{"id":2614,"date":"2026-05-31T12:04:43","date_gmt":"2026-05-31T12:04:43","guid":{"rendered":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/?p=2614"},"modified":"2026-05-31T12:04:46","modified_gmt":"2026-05-31T12:04:46","slug":"membelah-lintas-waktu-napas-panjang-liter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/?p=2614","title":{"rendered":"Membelah Lintas Waktu:                                                                                                                                                               Napas Panjang Literasi dari Abad ke-18"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ChatGPT-Image-May-31-2026-07_03_38-PM-1024x683.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2617\" srcset=\"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ChatGPT-Image-May-31-2026-07_03_38-PM-1024x683.png 1024w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ChatGPT-Image-May-31-2026-07_03_38-PM-300x200.png 300w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ChatGPT-Image-May-31-2026-07_03_38-PM-768x512.png 768w, https:\/\/perpustakaandalwa.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ChatGPT-Image-May-31-2026-07_03_38-PM.png 1536w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Written by: <\/em>Muhammad. S. Qushayyi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Ternyata Instansi yang pertama kali mendirikan perpusnas bukan dari orang pribumi melainkan sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara?!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada tahun 1778 sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen &nbsp;&nbsp;memiliki koleksi dan perpustakaan di Batavia, atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Jakarta. Dari perpustakaan ini lah berangkatnya perpusnas yang sekarang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebelum kita lanjut, ada bagusnya kita mengenal singkat tentang instansi ini. Pendiri <em>Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen<\/em> (BGKW), yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Indonesia, adalah Jacob Cornelis Matthieu Radermacher seorang naturalis berbakat dan berpengaruh di tanah jajahan negaranya. Instansi atau kelompok yang didirikan di Batavia pada 24 April 1778 ini adalah kelompok cendikiawan bangsa naturalis dan bangsa pribumi yang&nbsp; memiliki tujuan untuk memajukan penelitian pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Mereka memiliki semboyan yang mereka junjung tinggi yang di sebut dengan \u201c<em>Ten Nutte van het Algemeen<\/em>&#8221; yang berarti &#8220;Untuk Kepentingan Umum&#8221;. Dengan semboyan ini lah mereka tumbuh dengan pengaruh besar bagi bangsa tanah jajahan. Dan dengan ini juga mereka berkembang menjadi sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal perpustakaan dan museum nasional Indonesia atau Museum Gajah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan kemudian bersamaan dengan merdekanya bumi pertiwi ini berakhirnya kelompok tersebut. Lebih tepatnya pada tepatnya pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan kemudian institusi bersejarah ini diserahkan kepada pemerintahan NKRI dan koleksinya dijadikan sebagai museum nasional seperti yang kita lihat sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lantas apa peran kelompok ini dalam dunia kepustakawanan dan kearsipan Indonesia? <em>Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen <\/em>menjadi pelopor dan peletak batu pertama perpustakaan nasional republik Indonesia (Perpusnas). Dengan perpustakaan pertama yang mereka dirikan pada abad ke-18 menjadi Langkah awal terkumpulnya koleksi naskah kuno dan literatur yang kemudian di lestarikan dan di kembangkan oleh badan perpustakaan nasional republik Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lantas pula apakah <em>Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen <\/em>berhak di sebut sebagai pendiri perpusnas? Tidak, akan tetapi mereka berhak di sebut sebagai pelopor pengumpulan koleksi naskah atau penyedia fondasi fisik bacaan di NKRI.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tanggal 17 Mei pada tahun 1980 merujuk pada awal pencanangan berdirinya perpustakaan nasional yang merupakan Lembaga yang menjadi symbol penting pengelolaan pengetahuan dan perkembangan kebudayaan serta literatur bangsa Indonesia. Pertama didirikan dan di resmikan pada tanggal itu oleh Dr. Daoed Joesoef selaku menteri Pendidikan dan kebudayaan tahun 1978-1983.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melalui surat dari kementerian Pendidikan dan kebudayaan No. 0164\/0\/1980, Dr. Daoed Joesoef menggabungkan 4 perpustakaan nasional yang berdiri di bawah direktorat jenderal kebudayaan menjadi sebuah kesatuan :<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8211; &nbsp;Perpustakaan Museum Nasional (berdiri sejak 1778)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8211; Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial (berdiri sejak 1920)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8211; Perpustakaan Negara Jakarta (berdiri sejak 1950)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8211; Kantor Bibliografi Nasional (berdiri sejak 1953)&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Dengan tujuan memperluas akses literatur, manuskrip kuno, dan dokumen arsip sejarah negara, serta agar dapat di lestarikan dan dikelola di bawah Lembaga nasional yang profesional.