hampir limabelas abad berlalu, patut kita tanyakan: di mana posisi kita hari ini? Apakah kita masih menjadi umat yang gemar membaca, menulis, dan meneliti? Atau justru kita sedang mengalami kemerosotan literasi yang mengkhawatirkan? &nbsp;Kejayaan yang Pernah Menyinari Dunia Jika kita memejamkan mata dan kembali ke masa Abbasiyah, kita akan melihat pemandangan yang sangat berbeda. Di Baghdad, berdiri megah Baitul Hikmah, sebuah perpustakaan dan pusat penerjemahan terbesar di dunia saat itu. Para ilmuwan dari berbagai latar belakang -Muslim, Kristen, Yahudi- berkumpul untuk menerjemahkan karya-karya Yunani, Persia, India, dan Mesir ke dalam bahasa Arab. Nama-nama seperti Al-Khawarizmi dengan julukan \u201cbapak algoritma\u201d, Ibnu Sina dengan julukan \u201cbapak kedokteran modern\u201d, Al-Farabi, Ibnu Rushd, dan Al-Ghazali adalah bintang-bintang yang menerangi Eropa yang masih berada dalam kegelapan Abad Pertengahan. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menulis, mengkritisi, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Bayangkan: ketika Eropa masih sibuk dengan perang dan takhayul, para ilmuwan Islam sudah mendiskusikan astronomi, kedokteran, matematika, dan filsafat. Kitab Al-Qanun fi al-Tibb karya Ibnu Sina menjadi rujukan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17. Itulah puncak peradaban literasi Islam. Lalu, di Mana Kita Hari Ini? Sekarang, cepat lompat ke abad ke-21. Kita hidup di zaman yang oleh banyak orang disebut sebagai era informasi. Setiap detik, miliaran data berseliweran di internet. Dalam genggaman tangan, kita bisa mengakses jutaan buku, jurnal ilmiah, dan artikel. Fasilitas yang tidak pernah terbayangkan oleh Al-Khawarizmi atau Ibnu Sina. Namun, ironisnya, negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim justru menempati peringkat bawah dalam hal literasi dan riset. Menurut UNESCO, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan yakni hanya 0,001%. Hal ini berarti, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Sedangkat survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% penduduk Indonesia yang rajin membaca buku. Angka ini menunjukkan tingkat minat literasi yang rendah di kalangan masyarakat. Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Lebih parah lagi, kita terjebak dalam budaya post-truth (pasca-kebenaran) &nbsp;dan hoaks. post-truth adalah era di mana fakta objektif kalah pengaruh dibandingkan daya tarik emosi dan keyakinan pribadi. Dalam kondisi ini, kebohongan yang diulang-ulang di media sosial sering kali diterima sebagai fakta nyata. Informasi keagamaan sering dikonsumsi tanpa verifikasi sumber. Orang lebih percaya pada status WhatsApp atau video TikTok daripada kitab kuning atau jurnal ilmiah. Jangankan menulis buku, membaca buku saja -bagi sebagian besar orang- sudah terasa berat. Bertemu dengan Para Ilmuwan Islam Coba bayangkan! Kamu tiba-tiba diangkut ke masa lalu, ke perpustakaan Baghdad pada abad ke-9 M. Di hadapanmu duduk Al-Khawarizmi, sedang menulis rumus aljabar di atas lembaran papirus. Di pojok ruangan, Ibnu Sina menyusun bab baru untuk Al-Qanun. Sementara di dekat jendela, Al-Ghazali merenung, menyusun argumentasi filsafatnya. Mereka melihatmu. Al-Khawarizmi bertanya dengan ramah, \u201cSaudaraku dari abad kelima belas Hijriah, bagaimana kabar dunia kalian? Kami dengar kalian punya kotak ajaib bernama internet, yang bisa memuat seluruh perpustakaan. Sungguh nikmat yang tak terbayangkan oleh kami.\u201d Kau tersenyum, tapi senyummu getir. \u201cJujur saja, Wahai Guru&#8230; aku lebih sering membuka media sosial daripada membaca. Aku punya ribuan e-book di ponsel, tapi belum satupun yang selesai kubaca tahun ini.\u201d Ibnu Sina mengerutkan dahi. \u201cApa yang kau lakukan dengan semua waktu yang Allah berikan? Kami dulu berjalan kaki bermil-mil hanya untuk mencari satu manuskrip. Kalian memiliki segalanya dalam genggaman, namun memilih untuk menyia-nyiakannya.\u201d Al-Ghazali yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara. Suaranya lembut tapi menusuk. \u201cIlmu itu cahaya. Tapi cahaya tidak akan masuk ke hati yang dipenuhi kemalasan dan hiburan. Kau punya akses, wahai anak muda, tapi kau kehilangan haus ilmu.\u201d Lalu mereka semua menatapmu. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kekecewaan yang dalam. Dan pertanyaan terakhir meluncur dari bibir Al-Khawarizmi: \u201cApa yang sudah kau sumbangkan untuk peradaban, wahai saudaraku?\u201d* Saatnya Introspeksi Pertanyaan itu\u2014mungkin itulah yang harus kita renungkan di tahun baru Hijriah kali ini. Kita tidak perlu menjadi ilmuwan besar untuk berkontribusi. Cukup dengan memulai dari hal kecil. Satu buku per bulan, satu catatan reflektif setiap minggu, membudayakan diskusi ilmiah di majelis tongkrongan, tidak langsung percaya pada setiap informasi yang diterima, tetapi mengecek sumbernya. Kita bisa memaknai hijrah secara personal: berhijrah dari malas membaca menjadi rajin menulis, dari konsumen informasi menjadi produsen ilmu, dari sekadar ikut-ikutan menjadi pribadi yang kritis dan berpengetahuan. Tantangan untuk 1448 Hijriah Akankah tahun ini menjadi tahun kemajuan atau kemerosotan dalam literasi dan keilmuan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri. Aku ingin mengajakmu untuk memulai satu gerakan sederhana. Bacalah satu buku dalam sebulan, tulis resensinya, bagikan di media sosial (IG,Tiktok,X dll). Jadikan tahun 1448 H sebagai tahun kebangkitan bacamu. Selamat tahun baru Islam 1448 Hijriah. Semoga di tahun ini, kita menjadi pribadi yang lebih tercerahkan.<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":2754,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_surecart_dashboard_logo_width":"180px","_surecart_dashboard_show_logo":true,"_surecart_dashboard_navigation_orders":true,"_surecart_dashboard_navigation_invoices":true,"_surecart_dashboard_navigation_subscriptions":true,"_surecart_dashboard_navigation_downloads":true,"_surecart_dashboard_navigation_billing":true,"_surecart_dashboard_navigation_account":true,"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-2752","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2752","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2752"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2755,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2752\/revisions\/2755"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2754"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2752"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2752"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2752"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}