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu rampungnya penyatuan fisik Lembaga perpusnas pada Januari tahun 1981.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kemudian 22 tahun setelahnya tanggal 17 Mei mendapat julukan dan makna baru. Abdul Malik Fadjar, menteri Pendidikan nasional kabinet gotong royong tahun 2001-2004&nbsp; menggagas harbuknas (hari buku nasional).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada mulanya hari buku nasional dirayakan dengan adanya pesta literasi di perpusda setempat secara sederhana. Namun seiring berkembangnnya zaman, perayaan ini menjadi lebih modern dan fresh. Di isi dengan adanya bazar buku, pameran, dan acara perlombaan tergantung Lembaga yang mengadakannya. Bahkan beberapa instansi ada yang mengadakan seminar literasi dengan mengundang pemateri yang berpengalaman dalam bidang literasi dan kepenulisan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan tujuan Abdul Malik Fadjar menggagas harbuknas ini dengan tujuan meningkatkan minat literasi lintas generasi. Karena literasi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan insan pertiwi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&nbsp;Ust. Makki Lazuardi. M.Pd menyebutkan dalam seminar beliau bahwa manfaat literasi sangatlah tak terhingga. Dan beberapa diantaranya adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Dapat meningkatkan daya kritis<\/li>\n\n\n\n<li>Dapat menguatkan hafalan<\/li>\n\n\n\n<li>Dapat mengembangkan keterampilan menulis dan menalar sesuatu<\/li>\n\n\n\n<li>Dapat meningkatkan skill dalam berbahasa<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan diantaranya yang paling memukau adalah dapat membelah lintas waktu dan tempat. dengan tersebarnya manuskrip-manuskrip, pembaca dapat menyerap wawasan serta keilmuan sang penulis meskipun terpisah jarak dan waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu tujuan dari peringatan Hari Buku Nasional ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemar membaca dan memiliki literasi yang tinggi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa serta meningkatkan penghargaan terhadap profesi penulis, penerbit, dan juga buku itu sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maka peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei akhirnya bukan sekadar seremonial belaka. Ia adalah sebuah estafet peradaban. Jika di abad ke-18 sebuah kelompok ilmuwan kuno bisa memulai fondasi literasi dengan semboyan &#8216;Untuk Kepentingan Umum&#8217;, maka hari ini, di era digital yang serbacepat, tugas kita adalah menjaga api tersebut agar tidak padam. Membaca\u2014seperti yang dikatakan Ust. Makki Lazuardi\u2014adalah <em>\u2018mukjizat<\/em>\u2019 yang membuat kita bisa membelah lintas waktu dan ruang, menyerap kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>sumber: <\/em><em><u>Kompas.com<\/u><\/em><em>, <u>Wikipedia<\/u>, P<u>erpustakaan Universitas Brawijaya<\/u>, <u>Pusdiklat perpusnas<\/u>, <u>detik.com<\/u>.<\/em><em> <\/em>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Written by: Muhammad. S. Qushayyi Ternyata Instansi yang pertama kali mendirikan perpusnas bukan dari orang pribumi melainkan sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara?! &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada tahun 1778 sebuah kelompok pengetahuan pertama di Asia Tenggara bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen &nbsp;&nbsp;memiliki koleksi dan perpustakaan di Batavia, atau yang sekarang di kenal dengan sebutan Jakarta. Dari perpustakaan ini lah berangkatnya perpusnas yang sekarang.&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sebelum kita lanjut, ada bagusnya kita mengenal singkat tentang instansi ini. Pendiri Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BGKW), yang merupakan cikal bakal Museum Nasional Indonesia, adalah Jacob Cornelis Matthieu Radermacher seorang naturalis berbakat dan berpengaruh di tanah jajahan negaranya. Instansi atau kelompok yang didirikan di Batavia pada 24 April 1778 ini adalah kelompok cendikiawan bangsa naturalis dan bangsa pribumi yang&nbsp; memiliki tujuan untuk memajukan penelitian pengetahuan dan kebudayaan khususnya yang berkaitan dengan Hindia Belanda. &nbsp;Mereka memiliki semboyan yang mereka junjung tinggi yang di sebut dengan \u201cTen Nutte van het Algemeen&#8221; yang berarti &#8220;Untuk Kepentingan Umum&#8221;. Dengan semboyan ini lah mereka tumbuh dengan pengaruh besar bagi bangsa tanah jajahan. Dan dengan ini juga mereka berkembang menjadi sebuah kelompok yang menjadi cikal bakal perpustakaan dan museum nasional Indonesia atau Museum Gajah. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan kemudian bersamaan dengan merdekanya bumi pertiwi ini berakhirnya kelompok tersebut. Lebih tepatnya pada tepatnya pada 26 Januari 1950, lembaga ini diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Dan kemudian institusi bersejarah ini diserahkan kepada pemerintahan NKRI dan koleksinya dijadikan sebagai museum nasional seperti yang kita lihat sekarang. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lantas apa peran kelompok ini dalam dunia kepustakawanan dan kearsipan Indonesia? Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen menjadi pelopor dan peletak batu pertama perpustakaan nasional republik Indonesia (Perpusnas). Dengan perpustakaan pertama yang mereka dirikan pada abad ke-18 menjadi Langkah awal terkumpulnya koleksi naskah kuno dan literatur yang kemudian di lestarikan dan di kembangkan oleh badan perpustakaan nasional republik Indonesia. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lantas pula apakah Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berhak di sebut sebagai pendiri perpusnas? Tidak, akan tetapi mereka berhak di sebut sebagai pelopor pengumpulan koleksi naskah atau penyedia fondasi fisik bacaan di NKRI. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tanggal 17 Mei pada tahun 1980 merujuk pada awal pencanangan berdirinya perpustakaan nasional yang merupakan Lembaga yang menjadi symbol penting pengelolaan pengetahuan dan perkembangan kebudayaan serta literatur bangsa Indonesia. Pertama didirikan dan di resmikan pada tanggal itu oleh Dr. Daoed Joesoef selaku menteri Pendidikan dan kebudayaan tahun 1978-1983. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Melalui surat dari kementerian Pendidikan dan kebudayaan No. 0164\/0\/1980, Dr. Daoed Joesoef menggabungkan 4 perpustakaan nasional yang berdiri di bawah direktorat jenderal kebudayaan menjadi sebuah kesatuan : &#8211; &nbsp;Perpustakaan Museum Nasional (berdiri sejak 1778) &#8211; Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial (berdiri sejak 1920) &#8211; Perpustakaan Negara Jakarta (berdiri sejak 1950) &#8211; Kantor Bibliografi Nasional (berdiri sejak 1953)&nbsp; &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; &nbsp;Dengan tujuan memperluas akses literatur, manuskrip kuno, dan dokumen arsip sejarah negara, serta agar dapat di lestarikan dan dikelola di bawah Lembaga nasional yang profesional. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu rampungnya penyatuan fisik Lembaga perpusnas pada Januari tahun 1981. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kemudian 22 tahun setelahnya tanggal 17 Mei mendapat julukan dan makna baru. Abdul Malik Fadjar, menteri Pendidikan nasional kabinet gotong royong tahun 2001-2004&nbsp; menggagas harbuknas (hari buku nasional). &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada mulanya hari buku nasional dirayakan dengan adanya pesta literasi di perpusda setempat secara sederhana. Namun seiring berkembangnnya zaman, perayaan ini menjadi lebih modern dan fresh. Di isi dengan adanya bazar buku, pameran, dan acara perlombaan tergantung Lembaga yang mengadakannya. Bahkan beberapa instansi ada yang mengadakan seminar literasi dengan mengundang pemateri yang berpengalaman dalam bidang literasi dan kepenulisan. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dan tujuan Abdul Malik Fadjar menggagas harbuknas ini dengan tujuan meningkatkan minat literasi lintas generasi. Karena literasi merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan insan pertiwi. &nbsp;Ust. Makki Lazuardi. M.Pd menyebutkan dalam seminar beliau bahwa manfaat literasi sangatlah tak terhingga. Dan beberapa diantaranya adalah: Dan diantaranya yang paling memukau adalah dapat membelah lintas waktu dan tempat. dengan tersebarnya manuskrip-manuskrip, pembaca dapat menyerap wawasan serta keilmuan sang penulis meskipun terpisah jarak dan waktu. Selain itu tujuan dari peringatan Hari Buku Nasional ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia sehingga dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang gemar membaca dan memiliki literasi yang tinggi. Selain itu, peringatan ini juga bertujuan untuk mempromosikan buku-buku karya anak bangsa serta meningkatkan penghargaan terhadap profesi penulis, penerbit, dan juga buku itu sendiri. Maka peringatan Hari Buku Nasional setiap tanggal 17 Mei akhirnya bukan sekadar seremonial belaka. Ia adalah sebuah estafet peradaban. Jika di abad ke-18 sebuah kelompok ilmuwan kuno bisa memulai fondasi literasi dengan semboyan &#8216;Untuk Kepentingan Umum&#8217;, maka hari ini, di era digital yang serbacepat, tugas kita adalah menjaga api tersebut agar tidak padam. Membaca\u2014seperti yang dikatakan Ust. Makki Lazuardi\u2014adalah \u2018mukjizat\u2019 yang membuat kita bisa membelah lintas waktu dan ruang, menyerap kebijaksanaan masa lalu untuk membangun masa depan. sumber: Kompas.com, Wikipedia, Perpustakaan Universitas Brawijaya, Pusdiklat perpusnas, detik.com. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":2615,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_surecart_dashboard_logo_width":"180px","_surecart_dashboard_show_logo":true,"_surecart_dashboard_navigation_orders":true,"_surecart_dashboard_navigation_invoices":true,"_surecart_dashboard_navigation_subscriptions":true,"_surecart_dashboard_navigation_downloads":true,"_surecart_dashboard_navigation_billing":true,"_surecart_dashboard_navigation_account":true,"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"disabled","footer-sml-layout":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-2614","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2614","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2614"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2614\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2618,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2614\/revisions\/2618"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2615"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2614"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2614"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perpustakaandalwa.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2614"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}